24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teman Tidak Makan Teman

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 16, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tubuh adalah kuburan.

Itulah kesimpulan dari sebuah penjelasan tentang tubuh di suatu tempat yang tidak akan saya sebutkan namanya. Yang memberikan penjelasan itu, juga tidak saya beritahu namanya disini. Barangkali, jika membaca tulisan ini, beberapa pembaca akan membayangkan satu atau dua orang. Itu terserah. Saya tidak punya hak untuk melarang. Sebagaimana juga saya tidak punya hak untuk mengarahkan penilaian-penilaian yang lahir atas Cangak seperti saya. Jadi, tidak ada masalah dengan itu.

Bagi yang masih bertanya-tanya, akan saya jelaskan kenapa tubuh disebut olehnya seperti kuburan. Bagi yang sudah tahu dan paham, ini hanya pengulangan. Pengulangan itu penting juga, gunanya untuk mengingat-ingat.

Tubuh disebut kuburan karena tubuh inilah tempat segala macam bangkai. Ada bangkai babi guling, ada bangkai sapi yang sudah dilawar, ada bangkai ikan pindang yang telah diisi sambel matah, ada juga bangkai daun kelor yang dicampur celengis.Intinya, bangkai itu bukan hanya dari hewan tapi juga tumbuhan. Di dalam tubuhlah semua bangkai itu berkumpul dan terurai.

Bangkai-bangkai yang terurai itu kemudian menjadi darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir itu, adalah salah satu penyebab tubuh bisa hidup. Artinya, tubuh hidup karena bangkai. Karena tubuh hidup dari bangkai, maka ia dipengaruhi oleh bangkai-bangkai yang menghidupinya. Bagi yang suka makan babi guling, maka babi guling itu yang mempengaruhinya. Biasanya jika makan babi, mata jadi cepat ngantuk. Apalagi ditambah tuak bertuang-tuang.

Sampai disana, saya akhiri dulu tentang tuak bertuang-tuang. Karena hanya dengan memikirkannya saja, saya sudah mabuk. Maklumlah, saya ini jenis burung yang tidak suka minum-minuman sejenis itu. Terkecuali dipaksa dan gratis.

Makan dan minum memang perlu diatur agar tidak sembarangan. Karena makanan dan minuman mempengaruhi tubuh. Lapisan tubuh yang terbuat dari makanan dan minuman adalah lapisan paling luar. Konon ada lima lapisan tubuh. Dan kelima lapisan itu memiliki fungsinya masing-masing. Mari kita bicarakan nanti saja lapisan-lapisan tubuh itu. Soalnya, membicarakan yang begitu-begitu disini, takutnya nanti dikiranya saya ahli agama. Kalau sudah dikira ahli, disuruhlah saya berdharma wacana kemana-kemana.

Suara saya akan terdengar di radio-radio. Wajah saya akan dilihat di tipi-tipi. Kalau sudah begitu, terkenallah saya ini. Kalau sudah terkenal, banyak orang yang akan mendekat dan ingin tahu latar belakang. Padahal sesungguhnya saya bukan ahli. Apalagi ahlinya ahli.Kalau terkenal ada ruginya juga. Soalnya kalau terkenal, akan banyak orang yang percaya dengan kata-kata saya. Itu tidak bagus. Karena makin banyak yang percaya, makin banyak pula yang tertipu.

Dari pada menipu, lebih baik kita belajar dulu. Pada tulisan kali ini, kita akan membicarakan tentang makanan. Makanan dalam paragraf di atas, kesimpulannya adalah bangkai. Terdengar kasar memang, tapi itu kenyataan. Kenyataan lainnya adalah bahwa kehidupan ini ada karena adanya kematian. Jadi berterimakasihlah pada yang mati-mati itu, karena mereka kita bisa hidup.

Manusia banyak berterimakasih kepada alam. Dari langit turunlah hujan, karenanya tanah jadi basah dan subur. Tanah yang subur menyebabkan tumbuhan bisa hidup. Tumbuhan rumput yang hidup itu dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan. Hewan pemakan tumbuhan dimakan oleh hewan pemakan daging. Hewan pemakan daging dan pemakan tumbuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan dimakan oleh manusia. Maka kepada merekalah manusia mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara, salah satunya adalah upacara.

Pepohonan menyediakan makanan bagi manusia, maka manusia mengucapkan terimakasih kepadanya. Para hewan juga menyediakan makanan bagi manusia, dengan cara yang serupa manusia kemudian berterimakasih. Matahari menyediakan sumber cahaya, dan cahaya matahari adalah energi. Dari energi itu tumbuhan, hewan dan manusia bisa hidup. Maka kepadanya juga diucapkan terimakasih.

Begitulah terus-menerus, manusia berterimakasih kepada alam dan kepada dirinya. Terimakasih kepada diri, bisa berupa ucapan selamat ulang tahun atas hari lahir. Ada juga yang mengucapkannya enam bulan sekali. Tergantung keinginan. Tapi jika manusia mati, tidak ada yang mengucapkan selamat mati. Padahal konon, mati itu sama dengan pulang. Apa yang lebih indah dari pada pulang dan istirahat?

Begitulah tumbuhan dan hewan menjadi makanan dan sekaligus salah satu sumber kehidupan manusia. Meskipun karena makanan dan minuman, hidup itu bisa ada. Bukan berarti orang boleh makan dan minum sesuka hatinya. Ada jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan sembarangan. Contohnya kacang-kacangan, nanti asam urat. Daging dan lemak terlalu banyak juga tidak boleh, nanti kolesterol. Itu berarti, meskipun boleh dimakan, tetap dalam batas-batas tertentu. Itu semua untuk kesehatan.

Ada juga minuman berupa ramuan yang disebut loloh. Loloh itu baik diminum jika panas dalam. Contohnya adalah loloh samiroto atau loloh sembung. Jika keduanya diminum dalam takaran yang pas maka akan menjadi obat. Sedangkan jika diminum banyak-banyak, tidak baiknya karena tensi turun dan kepala jadi puyeng. Mirip orang mabuk karena tuak.

Tidak hanya kesehatan yang menjadi salah satu faktor makanan dan minuman itu mesti diatur. Makanan dan minuman yang bisa dinikmati, juga tergantung dari perilaku hidup. Ada yang melakukan janji diri tidak akan makan daging. Ada yang berjanji tidak makan garam. Bahkan ada juga yang berjanji tidak makan-makan. Itu terserah yang berjanji, pasti ada suatu hal yang melatarbelakangi janji itu dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. Yang tidak berjanji, tidak boleh sinis.

Sama seperti saya, Cangak yang sudah berjanji tidak makan ikan. Bagi saya, kini ikan tidak saya lihat sebagai ikan semata. Tetapi tubuh yang berjiwa. Saya punya jiwa dan ikan-ikan juga punya jiwa. Tidaklah sesuai dengan norma jika saya memakan sesama yang berjiwa. Tentu saja terkecuali saya terpaksa. Pemaksaan itu bisa jadi oleh situasi, keadaan, kondisi dan sebagainya yang lain.

Cara melihat makanan, juga sama dengan melihat lawan jenis. Karena saya lelaki, maka saya akan memberikan contoh makanan seperti wanita. Bukan berarti wanita adalah makanan, nanti saya dimarahi oleh kawan-kawan yang suka membela. Ucapan sastranya begini: bagi seorang pemuda, wanita adalah pasangan hidupnya yang harus dicintai. Bagi seekor serigala, wanita adalah makanan. Sedangkan bagi seorang yang sudah berjanji untuk berlaku suci, seorang wanita adalah anak. Contoh itu bisa juga dibalik, dengan merubah kata wanita menjadi pria.

Jadi satu objek bisa berarti berlainan tergantung yang memandang. Wanita bagi pemuda adalah cinta. Bagi serigala adalah makanan. Bagi orang bijaksana, ia adalah anak. Menarik juga ungkapan bahwa wanita adalah anak bagi seorang yang bijaksana. Mungkin karena anak, orang tua tidak boleh mengawininya. Bagaimana kalau anaknya mau dikawini? Wah, maaf saya tidak bisa menjawab itu. Kasus seperti itu susah untuk diselesaikan. Sama seperti kasus apakah surga dan neraka itu ada?

Kalau menurut cerita, ada banyak yang mengatakan itu ada. Bagi yang belum percaya, salah satu jalan membuktikannya adalah dengan mati terlebih dahulu. Begitu logikanya. Karena mana mungkin orang belum mati bisa bercerita tentang kematian. Tapi, kalau membaca teks-teks Bali yang sedikit agak kuna, ada teks yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian, proses mati, bahkan ciri-cirinya. Silahkan tanyakan kepada yang tahu-tahu. Jangan pada yang pura-pura.

Mari kita lanjutkan pada makanan dan minuman. Dengan begitu, berarti makan dan minum itu perlu diatur. Wajarlah jika orang mengambil jalan kesucian, mulai menata makanan dan minumannya. Bagi mereka, ada banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Untuk tahu ini, ada buku-buku yang bisa dibaca contohnya adalah Wrati Sasana, Siwasasana, Purwaka Weda Buddha, dan mungkin ada lagi yang lain.

Ada satu teks bernama Aji Brata, yang mengatakan bahwa ada aturan hanya makan nasi satu kepal tiap-tiap purnama kasanga [kesembilan]. Brata itu dilakukan selama tiga kali purnama atau tiga tahun. Tujuannya adalah wajah cantik, ganteng dan merona. Juga kaya. Benar atau tidak, harus dialami dulu.

Di antara segala yang boleh dimakan itu, ada satu jenis yang tidak boleh dimakan bernama teman. Tentu saja teman tidak boleh dimakan. Jika teman dimakan, siapa lagi yang akan kita ajak berkeluh kesah tentang ini dan itu? Mungkin kalau sudah punya banyak teman, teman lama akan dimakan dengan lahap. Caranya? Oh, jangan tanya saya. Saya ini Cangak yang satya mitra. Artinya, saya ini setia pada teman.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri

Ajaran sastra tidak memperbolehkan teman makan teman. Teman yang memakan temannya sendiri disebut durmitra. Menurut sumbernya, ada tiga yang “kotor” di antara sewangsanya masing-masing. Di dalam wangsa burung, yang “kotor” adalah burung gagak. Di antara wangsa hewan, yang “kotor” adalah arddha bheka. Ardha bheka barangkali adalah keledai. Di antara wangsa pikiran, yang “kotor” adalah kemarahan. Sebab kemarahan menghilangkan kebijaksanaan dan rasa pemaaf. Dan di atas semua itu, yang paling “kotor” adalah ia yang durmitra.

Jadi begitulah kawan-kawan para ikan. Saya adalah Cangak yang sudah berjanji diri tidak akan makan sembarangan, apalagi makan ikan yang telah jadi teman. Saya sedang meniru-niru para bijaksana yang terlihat teduh dari pandangan mata dan sikap duduknya. Tidak mungkin saya akan menghianati janji diri itu.

Saya tidak mau disebut durmitra. Durmitra itu bukan teman, tapi pura-pura teman. Terus terang, setelah saya tinggalkan semua yang saya miliki untuk menjadi Cangak yang bijaksana, tidak ada lagi yang saya punya kecuali kesetiaan. [T]

Tags: lolohminuman zaman dulupersahabatanteman
Share65TweetSendShareSend
Previous Post

“Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Next Post

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co