20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siang Malam Berpikir Sendiri

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Saya ini Cangak yang tidak bisa menghentikan pikiran.

Susah sekali pikiran itu dihentikan. Saat saya ingin diam, malah dia yang berlari kesana-kemari. Lebih kejam lagi, si pikiran yang selalu saya bayangkan seperti macan itu mengoyak-ngoyak tubuh tanpa belas kasihan.

Jika boeng Chairil Anwar bilang “mampus kau dikoyak-koyak sepi”, saya malah mati dikoyak pikiran sendiri. Akibatnya, saya selalu berpikir tanpa kenal waktu. Ada yang sama begini?

Berpikir adalah kegiatan mulia, karena dengan berpikir maka aku ada. Begitu konon menurut filsuf pikiran. Jika kata-kata itu dibalik, maka jadinya akan begini. “Agar Aku tiada, maka jangan berpikir!” Memangnya siapa yang ingin meniadakan dirinya?

Oh jangan salah, tidak semua manusia di dunia ini ingin berada. Ada juga yang ingin tiada! Maksudnya bukan meniada karena mati, tapi menyembunyikan keberadaannya.

Agak sulit memang untuk dijelaskan. Tapi serius, memang ada yang begitu. Salah satunya Ida Pedanda Made Sidemen. Beliau berkata “idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun ne kanggo ring desa-desa”.

Kurang lebih terjemahannya begini “pikiranku kini, bersiap mayasa lacur, tiada miliki tanah sawah, tanah diri tanami, ilmu desa yang berguna di desa-desa.”

Bagian mayasa lacur tidak bisa saya terjemahkan dengan tepat. Itulah sebabnya saya biarkan begitu saja, agar dipikirkan oleh orang banyak. Oh iya, kata lacur dalam bahasa Bali bisa berarti miskin, juga bisa berarti mati. Ada beberapa kata kunci dalam geguritan Salampah Laku tadi: idep [pikiran], makinkin [bersiap-siap], dan mayasa lacur.

Ida Pedanda Made Sidemen, yang konon saat itu berumur 27 tahun, menyiapkan pikiran untuk mayasa lacur. Tapi lacur dalam arti yang manakah? Jika mayasa diibaratkan seperti perjalanan, maka lacur itulah tujuan. Lalu dimana asalnya? Bukankah asal dan tujuan adalah sejoli?

Jika tujuannya adalah miskin, bisa jadi asalnya adalah tidak miskin. Jika tujuannya adalah mati, maka asalnya adalah hidup. Hidup itulah keberadaan, mati itulah ketiadaan. Mati konon tidak usah dicari, karena mati sudah menyatu dengan manusia ketika baru lahir. Selain mati ada lagi yang menyatu, ia bernama suka, duka dan sakit. Jadi ada empat bekal manusia semasa hidup.

Jangan salah, yang tiap hari dirasakan oleh manusia bukan hanya suka duka. Manusia juga merasakan sakit tiap hari. Baru bangun terasa pegal, itu sakit. Duduk sebentar lalu keram, itu juga sakit. Di atas segalanya, ada sakit parah yang sulit diobati. Sakit itu bernama kebodohan. Lalu kapan manusia sehat? Mungkin kalau sudah tiada.

Sebelum benar-benar meniada, ada satu cara belajar untuk meniadakan diri. Pelajaran ini tidak ada kurikulumnya. Tapi tiap orang bisa melakukannya. Caranya adalah dengan bersembunyi. Kalau ada orang beramai-ramai ke laut, sembunyilah di gunung. Jika orang ramairamai ke gunung dan laut, sembunyilah di sungai. Jika orang ramai-ramai ke gunung, laut dan sungai, pergilah ke danau.

Jika orang ramai-ramai pergi ke semua tempat itu, maka sembunyilah pada diam. Jika orang ramai-ramai berdiam-diam, sembunyilah ke tempat gelap. Jika ke tempat gelap itu pula orang beramai-ramai maka sembunyilah dalam terang.

Ada beberapa sebutan untuk terang dalam bahasa Bali. Di antaranya adalah galang dan padang. Kata padang yang berarti terang, bisa dilihat pada kata galang apadang [terang benderang]. Jadi kalau di Bali ada tempat bernama padang, bisa jadi yang dimaksudnya bukanlah rumput tapi terang. Di Tabanan ada Pucak Padang Dawa. Di Pecatu ada pantai Padang-padang. Di Karangasem ada Padang Bai. Silahkan dicari lagi padang-padang yang lain.

Sebelum lupa, perlu juga saya katakan bahwa judul di atas itu adalah salah satu bagian dari geguritan Nengah Jimbaran karya Ida Cokorda Mantuk Ring Rana. Beliau adalah raja Badung yang melakukan puputan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Kata-kata “siang malam berpikir sendiri” membuat otak Cangak saya juga berpikir. Tapi tidak sama apa yang saya pikirkan dengan yang beliau pikirkan. Yang beliau pikirkan adalah “menjadi orang jaman sekarang”. Yang otak Cangak saya pikirkan adalah “menjadi Cangak jaman sekarang”.

Tentu saja berbeda, beliau adalah Raja sedangkan saya adalah Cangak. Perbedaan pikiran itu karena perbedaan visi-misi. Tapi perlu juga dipikirkan kembali, memangnya kenapa kalau “menjadi orang jaman sekarang?”. Jaman sekarang kan tidak perlu jalan kaki kalau ke Pura yang jaraknya 10 meter dari rumah. Cukup nyalakan mesin, dan gas. Sampailah di Pura.

Kata “sekarang” yang dimaksud Ida Cokorda Mantuk Ring Rana, tentulah tidak sama dengan kata “sekarang” yang kita maksudkan sekarang. Sekarang yang dimaksudkan Ida Cokorda adalah tahun 1903. Coba hitung, berapa selisih antara tahun 1903 dengan 2019. Selisih tahun itu menandakan maksud kata “sekarang” itu berbeda.

Perbedaannya adalah pada angka tahun. Barangkali ada yang sama, di tahun 1903 dengan 2019. Persamaannya adalah pada kegelisahan yang membuat kita berpikir-pikir siang dan malam. Penyebab rasa gelisah itu adalah kebodohan, ketidaktahuan. Kata Ida Cokorda “dari bodoh kuwatire”.

Ada banyak yang tidak kita tahu kan? Salah satu contoh hal yang tidak kita tahu dengan pasti adalah masa depan. Bagaimana masa depanmu nanti? Mungkin sekarang kita bisa menjawabnya dengan tenang, bahwa masa depan akan baik-baik saja.

Masa depan akan begitubegitu saja. Maksudnya, masa depan juga akan menjadi “sekarang”, lalu menjadi masa lalu. Yang kita sebut “sekarang” adalah masa depan di masa lalu. Yang kita maksudkan sekarang, adalah masa lalu di masa depan. Begitulah terus menerus, ada trilogi masa lalu-depan-sekarang.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening

Tentu saja saya sengaja tidak menulisnya linier pada pandangan umum. Orang akan mengatakan urutannya adalah masa lalu-sekarang-depan. Tapi jika belajar pada teks-teks kuna, urutannya tidak begitu. Urutannya adalah masa lalu-depan-sekarang. Bahasa kerennya atitanagata-wartamana.

Maka dari itulah, otak Cangak saya yang tidak berhenti berpikir ini selalu memikirmikirkan masa depan. Bagaimana jadinya nanti, jika telaga ini benar-benar kering? Bagaimana jadinya nanti nasib para ikan-ikan sodaraku? Bagaimana jadinya nanti bunga-bunga teratai yang mekar indah serupa kilau matamu?

Duhai sodara-sodaraku para ikan, pikirkanlah masa depan yang penuh kebahagiaan. Bayangkanlah suatu negara telaga yang maju, tempat anak cucu kita nanti hidup bersama. Mari mulai sekarang tunjukkan pada mereka, bahwa kita bisa menjadi leluhur yang menyediakan kebahagiaan bagi mereka. Jadi mari kita menyeberang!

Eitss… Tunggu dulu. Sebelum menyeberang, apa kalian bisa terbang? Jika tidak, mari saya bantu. Saya punya sayap yang kuat. Bisa menyeberangi tujuh samudera. Melewati tujuh langit. Membentang ke tujuh gunung. Dan yang paling penting, saya tahu kemana tujuan yang tepat.

Bukankah percuma punya sayap, jika tak tahu tujuan? Jadi pilihlah saya untuk mengentaskan penderitaan kalian sodara-sodaraku. Jika kalian sodaraku, memilih saya untuk menyeberangkan dari telaga kekeringan ini, niscaya kebahagiaan akan kalian dapatkan dalam genggaman.

Percayalan! Percayalah! Percayalah! [T]

Tags: berpikirChairil AnwarIda Pedanda Made Sidemenkemanusiaanrenungansastra
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Sudah Jelas, Penyebab Stroke Adalah Nasib

Next Post

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Generasi Petani 4.0 – Laku Tani Berbasis Aplikasi, Tinggal Unduh di Play Store

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co