16 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muka Gua

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 19, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Judul itu bukan bahasa gahol ala-ala. Muka itu wajah, gua itu goa. Artinya wajah yang terlihat seperti goa. Pastinya wajah goa itu terlihat gelap gulita, tidak terang benderang. Tidak ada lilin di sana, apalagi lampu pijar. Listrik belum ada, jadi gelap sekali. Hati-hati!

Bagi mereka yang melihatnya, bisa-bisa tersesat. Apalagi memandang matanya, bisa-bisa tidak tahu jalan pulang. Tapi antara tidak tahu dan tidak mau, sulit dibedakan. Meski keduanya berbeda, keduanya sama-sama tidak pulang.

Ini bukan tentang kecantikan dan ketamvanan. Ini tentang wajah-wajah goa. Sejujurnya, bukan juga tentang wajah yang hitam dan tidak putih merona seperti iklan-iklan. Kalau yang itu, tinggal bermodal beberapa rupiah dan beli sebanyak-banyaknya, usapkan pada wajah, diamkan beberapa menit, bilas, lalu ampelas. Jadilah wajah mulus tak bernoda. Yang lebih gampang lagi, install aplikasi edit foto lalu edit maksimal. Tapi, wajah goa bukan itu. Ini kasus lain.

Wajah goa adalah wajah-wajah yang tidak memahami bahasa. Segala fakta diputarbaliknya, digorengnya, dikukusnya, dibakarnya, sampai jadi abu, sampai jadi debu. Bagi mereka yang mendengarkan, pastilah kebingungan. Mana nyata mana bukan. Segalanya jadi nisbi.

Maaf kata nisbi harus dipakai kali ini, agar terlihat kalau saya adalah Cangak terpelajar. Bagi yang tidak mengerti, nanti tanyakan, akan saya jelaskan. Boleh juga lihat di kamus-kamus. Kata nisbi itu sengaja dipakai, agar pembaca tidak malas membeli kamus. Sekarang banyak yang memakai soroh istilah-istilah begitu. Saya hanya milu-milu.

Dengan demikian wajah saya tidak akan terlihat seperti goa. Malah sebaliknya, akan terlihat benderang karena terpancar segala ilmu yang sudah dipelajari. Banyak bahasa yang diketahui meski tidak mafhum betul. Para pendengar dan pembaca setia akan terkaget-kaget membaca dan mendengar bahasa yang saya gunakan. Sebelum mereka mengerti satu istilah asing yang saya pakai, saya sudah memakai istilah lainnya yang tidak kalah asingnya.

Itulah kekuatan bahasa, dia bias menjadikan yang ngomong terlihat sangat terpelajar, juga sebaliknya. Jika ada yang planga-plongo tidak mengerti, senangnya bukan main. Itu jadi semacam tanda bahwa dia menang dalam satu hal. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang khatam.

Kepada para sepuh yang tua dan tidak mengenyam pendidikan modern, jangan ngomong dengan bahasa gahoolbercampur-campur, apalagi menunjukkan teori-teori sosiologi modern. Menyebut-nyebut nama-nama besar kaum intelektual seperti Jan Nederveen Pieterse dan pendapatnya tentang tiga paradigm utama dalam teorisasi aspek kultural dari globalisasi. Lebih lagi kemudian menjelaskan ketiganya dengan bangga. Bahwa tiga paradigm ituialah tentang perbedaan, persatuan atau pembentukan dari kombinasi kultural global.

Pada gilirannya, jika para sepuh itu kemudian berbicara dalam bahasanya sendiri bukannya tidak mungkin, para sarjana generasi milenial akan terkagok-kagok gelagapan karena tidaks atu pun kata yang dimengerti. Awas saja jika tiba-tiba mereka membalasnya dengan matanjenan saat mereka makan. Atau mengatakan tabik, saat mereka melihat seseorang sedang makan tapi di saat yang sama harus pergi. Bukan telinga yang diserang, tapi langsung ke jantung dan otak pertahanan.

Satu lagi, jangan ketawa ketiwi melihat para sepuh itu tidak mengerti bagaimana mengukur tensi, mengukur panjang dengan penggaris, dan menghitung dengan kalkulator. Saya serius memperingatkan. Sebab, para sepuh itu akan fasih menghitung denyut jantung hanya dengan melihat urat mata orang sakit, terutama warnanya.

Mereka mengukur panjang dengan telapak tangan, lalu menyebut istilah-istilah seperti anyari, aguli, tri adnyana, caturangga, sigrapramana, panca brahma sandi, sangga, astha, dan seterusnya. Mereka menghitung kapan saatnya harus melakukan upacara di Pura tertentu hanya dengan menghitung ruas jari tangannya. Bayangkan ruas-ruas jari dalam satu tangan, harus mewakili lima hari [pancawara], tujuh hari [saptawara], tiga puluh minggu [30 jenis wuku]. Jika mereka terluka dan berdarah, diobatinya dengan ludah, bukan upload-upload dengan caption syedih bercampur bangga.

Para sepuh yang tidak belajar banyak bahasa itu, wajahnya tidak seperti goa. Bahkan wajahnya terlihat polos dan lugu. Mereka jujur seperti bayi. Meski hasil panen tidak selalu bagus, mereka tetap menanam-menanam-menanam. Mereka tetap bersukur-bersukur-bersukur. Mana ada penyesalan dalam benak mereka. Meski kecewa, tapi tidak lantas mengurungkan niatnya untuk menanam-menanam-menanam, bersukur-bersukur-bersukur. Begitu terus, terus begitu.

Selain tidak mengetahui bahasa, ada lagi cirri pemilik wajah goa. Dia adalah yang tidak pernah makan sirih. Begitu konon katanya, jika tidak pernah makan sirih, maka disebutlah berwajah goa. Sudahkah hadirin sekalian makan sirih? Atau malah tidak tahu sirih?

Saya yakin sodara-sodara tahu sirih. Tetapi mengetahui, beda dengan memakan. Memakannya memang tidak mudah bagi yang belum terbiasa. Ketahuilah, memakan sirih itu ada etikanya. Ada juga pelengkap lainnya jika ingin makan sirih. Namanya gambir, pamor, dan jangan lupa buah pinang. Pamor dioles pada daun sirih, isi serpihan gambir, lengkapi dengan potongan buah pinang. Melipatnya pun musti terlihat bagus, tidak hanya asal lipat.

Setelah rapih, lalu kunyah. Gigitlah dengan gigi depan terlebih dahulu, agar daun-daunnya terpotong bagus. Setelah itu kunyah-kunyah lagi agar dekdek. Awalnya akan terasa aneh, kadang juga bias terasa panas. Tenggorokan terasa panas sampai ke telinga. Air liur jadi merah, seperti darah. Setelah dirasakan semuanya hancur, sekarang saatnya memilih, antara mengeluarkan ampasnya atau menelan. Jika tidak percaya, cobalah. Jadi sodara-sodara tidak lagi disebut berwajah goa.

Apa hubungan antara sirih dan wajah goa? Jadi begini, sirih itu dalam bahasa Bali disebut base. Base memiliki hubungan kekerabatan dengan Basa. Basa bias berarti dua, yaitu bumbu dan bahasa. Bumbu dan bahasa sama-sama memiliki rasa. Jadi bagi yang belum pernah makan Base, disamakan dengan belum pernah merasakan rasa. Yang tidak mengetahui rasa, disebut berwajah goa, alias tidak punya perasaan.

Penjelasan belum selesai. Ada lagi ciri-ciri bagi mereka yang disebut berwajah goa. Ciri yang terakhir ini adalah yang paling bias membuat para pembaca dan pendengar manggut-manggut. Mirip kambing ngantuk, tapi saya yakin tidak ada yang mau disebut kambing. Apalagi kambing hitam.

Cirinya yang ketiga adalah, mereka tidak berilmu. Bagi yang tidak berilmu, disebutlah berwajah goa. Wajah goa itu sangat pekat, di dalamnya yang hidup hanya ular. Ular itu siap membelit dan menggigit. Racunnya akan segera menyebar ke seluruh pembuluh darah. Bagi yang telah terlanjur teracuni, mereka akan segera lupa diri. Lupa diri itulah yang bias membuatnya jatuh tidak karuan.

Ular yang bersembunyi padawajah goa itu, tidak mudah ditangkap apalagi dijinakkan. Sebab ular sejenis itu, pastilah ular yang canggih. Ular itu bias menghapalkan berbagai jenis mantra sakti, yang bias membuat targetnya lupa diri dan menyerahkan segalanya tanpa syarat. Ular itu juga bias mengancam korbannya. Jika tidak menuruti keinginannya akan disikat habis sampai ke akar-akarnya.

Di antara semua wajah goa dengan ular di dalamnya, yang paling berbahaya adalah wajah goa yang dihias dengan intan permata, emas, sutra, dan juga mantra-mantra. Disulapnya goa itu menjadi tempat belajar shastra katanya. Yang belajar sungguh-sungguh, tidak ngeh kalau mulut ular selalu menganga.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati

Sesungguhnya, bagi mereka yang berwajah goa dan tidak mengetahui rasa, jika mendengar ada yang membicarakan shastra, tidak ada kenikmatan dari dalam benaknya. Hatinya akan panas, sebab dibakar oleh karmanya sendiri. Tidak ada ketenteraman dalam hidupnya, karena tidak ada satu pun dilakukannya dengan jujur.

Wahai ikan-ikan, kinilah saatnya memperhatikan wajah-wajah sekitar. Mana wajah goa mana wajah bulan. Tapi hati-hati, karena topeng bias dibeli di mana-mana dengan murah. [T]

Tags: filosofifilsafatrenungansastra
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Architecture Week 2019 Ditutup Pemutaran Film dan Musik Emoni Bali

Next Post

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails
Next Post
PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co