2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aturan Mati: Jangan Mati Sembarangan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan kira segala urusan selesai jika napas lenyap dari tubuh. Jelas itu tidak mungkin terjadi. Setelahnya akan ada urusan administrasi yang musti diselesaikan, baik yang dapat dilihat dengan mata terbuka, atau tertutup.

Urusan yang bisa dilihat dengan mata terbuka seperti misalnya tentang bagaimana tubuh akan diperlakukan kemudian, apakah dibakar, dikubur, dicincang, atau dibagaimanakan. Yang mengurus semua itu, tentu mereka yang masih hidup. Belum pernah saya melihat atau mendengar ada yang mengubur mayatnya sendiri. Tapi kalau mendengar cerita tentang ada yang membakar mayatnya sendiri, pernah. Itu dalam sebuah kakawin.

Ada juga urusan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mengandalkan mata terbuka, misalnya tentang perjalanan ruh, itu jelas sangat personal. Ada banyak cerita yang bisa dipercaya tentang perjalanan ruh.  Cerita itu menyediakan jawaban, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam; Kemanakah ruh itu pergi? Maaf, pertanyaan saya ulangi, kemanakah ruh itu kembali?

Kedua jenis pertanyaan tadi sangat mungkin ditanyakan kepada sembarang makhluk. Jawabannya pun akan beraneka ragam. Ada yang menjawab begini, ada yang menjawab begitu. Begini dan begitunya jawaban, tergantung pada apa yang diyakini oleh pemberi jawaban. Karena sudah menjadi keyakinan, maka sulitlah untuk menolak jika diberikan sudut pandang berbeda dari yang diyakininya.

Contoh keyakinan yang sulit ditentang adalah tentang Tuhan. Bagi yang terlanjur meyakini bahwa Tuhan itu Maha Segala-gala-gala-galanya, akan sulit melepaskan keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi yang terlanjur meyakini, dia bisa saja pura-pura tidak yakin. Caranya adalah dengan memberikan kritik ini dan itu kepada yang dianggapnya berke-Tuhan-an. Upacara itu begini, upacara ini begitu. Kebenaran seolah menjadi miliknya sendiri di dunia antah berantah ini. Konon Tuhan sudah ia matikan!

Jika Tuhan sudah mati, apa yang bisa ia yakini? Menghilangkan satu keyakinan, akan menumbuhkan keyakinan yang lain. Jika Tuhan yang Segala Maha itu sudah tiada, lalu dicari-carilah jawaban atas segala penyebab. Contohnya adalah penyebab tubuh bisa hidup. Menurut teori-teori tentang tubuh, ia bisa hidup karena di dalamnya berisi kehidupan yang disebutnya sebagai atma. Atma itulah Tuhan! Demikian katanya besar-besar pada alat pembesar suara sehingga mengejutkan para pendengar yang sebetulnya sudah terkejut saat Tuhan dimatikan.

Lalu untuk apa tubuh ini dihidupkan? Tenang, teka-teki semacam itu sudah tersedia jawabannya. Jawabannya adalah untuk berkarma. Berkarma artinya berbuat sesuatu, baik dengan pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Ketiganya diikat oleh benang yang kasat mata. Benang itulah karma. Karma itulah kerja. Ada satu ungkapan dalam salah satu kitab termasyur, bahwa bekerjalah dalam tidak bekerja!

Adakah suatu akibat nantinya sebagai hasil kerja itu? Tentu saja ada. Akibatnya adalah hasil dari kerja atau hasil dari karma. Dalam bahasa pergaulan di tingkat tertentu, disebut karma phala. Karma ternyata sudah punya pasangan setia bernama phala. Begitu juga phala, punya pasangan yang tidak kalah setianya bernama karma. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa memisahkannya.

Sampai pada penjelasan itu, adakah yang belum jelas? Semoga saja tidak ada. Karena penjelasan selanjutnya lebih penting lagi dari penjelasan tadi. Penjelasan lanjutan ini hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah expert. Saya ingin menjelaskan, bahwa hasil dari karma itu akan mempengaruhi kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang meyakini, setelah kehidupan ini mati, akan ada kehidupan lain yang hidup. Saat itu terjadi, segala hal yang telah terjadi kini, akan dilupakan mendatang. Umumnya begitu, meski pada suatu kasus tertentu ada saja yang bisa mengingat kehidupannya yang terdahulu.

Bagi yang lahir kembali, itu berarti masih ada sisa-sisa perbuatan yang harus ia nikmati di kehidupan selanjutnya. Semacam ada janji yang belum usai. Tapi entah karena apa, kebanyakan yang lahir kembali, lupa pada janjinya. Atau bahkan, tidak tahu apa janjinya di kehidupan terdahulu.

Jika benar demikian, akankah semuanya berpusing-pusing saja seperti bumi? Tidak! Itulah jawaban tegas menurut sumbernya. Keyakinan memberikan petunjuk bahwa lingkaran hidup-mati-hidup-mati bisa diputuskan. Caranya bukan dengan mengirimkan SMS, WA, nelfon, voice call, video call, messenger, kalau “kita putus”. Bukan juga dengan cara menghilang tiba-tiba saat lagi sayang-sayangnya.

Tidak sesederhana itu. Ada proses yang harus dilewati bagi mereka yang sudah bosan mengikuti lingkaran. Prosesnya adalah…, sebaiknya tidak saya jelaskan disini. Takut ada yang mendengar, sebab itu jalan sunyi yang rahasia. Jika ingin mengetahui, sebaiknya ikuti saya menyeberang dari wilayah ini. Terus terang, sudah tidak kondusif lagi ini wilayah. Tetapi saya bisa menceritakan bagaimana aturan kematian itu. Jangan kecewa.

Karena belum pernah mati, jadi kita bisa belajar tentang itu pada cerita-cerita yang diwariskan dari zaman kakek moyang sampai sekarang.Di dalam cerita, ada yang mati karena dibunuh. Pembunuhan itu dilakukan pada saat perang. Dalam banyak cerita, yang dibunuh adalah raksasa. Raksasa selalu menjadi korban pembunuhan. Dalam cerita epic yang lain, sudut pandang menjadi berbeda. Semisal dalam cerita Mahabharata, di dalamnya terdapat cerita manusia membunuh manusia lainnya atas nama perang. Korbannya bukan raksasa, tapi manusia.

.

Serial Cangak Sebelumnya:

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemimpin dan Pandita

.

Ada juga yang mati karena tipu muslihat. Menurut cerita, dua tokoh sakti mandra guna yaitu Raja Singa dan Raja Kerbau, sama-sama mati karena dihasut oleh prajuritnya sendiri. Yang dipercayai menjadi prajurit adalah kawanan anjing. Kepada Raja Singa, kawanan anjing berkata ini dan itu. Kepada Raja Kerbau, kawanan anjing berkata itu dan ini. Keduanya diberikan informasi palsu. Hoax. Hasilnya kedua Raja yang gagah perkasa itu berperang, sampai akhirnya keduanya mati. Kawanan anjing yang sudah lama kelaparan, merajalela dan memakan bangkai kedua Rajanya. Siapa bilang hoax itu hanya masa kini?

Ada lagi korban hoax yang lain. Namanya Kakua. Si Kakua adalah binatang yang cerdas. Karena kecerdasannya ia dipilih menjadi Panglima di suatu provinsi pada negara Telaga. Entah karena apa, tiba-tiba negara telaga itu mengering. Si Kakua bingung harus bagaimana. Tapi begitulah cerita, konon ada dua angsa yang ingin membantu menerbangkannya. Diambilkannya sepotong kayu, kedua angsa memegang masing-masing ujung dengan paruhnya. Sedangkan Si Kakua disuruhnya untuk menggigit bagian tengah kayu. Syaratnya hanya satu, Kakua tidak boleh bicara.

Di tengah perjalanan, kawanan anjing melihat Kakua dan kedua angsa itu terbang. Perut anjing mereka yang kelaparan, memberikan ide cemerlang. PENGHASUTAN. Dibangunlah opini publik, bahwa angsa sedang menerbangkan kotoran sapi. Kakua dan angsa-angsa mendengarnya. Mereka tahu sedang dihasut.

Tapi segala kepintaran, kecerdasan yang dimiliki Kakua hilang tiba-tiba. Sebabnya hanya, rasa tidak terima dan marah. Marah membuatnya lupa pada syarat lalu tanpa sadar membuka mulut dan sekaligus menghilangkan nyawanya karena jatuh dari tempat yang tinggi. Anjing-anjing tersenyum sinis, akhirnya perut mereka yang lapar bisa terpuaskan. Sayangnya, yang namanya perut tidak pernah kenyang dalam waktu lama. Perut anjing mereka selalu menagih korban lainnya.

Beberapa cerita tadi menunjukkan ada banyak cara mati. Bukannya tidak ada kematian yang tenang. Cerita tentang mati yang tenang tidak kalah serunya dengan cerita kematian tadi. Dharma Putra [bukan saya], kakak tertua Pandawa, mati dengan tenang. Atau bahkan tidak jelas apakah dia mati atau tidak. Setelah mengalahkan seratus Korawa, bersama istri dan adik-adiknya, Dharma Putra menaiki gunung untuk mati. Mereka juga diikuti oleh seekor anjing hitam.

Di akhir cerita, Dharma Putra dijemput untuk masuk ke surga dengan syarat meninggalkan anjing hitamnya. Dharma Putra tidak setuju, maka ia lebih memilih untuk diam dan tidak masuk surga kecuali anjingnya ikut. Saat itulah anjing itu berubah menjadi ayahnya, Dewa Dharma. Dharma Putra berarti putra dari Dharma. Karena Dewa Dharma menyamar menjadi anjing, bukan berarti Dewa Dharma sama dengan anjing, dan putranya adalah anak anjing. Itu jelas kasus yang berbeda.

Ada lagi cerita lainnya. Yudistira melawan Nilacandra dalam suatu lomba yang prestisius, menangkap ruh [ngejuk atma]. Bukan main lomba itu memang. Yudistira melepaskan ruhnya dari sangkar tubuh seperti melepaskan burung. Nilacandra dengan sigap menangkapnya, entah dengan apa. Giliran Nilacandra yang menguasai Aji Pegat itu, melepaskan burung ruhnya dari sangkar tubuh, bersembunyi di sudut paling rahasia dan sama sekali tidak terlihat kecuali oleh Shiwa. Akhirnya Yudistira mampu menangkapnya berkat bantuan Shiwa. Nilacandra tidak jadi mati, padahal sudah bisa mati.

Ada banyak lagi cerita tentang mati, beserta aturan-aturannya. Untuk bisa mati dengan tenang, sebelumnya harus mempersiapkan kematian. Contoh menyiapkan mati dengan tenang, adalah dengan berlomba-lomba ngayah. Jika tidak pernah ngayah, maka kematian menjadi terancam tidak tenang.

Yama Purwa Tattwa bisa menjadi rujukan dalam melihat aturan kematian. Di dalamnya termuat jenis-jenis kematian beserta cara-caranya setelah kematian. Ada mati yang baik dan ada pula mati yang buruk. Mati yang buruk disebutnya mati yang salah, atau mati karena ulah. Jenis-jenis itu kemudian ditiadakan oleh para pengampu kebijakan karena entah apa. Mungkin karena kemanusiaan. Tidak baik memang sudah mati tertimpa tangga.

Bagi yang ingin mati dengan tenang, saya sarankan untuk pintar-pintar membayangkan. Terutama bagi para ikan yang tidak ingin menyeberang. Jadi untuk para ikan, bayangkanlah bunga teratai yang bunganya sedang kuncup. Bunga yang kuncup itu mirip dengan aksara yang sangat terkenal di kalangan pengenalnya. Aksara itu bernama Ulu Candra. Aksara itu biasanya berada di atas aksara Okara yang sering ditulis oleh banyak insan. Bunganya yang kuncup adalah Nada, bulir air yang menempel adalah windu yang bulat itu. Arda candranya adalah daunnya yang terlihat melengkung. Okara adalah akarnya yang jauh tertanam di dalam lumpur.

Itulah salah satu praktik spiritual yang dahsyat hasilnya. Tetapi apakah praktik spiritual hanyalah sebentuk pelarian dari kebosanan? Saya hanya bertanya, jawabannya terserah anda. Tidak maulah saya, jika kemudian dituntut menistakan agama. Takut. Tetapi satu yang bisa saya katakan sebagai Cangak bagi para ikan: Jangan mati sembarangan!

Tags: dongengfilsafatkemanusiaanrenungan
Share79TweetSendShareSend
Previous Post

Berkreasi di Kepulauan – Dari “Bali Architecture Week 2019: Popo Danes And Friends”

Next Post

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co