24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan pergi!

Itulah mantra ajaib bagi mereka yang tidak rela ditinggalkan. Entah apapun alasannya, pokoknya jangan pergi. Tidak terkecuali ketika Ni Karuni akan ditinggalkan oleh Sucita.

Oh iya perkenalkan, Ni Karuni adalah anak dari pasangan pendeta bernama Dukuh Pradnya dan Dyah Paramita, sedangkan Sucita adalah anak dari pasangan pendeta Rsi Metri dan Danti. Keduanya sama-sama saling mengikat. Bukan tali bukan rantai, yang mengikat adalah sejenis perasaan yang tidak perlu saya jelaskan lagi: Cinta.

Mereka awalnya bertemu dengan cara tidak sengaja. Di tepian sungai, Sucita sedang berusaha melepaskan jeratan lelah. Ni Karuni di hulu sungai mencari bunga, konon untuk dipersembahkan kepada ayahnya. Bunga itu nantinya untuk memuja Hyang saban hari.

Entah kesialan atau justru keberuntungan, Ni Karuni terpeleset karena salah mengira batu yang diinjaknya akan tetap seperti batu-batu lainnya tidak bergerak. Tidak, ia salah. Batu yang diinjaknya tidak dalam posisi bagus, maka terganggulah keseimbangannya dan Ni Karuni hampir tercebur ke sungai.

Karena sigap, ia bisa berkelid dan menyeimbangkan diri, juga tempat bunga yang ia bawa berhasil diselamatkan. Sayangnya hanya satu yang tidak bisa ia selamatkan dari kejadian itu, selendang yang dipakai untuk menutupi pundaknya, tiba-tiba tergelincir dari kulitnya yang halus itu lalu hanyut terbawa sungai. Ni Karuni mengejarnya.

Sucita melihat beberapa kuntum bunga hanyut, diikuti oleh selendang. Tanpa banyak berpikir diambilnya selendang itu. Maka bertemulah mereka berdua dan terlibat tanya jawab. Siapa nama, dari mana, siapa orang tua, kenapa bisa ada di sana.

Jangan membayangkan akan ada pertanyaan berapa nomor HP, apa nama IG, atau FB, atau WA. Pada masa itu, media sosial maya belum ada. Super singkat cerita, bertanyalah Ni Karuni kepada Sucita.

Ada empat pertanyaan yang ia ajukan. Begini: (1) Apakah bekal yang paling utama di dunia ini? (2) Siapa teman yang paling setia sampai mati? (3) Siapa musuh paling sakti? dan (4) Sakit apa yang paling berat?

Cerita itu membuat saya berpikir, memang wanita selalu punya cara untuk membuat kepala jadi pusing dengan pertanyaan-pertanyaan. Bagi para lelaki, silahkan dijawab. Ingat tidak boleh nyontek.

Sambil memikirkan jawabannya, dan sebelum melanjutkan cerita tentang Sucita dan Karuni, saya teringat lagi sebuah cerita yang juga melibatkan dialog antara wanita dan lelaki. Agar adil, cerita kali ini adalah pertanyaan tentang lelaki yang bertanya ini dan itu kepada seorang wanita. Tamtam nama lelaki itu, sedangkan Dyah Adnyaswari nama wanita cantik jelita yang juga cerdas.

Saking cerdasnya, Raja dari berbagai negara telah ditaklukkannya dengan pertanyaan juga jawaban. Tapi Tamtam berbeda. Ia mampu menyudutkan Dyah Adnyaswari dengan sebuah pertanyaan. Maka karena sulitnya pertanyaan Tamtam, pada suatu malam Dyah Adnyaswari datang diam-diam ke rumah Tamtam. Tamtam terkejut didatangi wanita yang menjadi pujaan banyak lelaki hebat.

“Apa sebabnya seorang gadis rela datang malam-malam ke rumah seorang pemuda tanpa gelar?” kata Tamtam dengan rendah hati.

Dyah Adnyaswari tersenyum manis dan menjawab, “Aku meniru kupu-kupu, datang karena digoda harum yang dibawa pecahan angin.”

“Tapi mengapa kepada hamba, pengembara yang bagai burung, tidak jelas dimana ia hinggap?”

“Burung kata Bli? Burung walet tidak kalah perihal sarang, ia membangunnya di ruang teduh, kan? O Bli Tamtam, anugerah mana lagi yang Bli ragukan dari para Dewa? Ketampanan dan kecerdasan tidakkah cukup?”

“Hati-hati Puan. Itulah pesan yang selalu hamba kenakan. Terlebih mendengar pujian dari seorang gadis yang matanya lebih dalam dari danau”.

“Jadi maksud Bli, aku sedang menggoda?”

“Hamba tidak berkata begitu. Hanya…”

“Hanya apa?” Adnyaswari mengerutkan dahi dan tersenyum simpul. 

“Hanya coba menerka, apa yang Puan sembunyikan di balik senyum itu”

Malam berlalu begitu saja. Pertanyaan Tamtam yang membuat Dyah Adnyaswari kebingungan, belum terpecahkan. Apa pertanyaannya? Ini pertanyaannya Tuan dan Puan “sane telas tunas titiang”.

Terjemahannya? Sabar saya masih berpikir. Kira-kira begini “yang habislah hamba inginkan”. Kata lainnya barangkali “isi sunyi itu apa?”. Jawabannya? Maaf saya belum tahu. Ilmu Cangak saya belum sampai di sana.

Mari kita biarkan pertanyaan itu dijawab sendiri-sendiri. Berbagai macam pertanyaan, baik jika diadakan terus menerus, sebab otak dibuatnya selalu berpikir. Keuntungannya, ya otak jadi terlatih memikir-mikirkan. So what? Ya, berpikir adalah salah satu ciri badan masih hidup.

Oh iya, sekarang ayo kita kembali kepada cerita tentang Sucita dan Ni Karuni. Setelah perkenalan itu, Sucita tidak bisa melupakan Ni Karuni. Maka ditemani sahabat karibnya yang bernama Subuddhi, Sucita datang ke rumah Ni Karuni bermaksud meminangnya. Kurang hebat apalagi si Sucita itu?

Dia langsung meminang broo. Menghadaplah Sucita Subuddhi kepada Dukuh Pradnya, ayah Ni Karuni. Terjadilah perkenalan tentang bibit, bebet, bobot. Setelahnya, tanpa cangcingcong, Sucita menyatakan maksud kedatangannya,.

“Hamba ingin meminang anak Ratu Pendeta!”

Dukuh Pradnya yang memang pradnyan itu tidak terkejut, malah jawabannya yang membuat terkejut, “Ayah tidak akan menghalangi, jika Ni Karuni mau, jag juang”.

Berbekal berbagai jurus merayu, Sucita datang menemui Ni Karuni.

“Berbahaya jika seorang ahli pengobatan, membiarkan pesakitan tidak diobati. Juga betapa teganya bunga Menuh yang tumbuh di pinggir sungai, membiarkan seekor kumbang menangisi sayapnya yang patah dan hanyut. Tidakkah begitu Ni Karuni?”, kata Sucita halus.

“Pesakitan bisa sakit karena salah sendiri, tidak tahu mana makanan mana racun. Kumbang si ahli bunga itu? Patah sayapnya karena mengganggu bunga anggrek bulan yang dirawat seekor kera. Apakah adil jika bunga Menuh yang Bli salahkan?” jawab Karuni ketus memalingkan wajah.

“Lebih tidak adil lagi, jika ada tuan rumah memalingkan wajah dari tamunya.”

“Dia bukan tamu, tapi musang berbulu domba.”

“Itu pasti musang salah pakaian.”

Karuni berusaha menahan tawa. Lalu ia jawab dengan halus, “Maaf Bli, saya salah, dia bukan musang, tapi Cangak”

Sampai di sana saya akhiri saja percakapan Karuni dan Sucita. Otoritas Ke-Cangak-an saya merasa diadili. Pada akhirnya mereka berdua saling suka satu sama lain.

.

CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak

.

Sebagai orang yang terpelajar, maka Sucita memutuskan untuk pergi mencari ilmu pada orang-orang pandai. Karena itulah mereka berdua dipisahkan sebentar. Ni Karuni yang bijaksana itu, juga ingin mengetahui seberapa besar keinginan Sucita untuk pergi. Lalu ia menulis surat. Begini isinya.

“Lihatlah Bli, sebuah lampu kehilangan nyalanya karena minyak tega meninggalkan api. Bunga Tunjung layu sebab telaga kehilangan air. Apalah guna sembahku kepada Hyang selama ini, jika ternyata tidak pernah didengar. Kita dipisah jarak begini sunyi. Kembali Bli, jangan pergi!”.

Ujian atas kesungguhan hati, bisa datang dari mana saja, dalam berbagai wujud. Tidak terkecuali bagi Sucita yang ingin pergi. Saya juga merasa begitu wahai sodara-sodara para ikan semuanya. Mungkin sama seperti kalian. Keinginan pergi, sama hebatnya dengan keinginan kembali.

Sekarang saya hanya ingin mengatakan nasihat seorang guru, katanya, “Sebuah keputusan akan benar, jika dijalani dengan benar.”

Sekarang pilihlah, mau pergi atau tetap di sini? [T]

Tags: cintarenungansastraSucita Sebudi
Share72TweetSendShareSend
Previous Post

Semua Adalah Rumah

Next Post

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co