23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 8, 2020
in Cerpen
Pulang

Lukisan karya Gusti Sura Ardana yang dipemarkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, November 2019. [Foto: Mursal Buyung]

Cerpen: Geg Ary Suharsani []


Aku mencakupkan tangan di ubun-ubun. Kenanga, cempaka dan teratai putih menyembul dari kedua ujung jemariku yang bertemu satu sama lain. Inilah jalan satu-satunya yang bisa aku tempuh, memohon padaMu.

***

Sudah dua bulan ibuku menahan sakit di tubuhnya. Kadang di perut, kadang di dada. Kata ibu, jika perutnya sakit maka yang dia rasakan adalah pelintiran yang luar biasa. Aku membayangkan ketika aku memelintir baju yang usai aku bilas. Mungkin serupa itu.

Jika dadanya sakit, maka yang dirasakan adalah panas yang menampar. Menyengat dada dan menjalar ke tubuh yang lain. Saat panas itu datang, ibu memintaku menempelkan es di dadanya. Es yang dingin itu membuatnya merasa lebih nyaman.

“Ibu lelah.” Wanita yang kini berusia sembilan puluh enam tahun itu memandangku sambil berujar lirih. Suaranya hampir saja tidak bisa aku dengar andai aku tidak melihat gerak bibirnya. Ketika itu ibu terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah lebih dari lima kali ibu bolak-balik rumah sakit dan rumah. Opname kemudian pulang kemudian opname kembali kemudian pulang lagi. Begitulah beberapa kali.

Ibu tak kunjung sembuh. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku mendengar semuanya namun aku memilih diam. Mereka bilang, ibuku terlalu banyak ilmu. Saat tubuh ibu makin lemah, ilmu itu tetap kuat tak rela sirna. Kata mereka, ilmu itulah yang membuat ibu masih hidup meski penuh dengan rasa sakit.

“Ibu ingin pulang. Pulang,” rintih ibu, terbaring lemah dan menatapku penuh harap. Dadanya yang tipis bergerak naik turun, tersengal. Sebagai anak satu-satunya, aku tentu sangat menyayangi ibu. Melihat ibu kesakitan seperti ini sungguh menyiksa hati.

Ilmu itu akan hilang jika ada tubuh lain yang siap menerimanya. Begitulah bisik-bisik lain yang kemudian aku dengar. Tapi ilmu apa? Ibu hanya seorang pedagang kopi yang menjajakan kopinya dari kampung ke kampung. Berjalan kaki seharian penuh, kadang hingga berhari-hari. Melewati malam hanya bersinarkan lampu minyak kecil, kadang sekumpulan daun kelapa kering yang dibakar. Meninggalkan rumah, menjauh dari bapak yang menikah lagi dengan wanita kembang desa yang lebih muda dan lebih cantik.

Ibu selalu mengajakku dalam setiap perjalanannya. Aku melihat bagaimana ibu melewati malam yang dingin berangin dan hujan lebat yang membuat badan menggigil. Aku menyaksikan bagaimana ibu melalui malam demi malam, memilih bungkam bersama gurih biji kopi yang dijajakannya.

Hingga kemudian ibu mulai menghasilkan uang yang cukup sehingga mampu membeli kebun kopi. Ibu  berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Kami kemudian menetap di kebun kopi yang dibeli oleh ibu.

Ibu tidak pernah pulang, sudah tentu aku juga tidak. Bapak tidak pernah mengunjungi kami. Kami makin menjauh, meski  masih satu desa. Namun seolah ada kesepakatan untuk tidak saling mengunjungi antara bapak dan ibu. Mereka berdiam diri dalam kesepakatan yang sunyi. Bapak sibuk dengan istri mudanya, ibu sibuk dengan kebun kopinya. Sedangkan aku, bagiku ada ibu saja sudah lebih dari cukup.

“Aduhhh … aduhhhh ….” Ibu mengaduh, ranjang rumah sakit berderak, saat ibu bergeser sambil mencengkeram perutnya. Keringat dingin bercucuran di antara pelipisnya yang keriput. Aku hanya mampu memegang pundak ibu, sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran itu. Perutnya pasti sakit lagi. Betapa gigiku terasa ngilu, membayangkan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh ibu.

Siapa yang akan diberikan ilmu, akan didatangi melalui mimpi. Seolah tongkat estafet, ilmu itu harus dioper ke tubuh selanjutnya. Jika tidak, dia akan bersemayam dan membiarkan sang pemilik tubuh mengunyah rasa sakit, meski hati telah menyerah pasrah.

“Berdoalah untuk ibumu, Sulastri,” ujar salah seorang uwakku di suatu hari yang dingin, di antara rimbun daun kopi. Uwakku sama berumurnya dengan ibuku. Diam-diam dia menemuiku meski dengan tertatih. Keluar dari rumah yang tidak pernah aku datangi.

“Pulanglah ke rumah. Sembahyang kepada leluhur, mohon jalan terbaik,” desaknya sambil menatapku tajam dengan matanya yang kelabu sebagian berkatarak.

“Kasihan ibumu.” Sebelum berpisah, uwak masih sempat mengucapkan kalimat ini, sambil menggenggam tanganku. Aku menatap uwak dengan mata dipenuhi genangan air. Begitupun uwak. Kami berkaca-kaca atas sesuatu yang kami pahami dalam diam.

Pulang. Sudah lama aku mengubur kata ini. Bertahun-tahun kata pulang mengendap jauh di tumpukan terbawah kenanganku. Bagai ampas kopi, dia ada di dasar gelas dan terbuang tiap kali gelas dicuci. Aku melupakan satu demi satu kenangan. Aku lupa kenanga di pojok halaman, yang selalu menguarkan wangi tiap kali sore menjelang serta bagaimana nyamannya duduk di bangku dekat dapur bersama bapak. Aku lupa gemerisik kerikil di halaman jika kaki melangkah dan bagimana damainya duduk di halaman sanggah, pura keluarga kami.

Jika aku pulang, untuk memohon di hadapan kemulan, tempat pemujaan terhadap leluhur, aku akan kalah. Segala yang telah aku lupakan bertahun-tahun akan muncul kembali. Segala upaya yang ibuku lakukan, tertatih di tengah gelap malam bersama biji-biji kopi itu akan menjadi keping, tak ada gunanya. Ampas kopi itu akan hadir. Oh, sungguh menyakitkan. Belum lagi tatap mata tajam dari seluruh penghuni rumah. Dari istri muda bapak. Apakah aku akan sanggup?

“Sakit … sakit ….” Kembali kudengar erangan lirih ibu. Wajah ibu kini berkerut menahan sakit. Sungguh perjuangan yang seolah tak berujung. Sampai kapankah? Kembali tanya ini menyeruak di benakku.

Jika benar yang membuat ibu bertahan saat ini adalah ilmu yang ada di tubuhnya, betapa jahatnya ilmu itu. Parasit egois itu memaksa tubuh inangnya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin semacam balas jasa atas apa yang telah diberikan pada masa lalu. Mereka menanti tubuh selanjutnya yang akan ditunjuk oleh inangnya.

“Sebagai anak satu-satunya, doakanlah ibumu. Memohon pada leluhur. Pulanglah, Sulastri.” Kembali aku teringat ucapan uwakku. Aku bergetar, tanpa sadar tanganku meremas tangan ibu yang sedari tadi sibuk mencengkeram perutnya. Keputusan kini ada di tanganku.

***

 Dini hari yang teramat dini. Uwak membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Begitu pelannya hingga tidak ada bunyi derit sedikitpun. Aku menunggu hingga gerbang terbuka dengan celah yang cukup untuk tubuhku menyelinap masuk. Wajah uwak terlihat samar, karena hanya satu lampu yang menyala di halaman. Suasana di beberapa bagian halaman rumah yang luas ini begitu gelap. Tidak ada yang menyadari kedatanganku, kecuali uwak. Uwak berjanji membukakan pintu ketika aku bilang aku tak tega melihat ibu kesakitan.

“Selepas tengah malam, aku akan pulang, Wak,” ujarku kemarin siang, di perempatan jalan dekat rumahku. Uwak mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Kembali dia menggenggam erat tanganku.

            Bersimpuh di sanggah, dalam gelap yang mengitari. Aku mencakupkan tangan untuk ketiga kalinya.

“Hyang Dewata, Ibu ingin pulang. Terimalah, berilah jalan. Jika ada yang harus ibu lepaskan, biarlah saya yang menerimanya,” bisikku lirih bersama sebutir air mata yang berjaga di pelupuk.

Angin semilir. Wangi cempaka dan kenanga berpadu. Terdengar suara cicak entah dari mana. Samar kulihat senyum ibu melalui kelopak mataku yang terpejam. Betapa dekat jalan pulang.

*****

Denpasar, November 2019

Tags: Cerpen
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arnata Pakangraras # Sekali Lagi Perihal Hujan

Next Post

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Masih Tentang Pengalaman – [Catatan Ikut Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2020]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co