24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 5, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo

Kapal-kapal yang Berlabuh di Sekitar Pulau Kelor [Foto: IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Sekoci kecil membawa saya meninggalkan pelabuhan. Berlenggak-lenggok di antara kapal-kapal lain yang sedang parkir. Menuju salah satu kapal yang parkir di tengah, kapal yang akan saya tumpangi.

Saya akan melaut tiga hari ke depan. Mau mengelilingi perairan Taman Nasional Komodo. Menuju satu pulau ke pulau lain. Bersama teman-teman baru yang bergabung dalam satu kapal.


Sebuah Kapal yang Biasa Mengarungi Perairan Taman Nasional Komodo, Menarik Sekoci di Belakangnya [Foto: IK Gde Subagia]

Nama keren kegiatan ini adalah open trip. Perjalanan dari gabungan individu atau beberapa orang yang tak saling kenal sebelumnya. Ini adalah paket jualan wisata umum di Labuan Bajo. Dan saya mencobanya. Cocok untuk berbagi ongkos kapal dan biaya perjalanan.

Total ada delapan belas orang di kapal yang saya naiki. Empat belas wisatawan. Satu pemandu. Satu nahkoda. Satu koki. Dan dua anak buah kapal. Nama teman-teman baru dalam satu kapal ini tak saya hafal seluruhnya. Nanti akan saya tulis khusus satu per satu dari mereka untuk kenang-kenangan. Okelah kalau begitu.

Mulai Melaut

Perjalanan di laut pun dimulai. Kapal berjalan perlahan. Meninggalkan pelabuhan Labuhan Bajo.

Ricardus Gopong, pemandu kami sangat ramah. Ia yang berumur 20 tahun selalu melucu. Selalu mewanti-wanti untuk hemat air selama di kapal. Tak membuang sampah sembarangan ke laut, terutama yang dari plastik. Mantap.


Kapal Mulai Berjalan Perlahan Meninggalkan Labuan Bajo [Foto: IK Gde Subagia]
Abire, Sang Nahkoda Kapal [Foto: IK Gde Subagia]

Nahkoda kapal bernama Abire. Nama lengkapnya hanya Abire. Satu suku kata saja. Tak ada embel-embel lain. Lelaki 65 tahun yang berasal dari Bone ini dipanggil Opa Abi. Ia telah lama malang melintang di tengah laut. Sering pulang pergi dari Labuan Bajo ke Makassar. Saya mempercayakan nasib di laut kali ini padanya.

Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo adalah kawasan perairan dan kepulauan. Terletak di perbatasan Pulau Flores dan Pulau Sumbawa. Secara administratif, menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Terdiri dari tiga pulau besar : Komodo, Rinca, dan Padar. Serta puluhan pulau kecil lainnya. Dengan berbagai macam spesies. Termasuk komodo, kadal raksasa yang menjadi satwa endemik di wilayah ini.


Papan Petunjuk Tentang Taman Nasioanl Komodo yang Bisa Dijumpai di Setiap Pulau [Foto: IK Gde Subagia]
Saya (penulis) di Dalam Kawasan Taman Nasional Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Taman nasional yang dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO mengalami polemik belakangan ini. Rencananya mau ditutup sementara waktu. Usulnya dari pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur. Di bawah arahan sang gubernur, Viktor Laiskodat.

Tapi usul itu mendapat tentangan. Terutama dari pelaku pariwisata. Seperti hotel, jasa transporasi darat, persewaan kapal, dan oleh-oleh. Jika Komodo ditutup, matilah usaha mereka. Daripada ditutup, pembangunan hotel atau resort di taman nasional lah yang harus dicegah. Hmmm…

Sementara dari kalangan peneliti, khususnya dari LIPI, mengatakan bahwa tak ada korelasi signifikan antara kegiatan wisata dengan populasi komodo. Wisatawan hanya melihat. Tidak mengambil atau membunuh komodo. Juga mengikuti jalur-jalur yang memang diperbolehkan. Yang perlu dititikberatkan malah pada penduduk sekitar dan pemukiman di taman nasional.

Bahkan kepala taman nasional pernah mengatakan bahwa rencana penutupan hanyalah wacana saja. Popolasi komodo aman-aman saja. Walaupun penataan dan perbaikan pengelolaan tetap harus dijalankan. Untuk menghindari mass tourism, perizinannya saja yang diperketat. Atau tiket masuknya dinaikkan.


Pulau Padar dan Sekitarnya dalam Kawasan Taman Nasional Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Ke Pulau Kelor

Setelah berlayar sekitar satu jam, kami tiba di Pulau Kelor. Pulau tak berpenghuni yang berlokasi tak jauh dari daratan Flores. Kondisinya berbukit dengan rumput-rumput ilalang. Pantainya berpasir putih. Airnya jernih. Kebiruan.

Tapi suasananya ramai. Ada banyak sekali kapal yang parkir di sekitarnya. Membawa banyak wisatawan. Untuk bermain di pantai. Dan mendaki bukit kecilnya. Ke puncak yang tingginya hanya 100 meter dari permukaan laut.

Di bukit ini pemandangannya memang menarik. Tempat yang pas untuk foto-foto. Jumlah wisatawan mungkin seratusan lebih. Mengantri di jalur pendakian. Dan mengantri di spot-spot foto favorit.


Pulau Kelor yang Ramai. Banyak Orang yang Akan Mendaki ke Puncak Bukitnya [Foto: IK Gde Subagia]
Kapal-kapal yang Berlabuh di Sekitar Pulau Kelor [Foto: IK Gde Subagia]

Saya sebenarnya tak begitu suka jalan-jalan ke alam yang kondisinya ramai. Tapi mau bagaimana lagi. Ini di Komodo. Dan musim liburan. Namanya sudah mendunia. Mengundang semua orang untuk datang. Mau tak mau, saya harus menikmati suasana ini.

Kesialan Wallace di Masa Silam

Selepas tengah hari, kapal melaju ke Pulau Rinca. Pulau ini adalah pulau terbesar kedua di kawasan taman nasional. Di sinilah kita bisa melihat komodo. Satwa dari zaman dinosaurus yang masih bertahan sampai sekarang. Yang luput dari pengamatan Alfred Russel Wallace, naturalis dari Inggris itu.


Garis Wallace, Membagi Nusantara Menjadi Dua Kawasan Sebaran Fauna Asia dan Australasia

Wallace terkenal karena teorinya. Ia membagi sebaran spesies nusantara dengan garis imajiner, membentang utara ke selatan. Antara Kalimantan dan Sulawesi. Serta antara Bali dan Lombok. Sebelah barat masuk kawasan Asia. Sebelah timur masuk Australasia.

Sayang, Wallace tak pernah melihat komodo dalam ekspedisinya. Spesies yang hanya satu-satunya di Kepulauan Sunda Kecil. Ia kehilangan bahan penelitian yang spektakuler : naga yang menjadi dongeng nusantara kala itu. Yang menginspirasi dunia di kemudian hari.

Melihat Komodo di Rinca

Kapal berlabuh di dermaga Teluk Loh Buaya. Wisatawan masih ramai. Beberapa kapal membuang sauh. Membawa penumpangnya dengan sekoci merapat ke tepi pantai. Lalu berkeliling di sekitar pulau bersama pemandu setempat.

Komodo-komodo di Pulau Rinca [Foto: IK Gde Subagia]
Kawasan Sarang Komodo, Tempat Betina Bertelur [Foto: IK Gde Subagia]
Komodo, Satwa Endemik yang Hanya Ada di Kepulauan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]
Rusa, Salah Satu Spesies yang Menghuni Pulau-pulau di Taman Nasional Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Pulau Rinca adalah pulau terluas kedua di kawasan taman nasional. Ada sekitar 1.500 ekor lebih komodo yang hidup di pulau ini. Menyebar di berbagai tempat.

Jumah komodo yang relatif sama juga ada di Pulau Komodo, pulau terbesar. Serta sejumlah kecil di Pulau Padar, Motang, dan Kode. Kalau ditotal, ada tiga ribuan komodo di dalam kawasan taman nasional.

Selain komodo, ada banyak kerbau liar. Rusa. Monyet ekor panjang. Dan burung elang laut. Setidaknya satwa-satwa inilah yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.

Kerbau, rusa, dan monyet adalah mangsa alami komodo. Makanya saya melihat tulang belulang kerbau dan rusa dipajang di depan pintu masuk.

Komodo adalah mahluk siang hari. Memburu mangsanya dengan menunggu. Ia tak bisa bergerak cepat. Hanya memangsa jika sang mangsa berada dalam jangkauannya. Makanya kita harus hati-hati saat berada di dekat komodo. Reptil ini sama berbahanya seperti buaya.

Umur hidup komodo rata-rata adalah dua puluhan tahun. Paling lama yang tercatat adalah lima puluh tahun. Musim kawinnya setiap tahun, sekitar April. Dan bertelur sekitar tujuh bulan kemudian. Bertelurnya di dalam lubang yang dibuat oleh burung. Saat menetas, anak-anak komodo bisa dimangsa oleh komodo dewasa. Termasuk induknya. Ngeri juga. Mereka kanibal.

Pulau Rinca sebenarnya berpenghuni. Kampung yang hanya satu-satunya bernama Kampung Rinca. Warganya bertani di sekitar kampung. Beberapa melaut sebagai nelayan. Karena berdampingan dengan komodo, pernah ada kejadian seorang warga kampung diterkam komodo. Ia terluka dan berhasil diselamatkan.

Bertemu Teman Lama

Sewaktu berlabuh di Teluk Loh Buaya, saya melihat sebuah kapal phinisi. Nama kapalnya adalah Helena. Saya tahu kapal ini. Milik teman lama saya : Untung Sihombing.

Saya celingukan mencarinya. Dan ketemu. Saya melihatnya. Tapi posisinya jauh. Tak mungkin ia melihat saya. Kalaupun berteriak memanggilnya, tak mungkin pula ia mendengar. Kalau ditelpon, telepon saya sudah tak mendapatkan sinyal sejak meninggalkan Labuan Bajo.

Tapi di dermaga, saya melihat anak buah kapalnya. Dari kaos yang bertuliskan Helena. Saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin bertemu dengan pemilik kapal. Dan akhirnya bisa. Untung Sihombing pun kaget. Ia tak menyangka akan bertemu saya di Pulau Rinca.


Saya (penulis) melihat Helena [Foto: IK Gde Subagia]
Saya (penulis) bersama Untung Sihombing

Dulu, Untung Sihombing adalah karyawan sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Satu kantor dengan saya. Kenal bukan karena urusan kerjaan. Tapi karena sering jalan bersama ke alam. Naik gunung atau menyelam di laut.

Ia memang memiliki passion besar di alam. Petualang sejati. Ia berani resign untuk berkelana ke mana-mana. Sampai akhirnya, ia bermarkas di Labuan Bajo dua tahun terakhir ini. Membeli phinisi. Sambil mengelola bisnis pariwisata. Semoga sukses terus, Bro!

Pulau Kalong

Menjelang sore, kami meninggalkan Pulau Rinca. Tujuan berikutnya adalah ke Pulau Kalong. Untuk melihat sunset, matahari terbenam.

Seperti namanya, Pulau Kalong memang menjadi sarang kalong, kelelawar besar. Sambil santai di geladak kapal bagian atas, saya menyaksikan langit yang makin memerah.

Ketika remang-remang pertanda malam mulai turun, kalong-kalong mulai berterbangan. Jumlahnya ratusan ribu. Atau mungkin jutaan. Karena memang banyak sekali. Dan kejadiannya lama. Dari yang terbang pertama, sampai yang terbang terakhir.


Kalong-kalong yang Terbang Mencari Makan Saat Malam Menjelang [Foto: IK Gde Subagia]

Pemandangan mahluk ciptaan Tuhan yang unik. Tapi merugikan manusia. Karena kalong adalah hama. Ketika malam telah dimulai seperti ini, mereka terbang mencari makan. Ke pulau-pulau seberang. Flores, Sumba, Sumbawa, Timor, dan lain-lain.

Petani kopi, pisang, dan buah-buahan lainnya tak akan pernah suka dengan kalong. Tak bisa dibayangkan jika semua kalong yang terbang tadi berburu makan di satu kebun. Hasil kebun pasti langsung ludes. Habislah sang petani merugi. Maka tak heran, beberapa orang di Flores juga memakan daging kalong. Hasil menjerat atau berburu di kebunnya.

Bermalam di Teluk

Saat malam telah benar-benar gelap, pemandangan yang terlihat hanya lampu-lampu kapal di kejauhan.

Kami berencana akan ke Pulau Padar. Tapi gelombang tinggi. Kapal terombang-ambing cukup hebat.

Nahkoda memutuskan untuk merapat di sebuah teluk. Bagian dari Pulau Rinca. Begitu juga dengan kapal-kapal lain. Merapat di sekitar kami juga.

Teluknya tenang. Kapal hanya bergoyang pelan mengikuti irama gelombang. Cukup nyaman untuk melewatkan malam. Untuk beristirahat. Juga mandi dan makan malam.

Ini pertama kalinya saya bermalam di tengah laut. Walaupun bukan di tengah lautan lepas. Tapi di pinggir. Berlokasi tak jauh dari daratan. Menyenangkan. Sekaligus mendamaikan.


Suasana malam di kapal [Foto: IK Gde Subagia]

Saya berbaring menengadah menatap langit. Di geladak kapal bagian atas. Merasakan angin yang berhembus. Melihat bintang-bintang bertaburan. Berkerlap-kerlip. Berkilauan menjadi bagian semesta raya. Pikiran melayang ke mana-mana. Berlarian menembus ruang dan waktu. Siapalah saya, yang terdampar di satu titik kecil galaksi ini. [T]

Labuan Bajo, Juni 2019


Selanjutnya baca:

  • Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

Tags: FloresIndonesia TimurLabuan BajoPariwisata
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Next Post

Festival Budaya X Jegeg Bagus Tabanan 2020: Ciptakan Keindahan, Lestarikan Kebudayaan

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Festival Budaya X Jegeg Bagus Tabanan 2020: Ciptakan Keindahan, Lestarikan Kebudayaan

Festival Budaya X Jegeg Bagus Tabanan 2020: Ciptakan Keindahan, Lestarikan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co