23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
February 1, 2020
in Esai
Bahasa Bali Berkibar, “Oke-Bee” Dapatkah Bertahan? – [Catatan Bulan Bahasa Bali]

Foto ilustrasi dari penulis

Sejak 2019 lalu, Februari bagi masyarakat Bali bukan sekadar bulan berhari 28 atau 29. Bulan penentu tahun kabisat ini telah dipilih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sebagai bulan memperingati bahasa Bali –meski hanya memperingati, sewajarnya ia dapat digunakan untuk berpesta, dalam tataran formal maupun nonformal.

Di tahun perdana penetapan Peringatan Bulan Bahasa Bali, berbagai acara terkait upaya pelestarian, pemertahanan, dan pengembangan bahasa Bali dihelat. Bahkan, Gubernur Koster turun langsung nyastra, menulis aksara Bali di atas daun lontar. Sementara, di tahun 2020 peringatan digelar semakin dahsyat. Peringatan dilaksanakan sebulan penuh dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba, workshop, hingga diskusi.

Entitas bahasa, aksara, dan sastra Bali di era kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur Bali, Koster-Ace, memang mendapat banyak perhatian. Kehadiran Peraturan Gubernur (Pergub) 80/2018 menjadi monumen cukup penting dalam upaya tersebut. Melalui pergub ini bahasa Bali diarahkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi hingga ke ruang-ruang formal. Tentunya, hanya pada hari-hari tertentu.

Kepada aksara Bali, pergub ini mengamanatkan agar setiap institusi pemerintah maupun swasta di Bali wajib memasang aksara Bali pada papan namanya. Tempatnya harus di atas aksara Latin, besarnya juga harus sama. Konon, ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mencipta aksara Bali. Penciptaan aksara ini bukan perkara gampang, sebab dari 600-an bahasa daerah di Indonesia, yang memiliki aksara hanya sebagian kecil.

Nasib sastra Bali di tangan gubernur asal Sembiran juga tak kalah mengembirakan. Sastra dan sastrawan Bali setahun belakangan lebih banyak diberikan ruang untuk tumbuh, termasuk dalam Festival Seni Bali Jani 2019. Dalam bidang penerbitan buku sastra Bali, melalui proses kurasi yang dilakukan Prof. Darma Putra (Universitas Udayana) untuk Penghargaan Sastra Rancage 2019, tercatat ada 13 buku sastra Bali terbit sepanjang tahun.

Melihat upaya-upaya itu, perlu sekiranya kita mengangkat topi kepada pemerintah atas segala usahanya. Namun, membanggakan berlebihan sama dengan racun. Nalar harus terus menakar dan mengakar, berupaya bersama agar apa yang dilakukan ke depan semakin baik dan mengembang.

Tentang Etis

Menyoal penggunaan bahasa Bali era ini, saya mendapati dua cabang kemungkinan. Dalam lingkar pergaulan yang saya hadapi, pada satu sisi saya melihat bahasa Bali semakin tertata dan semakin percaya diri digunakan. Namun, di sisi yang lain saya melihat ada kosakata yang terhimpit, lantaran adanya standar anggah-ungguhing basa Bali.

Lingkungan kelahiran saya adalah kawasan pegunungan yang eksis dengan dialek Bali Aga. Salah satu karakter awalnya, tak banyak klaster kata. Saya masih ingat betul, ketika masih kecil, kata-kata yang mendapat predikat sebagai kata kasar dalam ranah bahasa Bali “baku” seperti ngamah ‘makan’, mamecek ‘tidur’, poles ‘tidur’, dan lain-lain sangat biasa digunakan dalam percakapan.

Lantaran dianggap kasar, kata-kata ini kini menjadi tabu untuk digunakan. Mereka tampak kalah bersaing seiring adanya mitos etika komunikasi yang diproduksi melalui hubungan dengan masyarakat Bali yang lebih luas. Persoalan etis juga diproduksi melalui pendidikan yang diterima anak-anak kami sedari kecil. Alhasil, jika sekarang seorang anak berujar, poles malu ma! ‘tidur dulu sana’, orang tuanya akan turun tangan melarangnya dengan segera. Terlebih, jika kalimat itu keluar dalam keramaian.

Kegelisahan saya tentang kata-kata terhimpit itu semakin meluas. Dalam pengamatan saya, kata-kata yang semakin jarang digunakan telah merasuk pada sejumlah kata yang menjadi ciri khas daerah kami, yakni kata ganti oke dan bee.

Oke adalah kata ganti untuk orang pertama tunggal, sedangkan bee digunakan untuk kata ganti orang kedua tunggal. Keduanya sangat khas di daerah saya. Saking khasnya, kedua kata ini sering digunakan bahan lelucon, entah dalam panggung bebondresan, maupun dalam ranah pertemanan.

Oke-bee mulai tampak semakin jarang digunakan dalam pergaulan, meskipun dalam komunikasi antar personal yang sepadan. Jika membandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kadarnya tampak menurun. Mungkin saya salah melihat, atau jangan-jangan lingkungan pergaulan saya yang justru mendesrupsi kata itu.

Penyebabnya kembali terkait persoalan etis. Penggunakan kata oke-bee dalam paradigma masyarakat saat ini dipandang tak cukup sopan. Hal ini didukung dengan semakin banyak orang di desa saya yang mawinten. Ketika seorang warga telah melakukan proses mawinten, ia dipandang atu taraf lebih suci, seakan-akan ia tak boleh lagi dipanggil dengan bee atau menyatakan dirinya oke.

Sebagai gantinya, kata oke kini diarahkan dengan penggunaan tiang, sedangkan untuk merujuk makna bee diarahkan menggunakan kata ragane atau memanggil nama langsung. Langkah itu dipandang lebih netral dan tak menabrak tatanan etis yang tengah terbangun sedemikian rupa.

Maju atau Mundur?

Menemui fenomena yang tampak, saya jadi banyak berpikir. Apakah yang kami lakukan sebuah lompatan atau jangan-jangan keterperosokan?

Merenungkan hal tersebut, saya jadi ingat sejumlah kata yang juga sudah sangat jarang digunakan dalam tatanan komunikasi, namun ada dalam teks yang kami warisi dan junjung tinggi. Tiga kata yang saya ingat diantaranya adalah mel ‘ladang’, ceheng ‘alat ukur beras’, dan kalu ‘tembat barang dari anyaman bambu’.

Ketika saya pertama kali berjumpa dengan mereka, saya benar-benar merasa asing. Gawatnya, kata-kata ini banyak digunakan untuk mengacu hal-hal penting dalam teks. Akibatnya, saya harus bertanya apa itu mel, ceheng, dan kalu kepada orang tua. Dan, saya masih cukup beruntung karena mereka masih mengetahui. Bayangkan jika yang bertanya itu anak atau cucu saya kelak, dan saya tak pernah menanyakannya.

Persoalan ini bisa dianggao penting atau tak penting. Bisa dipandang penting lantaran kita percaya bahwa setiap kata ada untuk merujuk makna tertentu. Pun, jika ada padanannya dalam bahasa yang sama, dalam bahasa serumpun, maupun dalam bahasa yang lain, tampaknya makna yang dihadirkan tak akan sama persis. Contoh, coba bandingkan kata-kata nyrokcok, nyrekcek, dan nyrikcik dalam bahasa Bali. Jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia semuanya mengarah pada pergerakan air, namun ketiganya mengandung makna yang lebih spesifik satu sama lain.

Kembali pada persoalan kata-kata mel, ceheng, dan kalu. Seandainya, suatu saat pembaca teks itu tidak paham makna ketiganya kata itu. Pembaca ini telah bertanya ke seseorang, namun orang itu juga tak tahu. Karena mengalami kebuntuan, pembaca ini akhirnya menafsir sendiri. Saat inilah perkara besar bisa lahir.

Di desa saya contoh yang telah tempak terkait kata mel. Ada sebuah ritus bernama Ngusaba Dimel yang saya curigai berasal dari kata usaba, di, dan mel. Ketika dirangkai, dapat merujuk makna ‘upacara selamatan di ladang’. Makna ini tampaknya cocok dengan pola ritusnya yang memang dirayakan di sebuah pura yang berada di perladangan desa dan secara mitologis tirta-nya diyakini sebagai tirta pertanian.

Namun, dalam perkembangannya, Ngusaba Dimel telah ditafsir dengan berbagai penafsiran. Saya tak menyatakan itu liar, tapi terkesan dicocokologi, dengan mencarikan padanan dalam bahasa lain yang mirip. Satu diantaranya menafsir dimel sebagai dobel ‘ganda’, sebab realitanya upacara ini memang digelar dua tahun sekali. Sehingga, Ngusaba Dimel adalah upacara yang ganda.

Melihat itu, kegelisahan saya membuncah. Saya sok menerawang masa depan. Tampaknya bukan tak mungkin jika suatu saat setelah lama kata oke tak digunakan, kata oke nanti akan dimaknai sebagai ‘ya’ selayaknya ok dalam bahasa Inggris. Lalu, kira-kira makna apa yang  akan ditujukan untuk merujuk kata bee?

Selamat memperingati bahasa Bali. [T]

Tags: Bahasa BaliBangliBulan Bahasa Bali
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Virus Corona, Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia

Next Post

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co