10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Permainan Lucu ala Michael Haneke

Surya Gemilang by Surya Gemilang
January 25, 2020
in Cerpen
Permainan Lucu ala Michael Haneke

Ilustrasi: Pandit Parastu

Cerpen: Surya Gemilang


Namaku Arno Frisch, sebelum dipaksa berubah menjadi Paul.

Pada awal 1997, suatu malam, ketika aku sedang tidur nyenyak, Michael Haneke—sutradara asal Austria itu—tiba-tiba membangunkanku dengan satu colekan di dahi. Jangan tanya bagaimana bisa ia masuk ke kamarku. Tanpa tedeng aling-aling, ia berkata, “Aku mau kau bermain di filmku, sebagai seorang pemuda psikopat.” Tentu aku kaget bukan main, dan kurasa wajar saja andai aku marah pada ketidaksopanannya. Namun, karena pada 1992 aku bermain di filmnya, Benny’s Video, sebagai tokoh utama—waktu itu, ia menawariku peran dengan cara “normal”—kuputuskan untuk tak memarahinya, dan bertanya soal film yang akan dibuatnya itu. Secara singkat, beginilah kira-kira penjelasannya: Film tersebut berjudul Funny Games; aku berperan sebagai Paul; bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang berlibur di sebuah rumah di samping danau, lalu mereka kedatangan dua orang tamu psikopat yang pada akhirnya membunuh mereka semua secara perlahan-lahan dan “lucu”.

            Aku kurang ingat bagaimana Haneke mengakhiri pertemuan kami malam itu. Yang jelas, keesokan paginya, di meja makan, tahu-tahu telah tersaji secangkir teh, sepiring tafelspitz[1], skenario Funny Games, dan surat perjanjian. Sesudah menghabiskan teh dan tafelspitz, aku membaca skenario film tersebut hingga selesai, dari pagi sampai siang. Lantas, setelah berdecak kagum sambil memaki Haneke dengan suara lirih, aku menandatangani surat perjanjian itu.

            “Terima kasih banyak, Paul,” sekonyong-konyong Haneke muncul di belakangku dan menyambar surat perjanjian itu, sebelum mendadak lenyap, seakan tubuhnya menyatu dengan udara. (Belakangan, aku bertanya-tanya, kenapa Haneke yang mengambil surat perjanjian itu, alih-alih Veit Heiduschka, sang produser?)

            Karena saking sukanya dengan skenario Funny Games, tadi aku terburu-buru menandatangani surat perjanjian, sebelum membaca isi dari surat tersebut. Namun, sudah terlambat ….

***

Sekitar dua minggu kemudian, sesudah aku membaca skenario Funny Games berkali-kali, aku mendapat panggilan telepon dari Haneke, berbunyi, “Besok pagi, kita akan mengadakan rapat kecil-kecilan di sebuah studio. Di sana, kau akan kuperkenalkan dengan aktor-aktor lainnya. Oya, aku akan menjemputmu.”

Tapi nyatanya Haneke tak menjemputku; begitu terbangun, aku, dan tempat tidurku, tahu-tahu sudah berada di suatu tempat asing, yang perlahan-lahan kusadari adalah sebuah studio. Di sudut studio, terdapat sebuah televisi; kamera yang mengambil gambar di televisi itu berada di sebuah perahu kosong yang mengapung di tengah danau, dan di tepi danau tersebut terlihat sebuah rumah. Di samping televisi, duduklah Haneke seorang diri—tak ada siapa pun di studio ini kecuali kami berdua—yang segera menyambutku dengan, “Selamat pagi, Paul, ayo kita mulai sekarang.”

            “Mulai apa?” tanyaku. “Rapat kecil-kecilan itu? Di mana yang lainnya?”

            Dengan langkah-langkah tenang, Haneke mendekatiku. Kusadari ia memegang sebatang tongkat golf di belakang punggungnya. Ia pun duduk di tepi kasur, di sampingku, dan merangkulku dengan tangan yang tak memegang tongkat. “Hari ini kau akan kumasukkan ke dalam televisi itu.”

            “Hah?”

            Haneke berdiri, dan tanpa basa-basi ia menghantam kepalaku dengan tongkat golf! Aku tidak pingsan; tubuhku hanya mendadak tak berdaya, tatapanku berkunang-kunang. Aku masih dapat merasakan tubuhku yang diseret Haneke mendekati televisi, lantas ia angkat dengan bersusah payah, dan ia lempar ke dalam layar televisi tersebut!

            Aku pun secara ajaib telah berada di atas perahu di tengah danau itu. Ternyata, dari posisiku sekarang, yang kulihat bukan hanya ada sebuah rumah di tepi danau, melainkan beberapa. Dan, di perahu ini rupanya aku tak sendirian; ada seorang pria lain, yang segera memperkenalkan diri sebagai Peter.

            “Jadi,” kata Peter, “ayo kita mulai permainan ini. Aku pilih rumah yang itu sebagai target pertama, karena barusan kulihat ada sebuah keluarga yang baru sampai di sana.”

            “Mesti buru-buru seperti inikah?” Suaraku bergetar.

            “Oh ya, di film ini, bukankah kau yang seharusnya lebih dominan ketimbang aku?”

            “Ya ….”

            “Tapi kenapa kau sekarang terlihat seperti anak anjing sekarat?”

***

Kukira keluarga yang dimaksud oleh Peter adalah keluarga Anna, sang tokoh utama.

            “Bukan. Keluarga Anna belum datang,” jelas Peter, seraya menyalakan mesin perahu. “Mereka yang baru datang adalah keluarga Fred. Keluarga yang akan kita bantai terlebih dahulu sebelum keluarga Anna.”

            “Kita harus benar-benar membantai keluarga Fred?” sahutku, terbata-bata.

            “Kau belum membaca skenario, heh?”

            “Aku sudah membaca skenario, tentu saja. Maksudku, di skenario, bukankah tidak diperlihatkan adegan kita membantai keluarga Fred?”

            Peter tertawa kecil, seakan melihat seekor anak anjing terbuang yang sedang bertindak bodoh di hadapannya. “Benar. Tapi, sesuai isi surat perjanjian, kita harus benar-benar membantai keluarga Fred juga. Bahkan, sesudah membantai keluarga Anna, walaupun film telah selesai pada adegan di mana kau memasuki rumah keluarga selanjutnya, kita tetap harus benar-benar membantai keluarga itu.”

            “Kau dapat surat perjanjian, bukan?” lanjut Peter.

            Perahu mulai melaju. Rasanya aku ingin segera tenggelam saja di danau ini, persis seperti yang Anna alami pada bagian klimaks film.

***

Setelah dipaksa membunuh tiga keluarga dalam permainan lucu ala Michael Haneke dan dibebaskan dari dalam televisi, aku cepat-cepat pergi ke psikolog.

            Sepuluh tahun kemudian, ketika aku merasa kejiwaanku sudah sedikit membaik, aku melihat Michael Pitt di layar bioskop, dipaksa menjadi Paul dalam permainan lucu yang pernah kualami.[T]


[1] Masakan terkenal dari Wina, berupa daging sapi yang direbus dalam kaldu, lalu disajikan dengan saus apel dan lobak.

Tags: Cerpen
Share54TweetSendShareSend
Previous Post

Erick Est di Antida Soundgarden, Film Long Sa’an dan Kreatifitas Berdarah-nanah

Next Post

Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Nyepi Teater Kalangan - Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co