19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian, Kajang dan Jiwa

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
May 27, 2019
in Esai
Kematian, Kajang dan Jiwa

Mas Ruscitadewi

Kematian mungkin menakutkan bagi sebagian besar orang, tapi bagi tidak bagi yang lain. Terutama bagi orang-orang yang telah sangat memahami roh. Konon bagi orang yang seperti itu kematian tak ubahnya seperti pindah rumah, meninggalkan rumah lama untuk kemudian tinggal di rumah yang baru.


Kalau benar kematian tak ubahnya pindah rumahnya jiwa ke rumah jiwa yang baru, maka tentu saja rumah baru ini diharapkan lebih baik, lebih menyenangkan dan membahagiakan. Selain itu, seperti layaknya orang yang pindah rumah, semestinya dilakukan dengan penuh semangat dan rasa bahagia. Tapi, rasa-rasanya sangat jarang di jaman ini, kita menyaksikan bahkan mendengar semangat dan kesumbringahan seseorang yang akan mati.

Yang sering kita lihat, dengar dan tahu bahwa kebanyakan orang seperti tidak nyaman untuk menuju kematian. Banyak yang menunda dengan berbagai cara dan alasan dan bila perlu menolaknya. Ya banyak yang tetap ingin menjadikan dunia nyata ini sebagai rumah bagi jiwanya. Keinginan ini tidak salah, karena kita sebagai manusia memang tidak banyak yang memahami bagaimana caranya untuk memindahkan jiwa dari rumah ini ke rumah yang lain.

Selain itu, kitapun banyak yang tidak tahu dan tidak mengenali jiwa yang ada dalam diri sendiri. Saking tidak kenalnya, bahkan ada diantara kita yang merasa bangga saat ada jiwa-jiwa lain yang bertamu, bahkan kita dengan senang hati mengundangnya untuk hadir.

Di rumah jiwa kita, dalam badan yang hidup dalam alam yang sering disebut bumi, kita juga hidup bersama dengan orang-orang berpengetahuan dan suci, yang konon sangat paham hal ikwal tentang jiwa. Di Bali, orang-orang suci ini dipercaya mempunyai kemampuan untuk mengantarkan  jiwa si mati agar sampai ke rumahnya yang baru, atau paling tidak mengantarkan jiwa si mati agar tak tersesat di jalan. 

Terkait dengan kematian dan jiwa, saya jadi ingat cerita seorang teman yang kebetulan dianugrahi penglihatan menembus alam yang lain. Dalam penglihatannya, ketika neneknya meninggal, jiwa si nenek konon berkumpul di sebuah tempat yang serupa pura  lengkap dengan tempat seperti pasraman dengan stratifikasi sosial yang jelas.

Selain melakukan pekerjaan biasa seperti saat hidup di dunia, jiwa-jiwa si mati tersebut juga diberikan pelajaran tentang aksara bali. Makin menguasai aksara Bali, konon makin tinggilah kelas dan status yang bersangkutan. Sampai di sini saya protes, merasa cemburu dengan teman-teman yang tamatan sastra Bali dan Jawa Kuna dan penekun lontar yang tentu saja lebih menguasai aksara Bali. Tentu saja protes saya tidak ditanggapi teman saya yang bisa melihat, tapi hati dan pikiran sayalah yang dengan aktif mencari jawaban-jawabannya.

Akhirnya untuk sementara saya merasa menemukan hubungan kelas dengan penguasaan aksara Bali terkait dengan penggunaan kajang pada saat upacara pengabenan. Mungkin kajang yang bertuliskan aksara Bali itu berfungsi sebagai kunci energi sebuah ruang tertentu di alam sana. Peningkatan kemampuan dalam aksara Bali, mungkin secara otomatis mengubah struktur kunci energi, yang terhubungan dengan kelas ruang tertentu.

Sampai di sana saya merasa sungguh kagum kepada penemu teknik sistem kajang, dengan jenis aksara Bali tertentu mampu menuntun jiwa ke sebuah tempat agar tak liar dan bergentayangan. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana jika seseorang yang mati itu ingin ke tempat lain, ke tempat yang tanpa sekat dan tanpa kelas?  Bisakah kajang itu mengantarnya ke tujuan?

Sepertinya tidak. Seperti layaknya sebuah perusahan deplover yang menjual villa, maka kunci yang diberikan hanya berlaku untuk ruang-ruang villa milik perusahan itu, yang disesuaikan dengan harga yang dibayar oleh pembeli. Dan sebagai pembeli, ia hanya berhak atas villa sesuai dengan aturan pengembang.

Dan pembeli tetaplah pembeli, pemilik hanya satu villa, termasuk juga keluarga dan keturunannya, sedangkan pengembang akan tetap menjadi pengembang, juga keluarga dan keturunannya. Siklus itu akan tetap berulang dan berulang, kecuali ada pembeli yang sangat kaya dan cerdas sehingga dengan penuh perjuangan akhirnya bisa menjadi pengembang.

Kenapa kajang yang bertuliskan aksara tertentu, bisa menuntun atau mempengaruhi jiwa? Adakah cara membebaskan jiwa dari kajang, dari aksara dan dari pesona para pengembang?  

Jawabnya karena kajang, adalah aksara, yang juga adalah bentuk, yang ditemukan oleh kecerdasan pikiran, dipelihara oleh tradisi. Bentuk dan kecerdasan pikiran adalah kualitas atau lapis 4 dalam proses penciptaan. Dalam patanjali rajayoga dijelaskan tentang proses penciptaan dunia, yang pada prinsifnya menjelaskan tentang lapis-lapis kemurnian dalam penciptaan.

Yang paling prinsip dan murni adalah ratri atau kegelapan kosmik, tempat brahma dan atman berstana bersama yang disebut herdya yang ada di ulu hati, pada kedalaman jiwa. Lapis kedua ditempati oleh nafas, lapis ketiga yang merupakan pengembangan dari nafas dari sesuatu yang hidup adalah indria, yang menciptakan sentuhan, bentuk, warna, cahaya, suara, dan bau.

Dari bentuk tercipta aksara, dari suara tercipta mantra. Kajang adalah turunan dari kemurnian bentuk dan suara, maka yang bisa dipakai untuk menerobos kepekatan sebuah energi adalah energi yang setara, sehingga bisa membentuk perusahan deplover baru, atau dengan energi yang lebih murni darinya, bisa energi lapis 3 atau syukur-syukur lapia 2 atau 1.

Usaha ini tentu saja bisa dilakukan bagi orang-orang yang ingin bebas mencari rumah baru bagi jiwanya. Rumah-rumah baru yang membebaskan, bukan yang mengantarkan pada siklus dan berulang dan berulang lagi.  [T]

Tags: aksarafilsafathindukematian
Share297TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Kesejahteraan Tanpa Desa di Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Next Post

Keep Being You. Be Authentic.

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails
Next Post
Keep Being You. Be Authentic.

Keep Being You. Be Authentic.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co