2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Julio Saputra by Julio Saputra
May 20, 2019
in Khas
Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Bersiap kumpulkan sampah di Desa Tulamben, Karangasem

Tiap kali saya diajak berbicara tentang sampah, membaca berita-berita yang mengulas sampah di media sosial, tau melihat langsung sampah di depan mata saya, terutama sampah plastik, maka ingatan saya akan terbang ke masa-masa saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, dua tahun lalu, yang kemudian menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan melekat di salah satu sudut ingatan saya.

Awalnya, saya merasa sangat senang ketika tahu bahwa kami semua ditempatkan di Desa Tulamben untuk melaksanakan KKN selama 45 hari ke depan, dari bulan akhir Juni, hingga awal Agustus 2017. Pikir saya, menjalani KKN di sebuah desa pariwisata dengan titik diving dan snorkeling yang terkenal di mata dunia tentu akan sangat menyenangkan. Saya juga sempat mencari-cari informasi di internet tentang desa tersebut dan dari sana akhirnya saya tahu bahwa Desa Tulamben memiliki suasana pantai dengan batu-batu koral yang membuat pantai Tulamben menjadi berbeda dengan pantai-pantai yang menjadi destinasi pariwisata di Bali. Karena itulah, saya akhirnya berpikir bahwa desa tersebut pastilah bersih dan tertata rapi, bebas dari sampah atau polusi lainnya. Saya lumayan berekspektasi tinggi waktu itu.

Namun, ketika saya mulai oberservasi tempat bersama teman-teman sesama KKN, ekspektasi saya jatuh seketika. Pesisir Pantai Tulamben saya lihat terisolir oleh beberapa sampah, khususnya sampah plastik. Bahkan sampah-sampah tersebut terlihat jelas di sepanjang jalan protokol kawasan pariwisata Tulamben hingga daerah-daerah bibir pantai yang bertepatan dengan tempat para wisatawan mempersiapkan diri untuk diving dan snorkeling. Belakangan saya tahu hal tersebut dikarenakan oleh melonjaknya jumlah wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan laut Tulamben.

Akhirnya KKN pun dimulai. Di minggu pertama, saya dan teman-teman belum menjalankan satu pun program yang kami canangkan, karena masih harus mengobservasi dan melakukan berbagai pendekatan dengan perangkat dan warga desa di sana. Nah, saat observasi itulah, saya bertemu dengan I Nyoman Suastika S.Or (42) atau akrab disapa Pak Suastika, kepala dusun Tulamben yang juga menjadi Ketua Organisasi Pemandu Selam Tulamben. Beliau bercerita banyak tentang permasalahan sampah yang ada, yang menurut penuturannya lebih parah 10 kali lipat dari apa yang saya temui saat observasi.

Yang muda dan yang tua mengumpulkan sampah di Desa Tulamben

Desa Tulamben sendirinya dihuni oleh 2.613 kepala keluarga. Di sepanjang pantai Tulamben, terdapat 41 hotel yang mampu memperbaki masalah ekonomi sosial masyarakat di sana, seperti berkurangnya pengangguran. Namun, Desa Tulamben juga menghasilkan sampah yang cukup melimpah. Setiap keluarga di Desa Tulamben menghasilkan sampah sekitar 5 kg per hari. Sementara setiap hotel menghasilkan kira-kira 10 kg sampah per harinya. Jika dijumlahkan, Desa Tulamben mampu menghasilkan sampah sebanyak 13.615 kg per hari. Angka tersebut bisa dikatakan angka yang cukup besar. Jumlah sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan jumlah tempat sampah yang tersedia, ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Akibatnya, sampah dibuang begitu saja di sembarang tempat. Banyak terlihat sampah-sampah berserakan di pinggir jalan, ada juga beberapa titik tumpukan sampah tidak terurus. Selain di pinggir jalan raya, sering kali sampah-sampah tersebut juga terlihat tercecer di bibir pantai sehingga membuat keindahan pantai Tulamben berkurang, dan tak jarang sampah tersebut terseret ombak dan menyebabkan laut tercemar sampah. Hal tersebut dapat dilihat saat pembersihan pantai Tulamben pada tanggal 19 Februari 2017 dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional pada 21 Februari yang berhasil mengumpulkan 1,4 ton sampah anorganik seperti sampah plastik dan botol kaca.

Permasalahan sampah di Desa Tulamben sudah tentu menjadi permasalahan yang serius. Itulah yang kemudian mendorong Pak Suastika untuk mencari solusi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat bank sampah sekaligus tempat penampungan sampah terpadu di tanah miliknya sendiri di Desa Tulamben. Bank sampah tersebut ia beri nama Bank Sampah Tulamben Bersehati. Beliau mengajak saya dan teman-teman KKN yang lain untuk melihat secara langsung bank sampah yang ia maksud. Saya dan teman-teman langsung mengiyakan.

Bank Sampah Tulamben Bersehati

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.30 WITA, dengan menggunakan baju lapangan KKN dan training dan sepatu olahraga, saya dan teman-teman langsung menuju lokasi bank sampah yang ternyata terletak tidak jauh dari posko KKN. Di sana, saya dan teman-teman disambut hangat oleh Pak Suastika dan istrinya, Bu Luh Sumartini (42). Mereka berdua mengelola bank sampah tersebut sambil dibantu oleh beberapa warga. Setelah bertegur sapa sebentar, Pak Suastika kemudian mengajak saya dan teman-teman melihat sekeliling sambil menjelaskan segala maksud, tujuan, dan fungsi di bank sampah tersebut.

Gigih mengumpulkan sampah

Menurut penuturannya, Bank sampah yang ia bangun merupakan sistem pengolahan sampah organik dan anorganik dan diharapkan mendorong masyarakat di Desa Tulamben untuk turut serta berperan aktif di dalamnya karena mereka juga merupakan salah satu produsen sampah yang ada di sana. Sistem bank sampah di Desa Tulamben secara umum memiliki 3 tahapan, yaitu menampung, memilah, dan menyalurkan sampah tersebut kepada pengepul.

Masyarakat menampung sampah mereka di bank sampah secara berkala. Ada yang menabung sampah dengan menggunakan kantong plastik besar, ada juga yang menggunakan karung plastik. Tahap menampung ini juga dapat disebut sebagai tahap menabung. Sama halnya seperti bank komersil pada umumnya, masyarakat dapat membuka rekening di bank sampah. Sampah yang ditabung akan ditimbang terlebih dahulu, kemudian dicatat di dalam buku tabungan atau rekening yang juga diisi dengan nilai finansial sesuai dengan berat sampah yang ditabung. Nilai finasial yang diisi tentu saja disesuaikan terlebih dahulu dengan harga yang ditetapkan oleh pengepul sampah. Nilai finansial tersebut nantinya dapat ditarik dalam jangka waktu 6 bulan sekali, biasanya saat menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. Sehingga nantinya masyarakat memiliki uang untuk persiapan hari raya. Lumayan, sekadar untuk beli daging babi ataupun sarana prasarana upakara, atau juga sebagai tunjangan hari raya alias THR.

Sampah yang sudah ditampung atau ditabung kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dikumpukan langsung di satu tempat, sedangkan sampah anorganik dipilah lagi berdasarkan jenis yang berbeda, yaitu plastik, kaca, karet, logam dan kertas. Sampah yang sudah dipilah dan dikumpulkan selanjutnya disalurkan atau dibawa ke pengepul sampah. Pengepul sampah inilah yang nantinya akan membayar sampah masyarakat tersebut. Antusias masyarakat untuk mengikuti program Bank Sampah sangat besar, terlihat dari pagi hingga sore saya dan teman-teman di sana, masyarakat selalu aktif berdatangan dengan membawa sampah yang akan ditabung. Selain itu, anak-anak juga ikut menabung sampah.

Satu hal yang menarik di sini adalah adanya pegolahan akhir berupa pemanfaatan limbah sampah organik dan anorganik yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK Desa Tulamben. Pemanfaatan limbah organik tersebut berupa dedaunan, ranting-ranting pohon, serta buah dan sayuran yang sudah menjadi limbah rumah tangga akan diolah menjadi pupuk organik. Sedangkan sampah non-organik seperti gelas plastik, koran bekas dan kaleng yang tidak disalurkan kepada pengepul, akan dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti tas dan miniatur. Kerajinan tersebut nantinya akan dijual di pos Organisasi Pemandu Selam Tulamben yang ada di desa.

Keberadaan bank sampah inilah yang kemudian meminimalisir jumlah sampah yang ada di Desa Tulamben, terutama di sekitaran titik utama pariwisatanya. Pak Suastika menuturkan, adanya bank sampah di Desa Tulamben memberikan pengaruh postif terhadap sampah-sampah di sekitar desa tersebut. Masyarakat secara sadar memungut sampah-sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan raya kawasan pariwisata Desa Tulamben untuk kemudian ditabung di bank sampah. Harapan ke depan tentu adanya Bank Sampah Tulamben Bersehati mampu mengurangi volume sampah secara maksimal dan mampu menambah penghasilan masyarakat.

Komunitas Rare Segara Tulamben

Sesudah melihat-lihat bank sampah, bertegur sapa dengan beberapa warga yang membantu di sana, juga mendengar penjelasan yang cukup detail dari Pak Suastika, saya dan teman-teman kemudian diajak untuk melakukan pembersihan di sepanjang jalan menuju titik utama pariwisata Desa Tulamben. Katanya, pembersihan akan dilakukan di hari Minggu sekitar pukul 07.00 WITA. Saya dan teman-teman lagi-lagi langsung mengiyakan. Kebetulan, saya dan teman-teman memang berencana mengisi hari Minggu pertama di masa KKN dengan melakukan pembersihan.

Hari Minggu pertama di masa KKN pun tiba, pagi-pagi saya dan teman-teman sudah mandi dan sudah rapi. Dengan menggunakan baju kaos dan celana training, sambil masing-masing membawa polybag besar berwarna hitam, saya dan teman-teman langsung menuju ke titik utama pariwisata Desa Tulamben. Pak Suastika sebelumnya meminta kami menunggu di sana. Namun, meski waktu sudah menunjukan pukul 07.10 WITA, tidak ada tanda-tanda Pak Suastika sudah berada di lokasi. Sampai akhirnya dari balik gang depan titik utama pariwisata Desa Tulamben, Pak Suastika muncul bersama rombongan anak-anak yang membawa polybag hitam besar sama seperti yang saya dan teman-teman saya bawa. Anak-anak tersebut juga akan melakukan pembersihan dengan dipandu oleh Pak Suastika sendiri.

Pembersihan yang saya dan teman-teman lakukan, juga Pak Suastika dan rombongan anak-anak yang ia pandu, baru selesai sekitar pukul 09.00 WITA. Tak terasa sekitar 2 jam waktu sudah berlalu. Mungkin karena pembersihan yang dilakukan dibarengi dengan bercandaan dan guyonan anak muda jaman sekarang. Tak sedikit juga dari rombongan anak-anak yang tertawa terpingkal-pingkal. Dari 2 jam pembersihan itu juga, setiap polybag hitam besar yang dibawa sudah penuh dengan sampah anorganik. Kami semua berkumpul di kantor desa untuk beristirahat sejenak sambil memperkenalkan diri masing-masing. yang pertama memperkenalkan diri adalah saya dan teman-teman saya sendiri. Anak-anak tersebut memilih untuk menjadi yang kedua dengan alasan masih malu. Tidak masalah bagi saya entah menjadi yang pertama atau yang kedua.

Setelah saya dan teman-teman memperkenalkan diri, tibalah giliran mereka. Nah, saat mereka memperkenalkan diri, barulah di sana saya tahu, rombongan anak-anak tersebut adalah rombongan Komunitas Rare Segara Tulamben. Komunitas Rare Segara Tulamben, kata mereka, dibentuk dengan tujuan untuk menyelamatkan keindahan potensi pariwisata Desa Tulamben dari timbunan sampah pariwisata, terutama sampah anorganik. Kemunitas mereka ternyata belum lama terbentuk, baru sekitar 3 bulan sebelum saya dan teman-teman memulai KKN di Desa Tulamben, meski begitu komunitas mereka ternyata sudah terkenal sampai ke luar desa karena komunitas mereka berkontribusi nyata untuk mengubah kawasan pariwisata Tulamben menjadi bersih dan indah.

Pembentukan Komunitas Rare Segara Tulamben ini ternyata diprakasai oleh Pak Suastika dengan harapan anak-anak di Desa Tulamben memiliki kesadaran secara penuh bahwa sampah dapat mencemari lingkungan tempat tinggal mereka. Tentu akan sangat merugikan jika sampah tersebut menumpuk di desa mereka sendiri, meningat desa mereka adalah tujuan wisata yang membawa penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Di samping itu, sampah juga berpotensi untuk mencemari laut mereka, merusak kekayaan alam yang ada dan tentu saja potensi laut mereka tidak akan diminati lagi. Maka dari itu, ia mengajak anak-anak untuk membersihkan lingkungan sekitar mereka, terutama lingkungan pantai.

Rare Segara Tulamben beranggotakan anak-anak yang berusia 7 sampai dengan 13 tahun, mereka terbiasa bangun pagi di hari minggu, selanjutnya menyisir pantai di sekitar daerah mereka. Pak Suastika menuturkan, alasan mengapa anak-anak menjadi fokus pergerakan adalah dikarenakan anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, oleh sebab itu anak-anak harus dilatihkan sejak dini untuk mencintai lingkungan. Sehingga kelak dewasa nanti akan menjadi motor pergerakan-pergerakan untuk kepentingan berbangsa dan bernegara. Lewat pergerakan itu akan tercapai tujuan yang dirumuskan dalam SDGs nomor 14 dan 15 yaitu mengenai kehidupan bawah laut dan kehidupan darat yang nantinya akan berimbas kepada tujuan nomor 1 yaitu pemberantasan kemiskinan. Mantap sekali, Pak.

Nama komunitas mereka sendiri sudah menandakan hal yang harus dilakukan. Rare berarti anak, sementara Segara berarti laut. Rare Segara memiliki arti Anak-Anak Laut. Di tangan merekalah laut di Desa Tulamben akan dititipkan untuk senantiasa dijaga dari limbah sampah yang mengancam keasriannya. Sampah-sampah yang mereka kumpulkan akan dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati untuk ditabung. Mereka semua memiliki rekening mereka masing-masing. Ada juga yang rekeningnya jadi satu dengan orang tuanya.

Saya dan teman-teman tentu saja mendukung apa yang mereka lakukan. Saya memberikan beberapa motivasi dan bercerita sedikit tentang dampak sampah terhadap lingkungan mereka, tentu saja dengan pendekatan yang asik dan lucu. Setelah itu polybag hitam besar yang sudah penuh dengan sampah dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati yang jaraknya sangat dekat dengan kantor desa dekat kami berkumpul. Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Saya dan teman-teman kembali ke posko KKN. Sebelumnya kami sudah berjanji untuk kembali melakukan pembersihan di hari Minggu selanjutnya.

Akhirnya di masa KKN, saya sadar bahwa melaksanakan KKN bukanlah perkara tempat, tapi perkara apa yang bisa kita petik dan apa yang bisa kita pelajari di sana. Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati adalah satu paket inovasi yang diprakasai oleh Pak Suastika dan terbukti mampu meminimalisir produksi sampah di Desa Tulamben. Keduanya punya ruang lingkupnya masing-masing. Komunitas Rare Segara Tulamben melakukan pembersihan dengan cara turun ke jalan, sementara Bank Sampah Tulamben Bersehati mengolah sampah yang diproduksi oleh rumah tangga, hotel, villa, dan restoran yang ada di kawasan pariwisata Desa Tulamben. Mengingat sampah merupakan permasalahan global yang perlu untuk segera ditindaklanjuti, solusi-solusi yang menyasar masyarakat sebagai roda penggerak adalah solusi yang sangat positif. Seperti Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati di atas. [T]

Tags: Generasi Zaman NowkarangasemSampahsampah plastik
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Next Post

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co