6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali

Ainur Azhar by Ainur Azhar
April 5, 2019
in Tualang
Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali

Duduk di atas perahu menuju dari pulau kecil di Madura menuju Bali

Hari itu, 7 Februari 2019, tepat ketika kuhabiskan waktu liburan semesterku di kampung halaman, aku melanjutkan perjalananku kembali ke rantauku untuk kembali menimba ilmu.

Menimba ilmu? Iya menimba ilmulah aku mengatakannya. Kenapa harus menimba imu? Iya karena memang itulah tujuanku ke tempat rantauku ini di Kota Singaraja, Bali. Tentu dengan membawa amanah dari Emak.

Kampung halamanku di Pulau Sepanjang, salah satu pulau di Kepulauan Kangean, Madura. Kampungku berada di wilayah Jawa Timur. Tapi jika ditarik garis lurus melewati laut, kampungku sebenarnya lebih dekat dengan Kabupaten Buleleng, Pulau Bali.

Meski dikata paling dekat, namun untuk menuju ke Singaraja di Kabupaten Buleleng di Pulau Bali juga tidaklah dekat-dekat amat.  Ada tiga jalur menuju Singaraja. Semuanya lewat laut.

Jalur pertama, lewat Jawa. Rutenya, menyeberang dulu ke wilayah kecamatan, Kecamatan Sapeken, selama 2 jam dari pulauku. Wialayah kecamatan itu beda pulau dengan pulau tempatku tinggal. Dari situ dilanjutkan naik kapal perintis selama 10-13 jam ke Jawa, tempatnya berlabuh di Banyuwangi. Sampai di Banyuwangi baru menyeberang ke Bali lewat Ketapang. Jalur ini sangat memakan banyak waktu, sehingga sampai bisa menempuh 3 hari perjalanan.

Jalur yang kedua yaitu naik perahu. Naik perahu itu tidak langsung naik dari pulau Kangean, tetapi harus menyebrang dulu ke kecamatan. Dari kecamatan itu baru dilanjut ke perjalanan selama sekitar 10 jam naik perahu ke Singaraja. Jadi perjalanan ini agak efisien jika di bandingkan perjalanan lewat jalur Jawa.

Dan jalur ketiga, ditempuh langsung naik perahu dari pulauku, tetapi beda desa. Dari situ menuju Singaraja. Waktunya  paling ringkas selama 10 jam perjalanan. Nah, aku biasanya melewati jalur ketiga ini.

Aku kuliah di kampus Undiksha Singaraja. Jika teman lain ada yang pulang kampung setiap seminggu sekali, atau sebulan sekali, aku harus rela pulang kampung setiap libur semester.

Awal tahun 2019 ini, usai libur semester, aku balik ke Singaraja. Balik ke kampus, menuntut ilmu.   Ketika itu, jam 5 subuh tepat, aku biasa bangun. Kali itu ibu yang memenggal mimpiku. Aku dibangunkan ibu karena aku harus mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan hidup untuk kembali ke Bumi Panji Sakti,

Perjalanan hidup? Iya inilah yang menjadi kisah kali ini sekaligus saksi seorang anak muda menapaki jejak dalam perjalanan laut.

Perjalanan itu mungkin begitu-begitu saja. Yang membedakan dengan kawan-kawanku anak rantau pada umumnya mungkin moda transportasi. Mereka mungkin menumpang mobil, atau naik motor. Tidak dengan perjalananku,

Perjalanan kali ini menggunakan sebuah perahu nelayan yang kurang lebih berukuran 2 x 15 meter dengan menghabiskan waktu 10 jam kurang lebih,

“Wow bagaimana kecilnya perahu yang aku tumpangi itu?” tanya salah seorang teman.

Iya itulah kendaraan yang kelak akan menjadi saksi perjalananku ketika sidang di kehidupan selanjutnya menghadap sang khaliq.

Diantar Ibu

Aku kali ini di antar oleh ibu ke pelabuhan tempat perahu-perahu itu, yang akan berlayar membawa ikan-ikan hasil tangkapan nelayan menuju kota Singa Ambara Raja.

Dari rumah, setelah ibu membangunkanku, aku mempersiapkan diri. Ibu mengantarku dengan menggunakan motor ke pelabuhan desa yang memakan waktu sekitar 2 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 20 kilometer. Dengan waktu 2 jam menempuh jarak 20 Km memang bisa dikata terlalu lama. Tapi memang begitulah realitanya, dengan kondisi jalan yang berlubang dan tak mengenal kata aspal jalan, sehingga jalan menuju desa sebelah seakan-akan banyak kolam sepanjang jalan.

Dua jam kemudian tibalah aku bersama ibu ke desa tempat pelabuhan perahu-perahu yang akan pergi berlayar itu, di sana aku dan ibu singgah dulu ke rumah saudara sepupu, tidak langsung menuju perahu karena terdengar kabar perahu itu akan berangkat satu jam kemudian. Aku merebahkan diri sebentar di rumah sepupu.

“Cong, perahunya bentar lagi berangkat!”

Salah seorang teman menyapa dan memanggilku memberi tanda bahwa perahunya akan segera berangkat, temanku yang menyapa tadi itu salah satu orang yang akan ikut nebeng juga ke perahu itu,

Bangkitlah aku dari baringan tubuh yang aku hamparkan di lantai ruang rumah saudara sepupu tadi, aku raih ransel dan barang bawaanku bergegas menuju dermaga kecil yang terbuat dari kayu dan ibu yang membuntutiku dari belakang ikut mengantar ke dermaga, dermaga yang dibuat hasil dari gotong royong warga setempat. Namanya Pelabuhan Tanjung Kaiok.

Masih sangat jelas terasa hasil tangan-tangan warga mengerjakan dermaga itu dengan ciri khas alam yang terbuat 99% diambil dari hasil alam langsung. Aku langkahkan kakiku menginjaki parahu nelayan itu, sebelum aku langkahkan kakiku, aku ambil tangan ibu dan menciumnya.

Ibu berkata dan berpesan untuk kesekian kalinya:“Hati-hatilah di atas itu nanti, jangan duduk menepi, dan baik baiklah ditempat orang, jangan membuat hal yang mempermaluakan keluargamu, ingat tujuanmu menuntut ilmu, jangan sampai buat malu karena kehilangan nyawa lebih mulia dari pada harus menahan rasa malu.”

Itu pesan ibu yang selalu kudengar setiap aku melangkahkan kaki meninggalkan tanah kelahiranku. Kedengarannya memang sedikit ngeri membawa-bawa nyawa segala, tapi dari ibulah aku belajar arti teguh rantauan yang sesungguhnya.

Memulai Perjalanan Laut

Tibalah dalam perjalanan yang sesungguhnya. Sekarang tubuhku kutempatkan di atas atap perahu. Suara mesin perahu yang sedari tadi dihidupkan, mengisi kesunyian lautan kala itu. Dan aroma ikan yang menerkam aroma laut merajai aroma dalam kabin perahu, sedangkan aku yang duduk di atas atap perahu disuguhi aroma knalpot, aroma ikan, dan goyangan-goyangan kecil karena ombak yang mencandai badan perahu dengan sedikit menggoyangnya.

Waktu menunjukkan jam 12 siang kapten perahu mengintruksikan anak buahnya untuk melepas tali yang di ikatkan di dermaga kayu tadi dan itu artinya perahu mulai perlahan memberi jarak dirinya kepada dermaga dan seakan-akan mengucap, “Sampai jumpa kembali wahai dermaga aku pergi berlayar dulu mengarungi lautan bali malam ini”

Perahu perlahan-lahan meninggalkan tempat sandarannya semakin jauh semakin jauh seiring diterkamnya waktu dan dinaikkannya kecepetan perahu, dan tak lupa kupandangi wajah ibu yang menaruh harapan banyak terhadap putrayang meninggalkannya sejak beberapa tahun lalu ini demi mengharap kehidupan putranya bisa menghadirkan perubahan positif terhadap keluarga kelak, yang tak ingin kehidupan putra putrinya sama sepertinya yang kurang pemahaman akan pengetahuan dunia. Tampak di wajah sebenarnya iatak ingin berpisan jauh dengan putranya.

Tak terasa perjalanan 30 menit telah berlalu dari aku memandangi ibu yang masih berdiri di posisi yang sama memandangi laju perahu yang kian mengecil dari pandangannya meninggalkan tempat sandaran tadi. Goncangan perahu pun mulai sedikit terasa lebih bergoyang dari sebelumnya, iya karena candaan-cadaan ombakpun kian kerap menghampiri badan perahu.

Posisiku masih tetap di atas atap kapal, jelas terasa goncangan-goncangan perahu kian menggoyang seiring melaju lebih jaunya perahu kecil itu mengarungi lautan lepas, tak hanya goncangannya ombak tetapi rintihan air yang seakan membanjiri tempat dudukku.

Rintihan air? Iya air, dan itu bukan air hujan yang jatuh dari awan, melainkan air ombak yang menghempas perahu sampai membanjiri tempat dudukku.

Begitulah aku di perjalanan yang hanya bisa duduk di tempat seadanya pasrah akan keadaan selama 10 jam perjalanan.

“Wow 10 jam?”  

Salah seorang kawan dengan nada yang sedikit kaget bertanya ketika beberapa waktu lalu aku menceritakan kisah perjalananku kepadanya.

“Bagaimana keadaanmu selama 10 jam di perjalanan dengan naik perahu kecil pembawa ikan dan tanpa tempat tidur di dalamnya itu?” tanya teman itu selanjutnya.

“Iya, hanya bisa pasrah akan keadan dan menyerahkan perjalanan kepada Tuhan!” jawabku.

Pernah suatu ketika, menjelang lebaran waktu mudik, salah seorang teman berasal dari Medan yang ikut program pertukaran mahasiswa di Undiksha, ikut bersamaku ke desaku, ke kepulauan sana, dengan ikut perahu nelayan itu. Ia ikut dengan bermodal rasa penasaran dan penasaran akan bumi yang belum terjamah oleh para investor beruang.

Ia tertarik ingin menapakkan kakinya ke bumi kepulauan itu, dengan resiko pengalaman yang tak akan pernah dia rasakan sebelumnya dalam hidup.  Dan selama di perjalanana aku sempat berbincang dan ngobrol-ngobrol kecil dengannya sambil menikmati olengan badan yang diberikan perahu.

Satu kata-katanya yang masih aku ingat;  “Ternyata sekaranglah aku rasakan arti sebuah perjalanan nyata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Apa sebenarnya arti perjalanan itu, dengan segala rintangan dan resiko kalian ambil untuk menapaki kaki di kota pendidikan, dan saya yakin tidak ada kata bahwa merantau hanya sekedar pindah tidur ke kota orang, melainkan mengepal tekad semangat juang yang tinggi akan pentingnya sebuah pendidikan. Perjuangan yang ditempuh untuk bisa sampai dengan selamat lahir batin ke tujuan tidaklah semain-main yang aku kira.”

Kawan dari Lombok pun pernah mencoba ikut ingin mencoba karena penasaran, katanya bagaimana rasa perjalanan itu. Dan kesanya:

“Lebih baik saya menyapu Kabupaten Buleleng sampai bersih jika harus mengulangi perjalanan saya ke sana dengan diterjang badai dan ombak di tengah laut sana.”

Sontak saya tertawa lepas akan celetukannya itu.  

Lalu ia melanjutkan, “Semua orang yang pernah terlibat dalam perjalanan itu saya pastikan dosanya akan bersih sampai ke tujuan!”

“Kenapa?”  Saya menyela.

 “Karena semua dzikir saya bacakan dan istigfar yang tak terhitung seraya Al-Qur’an pun seakan saya hatamkan selama perjalanan apa lagi ketika perahu lagi miring-miringnya (oleng) diterjang ombak seakan tak akan ada kata selamat lagi dari perjalanann itu. Dan kukatakan perjalanan ini adalah pintu taubat.” Katanya.

Tertawaanpun menguasai perbincangan kami kali itu

Di waktu lain, salah seorang kawan menceritakan pengalamannya mengarungi lautan di lain waktu.  “Aku pernah nyebrang dari Gilimanuk ke Ketapang dengan ombak 3 meter naik kapal fery sampek muntah-muntah selama satu jam,”  katanya.

Dan aku menanggapi dengan mengajaknya ikut aku.

“Bagaimana seandainya kamu ikut dengan aku mengarungi lautan selama 10 jam dengan naik perahu berukuran 2×15 meter yang terbuat dari kayu yang dibuat oleh tangan-tangan tradisional dengan alat seadanya dan sampai ditengah laut di ombang-ambing badai dan ombak lautan serta hujan? Kalau perjalananmu yang satu jam itu naik kapal fery melawan ombak 3 meter kamu sudah loyo diterkam perjalanan, tidakkah kau bayangkan bagaimana perjalananku selama 10 jam di tengah laut lepas mempertaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa untuk sampai kesini?”

Sedikit temanku itu termenung dan membayangkan bagaimana perjalanan yang aku tempuh itu dan seraya tak membayangkan bagaimana nasib seorang pemuda di atas sebuah perahu kecil pengangkut ikan mengarungi samudra.

Di Tengah Laut

Jam 17.00 tak terasa perahu telah melaju 5 jam dari tempat sandarannya tadi kebisingan knalpotpun makin membising di teling. Hempasan ombak makin kuat menerjang badan perahu hingga permukaan atap perahu pun dipenuhi air yang menggenang tipis dan membasah kuyupkan tubuh dan pakaianku.

Laju angin yang mulai kencang menciptakan udara dingin menyelimuti diri hingga seakan memberi kode aku untuk memperbaiki jaket yang kukenakan dan mengeluarkan sarung dalam ranselku. Gemuruh ombak dan kebisingan knalpot seakan bertarung merebutkan posisi mengisi kebisingan bumi selama perjalanan itu.

Langit yang berwarna jingga seakan tak kuasa menahan gerakan mentari yang telah menibakan waktunya akan tugas menyinari bumi pada hari ini. Begitu indah sunset kala itu aku nikmati di atas sebuah perahu mengiringi perjalanan itu.

Aku masih tetap dalam posisiku, di atas atap perahu. Di atas atap perahu ini aku bersama seorang bapak yang sama-sama numpang untuk ikut nyebrang ke Pulau Dewata, jelas tujuannya bukan untuk kuliah, melainkan membawa ibunya yang sedang sakit untuk berobat ke Tanah Bali.

Iya, berobat. Karena di pulauku tidak ada yang namanya rumah sakit seperti di kota-kota. Yang ada hanya puskesmas dengan peralatan medis seadanya.

Kok di atas atap perahu? Kenapa tidak mencari posisi aman atau tempat yang lebih aman di dalam kabin perahu? Iya, karena dalam kabin perahu dipenuhi oleh box-box yang dipenuhi ikan sehingga tempat tidak terlalu luas di sana dan hanya diperuntukkan bagi kaum hawa saja.

Di Dalam kabin memang para kaum hawa akan duduk di atas box-box berisi ikan  sambil menikmati kebisingan mesin bau amis ikan dan rasa pengap di dalamnya. Hehe macam di jaman penjajahan waktu kerja paksa dulu, macam disekap gitu.

Waktu terus berjalan, langit pun mulai gelap gugusan pulau-pulau sudah hilang di pandangan dan hanya tinngal sebuah perahu nelayan inilah menjadi bahan adonan para ombak malam ini. Iya, adonan yang diombang-ambing oleh lautan seperti sebuah bola yang dimainkan dalam lapangan yang ditendang kesana kemari.

Begitulah umpama perahu ini yang sedang dicandai oleh alam dan ombak-ombaknya seakan-akan tak memperdulikan teriakan, dzikir, takbir dan tahmid yang dilantunkan isi perahu untuk mengharap belas kasih Tuhan akan keselamatan, seakan-akan dalam perahu itu sedang berlagsung pengajian tahlilan karena para isi perahu yang tiada hentinya meneriakkan ayat-ayat suci utuk mengganti rasa takutnya, termasuk aku juga.

Lanjut terus berjalannya waktu, aku coba membaringkan badan di atas atap perahu ini dengan sekeliling yang sudah basah oleh terpaan ombak selama perjalanan tadi. Tubuh yang basah kuyup, pakaian yang sudah kuyup pula sehingga aku tak kuasa lagi menahan lelah dan letihnya tubuh yang sangat dingin dengan tiupan angin laut mengalahkan kedinginan ketika memuncak.

Aku hamparkan tubuh ini tak aku pedulikan lagi alengan-olengan badan perahu, aku baringkan badan yang hanya berbantal lengan, aku pejamkan mata perlahan, kutarik nafas, kusatukan fikiran dan hati kuserahkan diri ini hanya kepada Ilahi mengharap belas kasih akan keselamatan diri.

Matapun terpejam dengan menahan gigil tubuh yang basah dan makin dingin akan tiupan angin, tak ada yang lain melintang dalam pikiran kala itu, melainkan wajah ibu (kedua orang tua) yang menaruh harap melepas anaknya pergi ke rantauan orang dengan do’a terbaik yang ia berikan mengiringi perjalanan seorang putra yang diharapkan memimpin keluarga kelak. Dan belas kasih Tuhan akan pertolongan keselamatan untuk sampai dengan selamat ke tujuan.

Tak terasa berapa lama aku pejamkan mata, hingga akhirnya kubuka mata kembali, mengangkat tubuh dari baringan. Kulihat sudah lampu-lampu rumah penduduk di pegunungan-pegunungan itu, kala bintang-bintang yang menghiasi langit bumi yang selama perjalanan aku nikmati.

Aku lihat jam di lengan kanan menandakan waktu telah menunjukkan jam 01 dini hari, tak kusangka perjalanan tak secepat yang aku kira, perjalanan itu memakan waktu 12 jam lebih. Kondisi gelombang yang tinggi menyebabkan perahu makin lambat dari biasanya mengarungi laut tadi malam. Hati inipun sedikit lega melihat gemerlap lampu-lampu di pegunungan itu yang menandakan sedikit lagi perahu akan menyandarkan diri ke dermaga tujuan,.

Dan sampai di sini tibalah aku ketempat tujuanku. Pulau Dewata, kota pendidikan, tepatnya di Singaraja. Perahu berlabuh di Pelabuhan Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng. Dari situ aku cari ojek untuk menuju Singaraja, tempat kampus Undiksha. Aku kuliah dan melupakan perjalanan 12 jam di laut itu. Karena enam bulan lagi aku akan pulang kampung kembali, dan kembali menempuh laut, begitu selanjutnya ketika balik lagi ke Singaraja.

Dengan perjalanan serumit itu, aku tak mau membelokkan cita-citaku, sehingga akan sangat rugi jika aku tak melakukan kuliah dengan baik. [T]

Tags: balibulelengkuliahMaduramahasiswaperjalananUndiksha
Share348TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Next Post

Diskusi Sampai Pagi di Omah Laras – Dari Budaya Layar hingga Seni Pasca ‘65

Ainur Azhar

Ainur Azhar

Kuliah di Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNDIKSHA. Berasal dari Kepulawan Kangean, Sumenep Madura. Kini menjabat sebagai Sekertaris Umum Bidang Ham dan Lingkungan Hidup (HLH) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cab. Singaraja. Motto : “Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal" (YaKuSa)

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi Sampai Pagi di Omah Laras – Dari Budaya Layar hingga Seni Pasca ‘65

Diskusi Sampai Pagi di Omah Laras – Dari Budaya Layar hingga Seni Pasca ‘65

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co