1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

B. B. Sugiono by B. B. Sugiono
March 19, 2019
in Khas
Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Politik. Politik. Politik—dengan maraknya politik yang memanas pada pilpres tahun ini, menimbulkan efek gerah bagi kalangan mahasiswa. Sehingga mereka merasa terpanggil untuk angkat bicara—dan suara-suara mereka baru terealisasi pada: Senin, 18 Maret 2019, dalam agenda acara yang diselenggarakan oleh PC IMM Buleleng.

Dengan bentuk Diskursus Kecil Ala ILC, acara ini mengundang berbagai organisasi-organisasi ekstra kampus dan intra kampus; dengan masing-masing perwakilan pembicara atau sederhananya pematik, seperti PC IMM Buleleng (Dammurrosysyi M), KAMMI Komisariat Singaraja (Abdul Razaq), Al-Hikmah Undiksa (Didin Samsul M), HMI Singaraja (Achmad Halim), PC PMII Singaraja (Mochammad Mahfud), PC KMHDI Buleleng (Putu Esa Purwita), PW PII Bali (Fadzul Afyan), dan Compok Basi (Ahmad Anif Alhaki).

            Acara ini bukan dalam rangka yang gawat-gawat. Tapi ini hanyalah  diskusus-diskusus ringan yang kebetulan ingin mengundang segenap OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) yang ada di lingkungan Undiksha/Singaraja. OKP tersebut bukan hanya mencakup suatu organisasi yang digeluti oleh mahasiswa. Tetapi ada juga OKP yang digeluti oleh siswa, contohnya: PW PII (Pelajar Islam Indonesia) Bali.

Selain itu, adapun tema yang diangkat pada acara ini: Merawat Akal Sehat di Tahun Politik. Tema ini dipilih berdasarkan subjektif anggota-anggota PC IMM Buleleng, yang beranggapan bahwa politik yang terjadi saat ini sangatlah kotor.

Maka dari itu, pemilihan tema yang seperti ini diharapkan dapat menetralisir kekotoran-kekotoran politik tersebut, yang sering dimamahkan kepada masyarakat. Khususnya dalam forum ini yang disasar adalah siswa dan mahasiswa, apanya yang disasar dari mereka?: akal sehatnya. Agar segenap siswa dan mahasiswa tidak terkontaminasi dengan sajian politik kotor yang ada pada pilpres Indonesia tahun ini

Untuk kelancaran diskususnya, acara ini dikawal oleh moderator Samsul Arifin yang berstatus anggota dari PC IMM Buleleng. Meski moderator ini tidak seserak Karny Ilyas suranya, tapi ia dapat mengawal keberlangsungan acara dengan sangat baik, aman, damai, bijaksana.

***

  • Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Memasuki inti dari acara, Samsul Arifin yang berstatus sebagai moderator meminta pembicara dari masing-masing OKP untuk berpendapat mengenai persoalan politik yang sedang terjadi saat ini. Kemudian menunjuklah ia Ketua PC IMM Buleleng (Damurrosysyi M ) untuk berbicara sekaligus memjadi pembuka diskursus pada tadi malam.

Damurrosysyi M berpendapat bahwa politik saat ini memang sangat rusak. Dan tidak lain kerusakan tersebut disebabkan dari dua faktor: pertama, penebaran hoax yang bermunculan. Hal-hal semacam hoax ini sangat merusak pola pikir para pemuda dan secara tidak langsung memaksa mereka untuk terjerusmus dalam pola pikir yang salah. Yang sengaja dibuat-buat oleh oknum-oknum dari masing-masing paslon capres-cawapres untuk kepengentingan-kepentingan mereka dalam pilpres tahun ini.

Kedua, penebaran ketakutan dan ancaman tertentu demi mendapatkan suara dan simpati rakyat. Ini juga perbuatan yang salah dalam berpolitik. Sebab arah kalimat-kalimat yang digunakan kemudian mengarah pada kebencian-kebencian yang dimamahkan dan dipertontonkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, apabila penerima dan pengonsumsi ancaman-ancaman tersebut tidak kuat dalam bidang literasi atau meneliti benar tidaknya yang disampaikan para oknum-oknum itu, maka yang terjadi adalah munculnya jiwa-jiwa kebencian dan fanatisme yang berlebihan.

Setelah itu Mochammad Mahfud juga berpendapat, bahwa : Mereka-mereka yang menyebabkan kekacauan politik dan pengonsumsi isu-isu hoax sebenarnya mereka akalnya sama-sama sehat. Tapi nalarnya mereka yang terlalu sempit, karena fanatisnya terhadap paslon. Sehingga membuat banyak kegaduhan-kegaduhan yang bermunculan. Sampai-sampai kondisi politik saat ini tidak jauh beda dengan politik masa Orde Baru ; salah satu contohnya adalah terangkatnya isu-isu komunis ke ruang publik. Sehingga yang dicapai bukan lagi persoalan kesejateraan, tetapi lebih keranah pembunuhan moral.

Lanjut Achmad Halim berpendapat : Bahwasannya memang kerusakan politik saat ini banyak dicemari media sosial, media social yang mana? Media sosial yang menggunakan data-data dan berita-berita yang palsu guna untuk merusak akal sehat. Khususnya kerusakan akal sehat terhadap politik. Apalagi jika media-medianya menyebarkan hoax isu-isu agama. Pasti masyarakat akan cenderung aktif terhadap isu itu.

Karena dasar kulturnya memang begitu ; memang begitu kalau sebenarnya masyarakat Indonesia ini memang sensitiffan dan fanatikkan.  Sehingga, dengan adanya gejala-gejala semacam itu akan semakin untuk mencapai yang dinamakan akal sehat—dan terciptanya akal sehat juga bukan dasar telanjang pemikiran setiap pribadi, tetapi juga membutuhkan persepektif -persepektif dari beberapa orang.

Berbeda dengan apa yang disapakan oleh Ahmad Anif Alhaki. Ia lebih menyatakan pendapat terhadap perkumpulannya yaitu, Compok Basi. Katanya, Compok Basi itu hanyalah perkumpulan kecil yang tidak sengaja nyasar ke tempat perkumpulan-perkumpulan yang besar seperti sekarang. Dan ini juga menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi saya dan kawan Compok Basi lainnya.

Ia juga berasumsi tentang penggalan tema yang terangkat, yaitu : Merawat akal sehat. Dari kata merawat tentu sudah pasti ada sesuatu yang kita punya dan ada sesuatu yang musti kita jaga. Apa? Akal. Saya yakin semua yang bisa hadir di depan saya ini punya akal semua.

Pertanyaan saya, apakah semua akal kawan-kawan yang ada di depan saya ini sudah sehat atau tidak? Dan untuk mendefinisikan akal sehat pun tidak sekadar mentah-mentah saja. Tetapi akal sehat juga harus teruji secara bentuk yang rill. Jika dalam suatu pengujian sudah lolos, maka bisalah beranggapan bahwa akal tersebut benar-benar sehat. Bukan sebatas cuma-cuma atau ala kadarnya menganggap sesuatu yang tidak sehat dipaksakan untuk sehat. Bukan seperti itu!

Ini juga dapat diperdekatkan terhadap makna cebong dan kampret yang sering diumbar di berbagai media. Dan terkadang, setiap apa yang disampai oleh dua cebong dan kampret ini biasanya menyangkut-pautkan dengan kitab suci yaitu Al Qur’an—dikit-dikit suruh cek Al Qur’an, dikit-dikit suruh cek Hadist. Duh.Duh.Duh. Tapi wajar sih, karena ini memang tahun politik. Jadi semua bisa dipolitisasi, dan kebetulan agama dan kitab suci Al Qur’an adalah suatu senjata yang paling ampuh untuk mencari dan mengikat suara masyarakat. Dalam konteks yang beragama muslim.

Pernyataan yang disampaikan oleh Fadzul Afyan hampir serupa dengan pernyataan sebelumnya dalam memahami: Merawat akal sehat. Ia juga mengemukakan bahwa setiap manusia mempunyai akal yang sekaligus menjadi pembeda dengan mahluk yang lain. Dan dalam forum ini rasanya yang hadir manusia semua. Berarti sudah pasti punya akal meski tidak tahu sehat tidaknya.

Ia juga menyatakan sikap dirinya dan organisasi yang sangat sensitif terhadap politik. Akibat dari kejadian masa silam yang masih menjadi trauma yang membekas sampai saat ini. Bekas ini dimulai sejak PII pada masa Orde Baru diancam untuk bekukankan. Dan akhirnya Soeharto membekukan sungguhan. Sejak saat itulah PII takut dan was-was terhadap politik.

Sambung Putu Esa Purwita, tahun politik sebenar yang jusrtu merusak akal sehat. Dengan banyaknya informasi informasi yangg dikonsumsi secara mentah dan itu adalah hoax. Maka yang terjadi, timbullah bibit-bibit kebencian dan bentuk-bentuk tidak baik lainnya.

Pesan saya hanyalah, pilihlah sesuai hati nurani tanpa merusak demokrasi orang lain atau warga negara yang lain. Mari dukung pemilu tahun 2019 tanpa ada rasisme dan tindakan tindakan radikal lainnya.

Yang terakhir pernyataan yang disampai oleh Abdul Rozaq.

Ngelucu sejenak.

Judul tren merawat akal sehat di tahun politik. Jika arti merawat berarti sudah ada yang tumbuh dan musti dijaga. Maka guna akal sehat sebenarnya adalah untuk memahami suatu keadaan secara autentik. Tanpa dikendalikan doktrin-doktrin apa pun. Dan juga keakalsehatannya juga perlu diuji secara valid. Agar kemudian tidak menciptakan paham sekadar ikut-ikutan.

Adapun juga tentang keadaan saat ini, yang begitu banyak racun-racun yang diperantarai media untuk merusak saraf-saraf akal sehat manusia. Meski, sebenarnya tidak semua media memahkan racun. Tapi justru pada apa yang musti disampaikannya. Entah itu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.

***

Setelah semua dari masing-masing pembicara usai menyampai pendapat-pendapatnya. Kemudian moderator mengalihwahanakan pada pembahasan mengenai keadaan demokrasi yang sedang terjadi pada menjelang pilpres saat ini.  Karena yang kita ketahui bersama bahwa demokrasi sebenarnya ialah apa yang disampaikan oleh Abraham Lincoln, yaitu: Dari rakyat. Oleh rakyat, dan Untuk rakyat. Dan demokrasi yang masih tercium baunya sampai sekarang ini adalah demokrasi yang muncul sejak runtuhnya masa Orde Baru.

Ahmad Anif alhaki memaknai sebuah demokrasi melalui tiga konsep, yaitu: Cinta (berdasarkan perasaan), Kerendahan Hati (menghargai pendapat orang lain), dan harapan (harus ada hasil yang dirapkan) agar tidak menimbulkan sikap apatis.

Sedangkan Nama Urwah Al Barki seorang anggota KAMMI lebih mengarahkan penjelasannya pada kesalahan demokrasi. Ia beranggapan bahwa kesalahan demokrasi adalah ulah masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang sebenarnya salah dalam memandang demokrasi. Sehingga yang terjadi ialah kecenderungan berpikir buruk terhadap peran demokrasi dan keadaan demokrasi yang terjadi seperti saat ini.

Lanjut Jaswanto yang sebagai anggota HMI menyatakan pandangannya tentang politik dan demokrasi. Katanya, dari hadulu kita telah melewati tiga tahap demokrasi yang pernah dialami bangsa dan masyarakat Indonesia, yaitu demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, dan kemudian yang yang terakhir adalah demokrasi pancasila. Dan keadaan demokrasi saat ini telah menyayat sila keempat yang berbunyi: Kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tapi kondisinya sekarang bagaimana? Pemilu kita bagaimana? Apakah sudah menerapkan permusyawaratan perwakilan itu? Tentu jawabannya tidak!

Kemudian anggota Rodatul Sarifah anggota IMM juga berpendapat tentang demokrasi dan juga dikaitkan pada peran-peran mahasiswa yang katanya agen perubahan. Tapi apakah mahasiswa sekarang bisa dibilang agen perubahan? Atau justru yang mudah bergaul dengan hoax-hoax yang busuk. Sehingga pada akhirnya hanya menimbulkan kontroversi dan terhindar dari kemakmuran rakyat. Karena mereka semua telah rabun literasinya, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu hanya untuk menginginkan kursi kekuasaan. Bukan kesejateraan. Masyarakat juga sangat tidak sadar bahwa pecahnya bangsa Indonesia ini disebabkan oleh kaum-kaum berdasi yang haus kekuasaan. Bahkan dengan cara menumbalkan masyarakat.

Setelah itu yang Ahmad Nur Amin anggota PMII yang sekaligus menjadi penutup tulisan ini. Ia beranggapan bahwa sebenarnya kedaan demokrasi di Indonesia itu tidak pernah salah. Karena demokrasi yang berjalan sekarang sudah berjalan sebagaimana mestinya. Meski dari pandangan beberapa pihak mengatakan tidak sesuai, karena diperantarai banyaknya aturan-aturan dan batasan-batasan yang harus dipatuhi sebagai warga negara.

Sebenarnya kan bukan begitu. Demokrasi memang konsep kebebasan tapi bukan berarti tanpa aturan. Maka dari itu, sebenarnya demokrasi memang membutuhkan aturan sebagai ukuran batas. Agar tidak semena-mena menghakimi orang lain, agar tidak semena-mena berbuat kriminalitas, agar tidak semena-mene berperilaku yang merugikan orang lain. Maka, demokrasi itu perlu diberi batas. Dengan cara bagaimana? Dengan cara memberikan aturan yang sesuai dan sebagai mana mestinya.

  • Pesan-pesan

Politik adalah sesuatu yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Jadi jangan pernah takut untuk menyatakan diri sebagai orang yang berpolitik. Adapun cuitan-cuitan yang disampaikan dari para pembicara-pembicara: Betapa bangganya Soeharto jika memerintah pada tahun ini, betapa senangnya Soeharto jika memerintah pada masa ini, betapa tertawanya Soeharto jika berbuat zolim pada periode ini. Karena mahasiswa yang sangat ia ditakuti, karena mahasiswa yang selalu membawa berita buruk bagi pemerintahannya, seperti sediakala ketika meledakkan peristiwa 1998 ternyata sekarang sudah tidak lagi ditemukan! Bahkan telah hilang! [T]

Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Law of Attraction: Memanifestasi Harapan

Next Post

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

B. B. Sugiono

B. B. Sugiono

lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo. Kini merantau di Singaraja, Bali; menjadi pekerja teks: penyair dan prosais. Untuk menghubunginya bisa melalui nomor 082301299466. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, antara lain: Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Denpasar Post, Malang Post, Kurung Buka, Galeri Buku Jakarta, dan lain-lain. Salah satu pendiri Majalah Lentera Bayuangga (MLB).

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co