6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
March 11, 2019
in Esai
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Bagai si pungguk merindukan beasiswa, eh merindukan bulan, eh merindukan buku, akhirnya buku yang dirindukan pungguk ketemu juga.

Dari dulu ingin sekali saya memiliki buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Ya, seperti pungguk meridukan buku.

Padahal, seperti pungguk buruk rupa, saya tak mengerti banyak soal kritik sastra. Maka isenglah saya mencari-cari bagaimana rupa dan wajah teks kritik sastra itu. Saya belajar sana-sini, sedikit-sedikit, tapi lama-lama perasaan ini menjalar ke sekujur tubuh sehingga niatan untuk mencari buku kritik sastra yang benar-benar bernas dan serius dan berani, terus menggebu.

Saya pun memcari buku Katrin Bandel lewat dunia maya. Karena ternyata buku itu sudah lama ada di dunia nyata, tapi dasar saya memang pungguk, ya, tahunya baru belakang-belakangan ini.

Pencarian di toko buku dunia maya-maya pun dilakukan. Dari sekian toko buku hanya dua toko buku yang menuliskan stok sisa 1. 

“Selamat siang, Mas,” pesan saya kirimkan ke salah satu narahubung toko buku tersebut, sembari mengirimkan link dagangannya. Sepuluh menit tidak dibalas, saya mulai tidak enak badan, mual, perut kembung dan perasaan buku diambil duluan oleh orang jahat* pun tumbuh.

*Jahat di sini merujuk pada kutipan Joseph Brodsky yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bunyinya begini, “Ada yang lebih jahat dari membakar buku, tidak membacanya!”. Nah, saya kan takut itu terjadi, saya pun mengirimkan pesan lagi. 

“Mas.., Haloo .. cek, Mas! Cek..”

“P”

“P” 

“P” 

“P” 

Kata teman saya, kalau kita mengirimkan pesan dengan hanya huruf P, itu semacam ketika kita menggunakan BBM, jadi secara tidak langsung itu akan menimbulkan getar pada HP. Entah benar atau salah, saya melakukannya siapa tau aji mumpung.

Entah HP Mas-nya getar atau merasa terganggu oleh chat yang seperti itu, dia pun membalasnya, “Wah kalau itu sudah habis dulu mas. Yang lain mau, Mas?”

Saya pun menjawab, “Tidak Mas, tyada yang bisa. Saya tak bisa bersanding dengan yang lain.”

“Okeee! Bye!” Mas-nya membalas ketus. 

Singkat cerita, suatu hari di Jogja diadakanlah sebuah Festival Literasi dan Pasar Buku. Karena hati kecil saya waktu itu mengatakan akan ada banyak buku bagus nan langka, saya pun berangkat ke sana.

Perjuangan naik kereta selama 12 jam pun terbayarkan ketika saya menemukan buku ini di tumpukan dan tak terlihat ada yang mencarinya, seketika itu saya mengambilnya. Berikut saya tuliskan kenapa buku ini ingin sekali saya miliki. 

KMTKI

Membaca buku ini kita akan dihadapkan pada persoalan kritik sastra yang dilakukan begitu menarik oleh Katrin Bandel kepada karya sastra Indonesia pra dan pascakolonial. Katrin Bandel, dari namanya kayaknya udah bandel dan suka banget mengkritik ya.

Katrin Bandel adalah seorang penulis yang berasal dari Jerman. Dia menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di Universitas Hamburg, Jerman dengan judul “Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia”.

Buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel

Katrin adalah seorang Indonesianis. Karena merasa ikut memiliki sastra Indonesia kebanyakan penelitiannya menggunakan bahasa Indonesia ketimbang menggunakan bahasa Inggris.

Tujuannya tak lain agar orang Indonesia sendiri punya kesempatan untuk mengakses penelitian-penelitian sastra di Indonesia. Lah, kok saya tau? Eits, saya bukan balian, cuman baca beberapa sumber aja. 

Ada beberapa bab dalam buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Seperti pada bab Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KMTKI), Katrin mekritik penerbitan KMTKI dilakukan jelas dalam kerangka politik identitas.

Bagi Katrin sendiri penerbitan KMTKI ini dipahami sebagai bagian dari kebangkitan politik identitas etnis Tionghoa setelah runtuhnya Orde Baru. Hal tersebut terungkap dengan cukup eksplisit dalam antologi itu sendiri.

Dalam pengantar “Sekapur Sirih” dijelaskan bahwa “kepeloporan [Peranakan Tionghoa] dalam proses kebangsaan Indonesia melalui perkembangan Kesastraan Melayu Tionghoa selama ini kurang mendapat pengakuan. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa tujuan penerbitan adalah untuk menuntut agar sekian banyak karya yang selama ini dilupakan, diakui sebagai bagian dari sastra Indonesia.

Dalam bab yang sama Katrin juga mengkritik soal isi dari KMTKI ini, apalagi yang jilid 1. Meskipun antologinya berjudul Kesusastraan, apalagi jika mengarah kepada pengakuan sebagai karya yang bernilai “sastra”, antologi ini sudah melenceng karena di KMTKI jilid 1 terdapat dua teks yang jelas-jelas bukan karya sastra yaitu “kitab eja” yang tampaknya disusun sebagai bahan ajar anak-anak sekolah dasar dan juga informasi dan ulasan mengenai olahraga tinju.

Jadi, antologi ini pun dikritiknya sebagai antologi yang dipenuhi ketidaktegasan mengenai kriteria pemilihan karya. 

Laskar Pelangi

Pada bab Laskar Pelangi, dia mempertanyakan posisi Laskar Pelangi sebagai sebuah karya terjemahan atau sanduran. Hal ini karena pada versi bahasa Inggrisnya ada begitu banyak pembaruan yang dilakukan bahkan hingga melebihi 10 bab dari versi aslinya.

Sehingga, ada sedikit kerancuan jika karya tersebut dikatakan sebagai sebuah karya terjemahan karena selain ditambahkannya bab yang tak sedikit, hadirnya karakter baru juga membuat karya versi bahasa Inggris ini semakin jauh dari aslinya meskipun dari segi judul, versi bahasa Inggris diterjemahkan langsung menjadi The Rainbow Troops. Versi Inggris “diterjemahkan” Angie Kilbane. 

Andrea Hirata tidak hanya sekedar memposisikan diri sebagai penghibur tapi juga sebagai sejenis pembela keadilan. Namun dengan adanya eksotisasi penderitaan dalam beberapa contoh versi inggrisnya, juga informasi menyesatkan mengenai kebudayaan Indonesia, sistem pendidikan Indonesia dan sebagainya, lewat kritiknya Katrin mempertanyakan, apakah kita masih dapat percaya cita-cita luhur Andrea Hirata? 

Pada bab yang sama, membaca catatan kaki tentang pengakuan prestasi ke”internasionalan” Andrea Hirata membuat saya tertawa.

 “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa yang mendunia, tapi alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.”(metrotvnews.com, 12 Februari 2013).

Lucu saja, Andrea Hirata begitu pongah mengakui prestasi keinternasionalannya, apa dia tidak sadar Pramoedya Ananta Toer pernah mendapat nominasi nobel dan karyanya diterjemahkan dalam beberapa bahasa bin digunakan sebagai buku yang harus dibaca untuk belajar tentang Indonesia? 

Andrea Hirata kini memposisikan diri sebagai penulis Indonesia yang sukses di luar negeri. Namun, siapa sebetulnya yang menulis novel yang sukses di luar Indonesia tersebut? Apakah The Rainbow Troops merupakan karya Andrea Hirata sendiri? Ataukah itu kolaborasi antara dirinya dan Angie Kilbane?

Seksualitas dan Sastra Indonesia

Tak berhenti di sana, Katrin juga menyinggung Seksualitas dalam Sastra Indonesia. Salah satunya, kritiknya kepada Saman karya Ayu Utami yang bagi pembaca dikaitkan dengan feminisme, kebebasan seksual, dan kebaruan dalam dunia sastra Indonesia dikatakan olehnya adalah sebuah bentuk yang salah kaprah.

Bagi Katrin membaca Saman karya Ayu Utami tidak memberinya informasi apapun mengenai feminisme. Dia pun sangat menyayangkan jika ada orang yang menyamakan atau secara spontan menghubungkan feminisme dengan Ayu Utami, atau menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks bebas.

Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup merugikan menurut pandangan Katrin karena menimbulkan kesan seakan-akan “maju” atau “terbelakang” nya seorang perempuan tergantung terutama pada perilaku seksualnya.

Hal ini dijelaskannya begitu runut hingga kritik mengarah ke tulisan Goenawan Mohamad (GM) yang berbicara soal Ayu Utami dan karyanya “The Body is Heard” yang cenderung politis.

Dalam tulisannya, GM mengatakan bahwa Ayu Utami pada rejim Orde Baru adalah salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang melawan kecenderungan umum apalagi Ayu Utami dikatakan memiliki bahasa yang khas.

Pernyataan GM yang seperti itu sempat dikritik oleh Katrin karena dipandang sebagai pernyataan yang sangat berlebihan. Karena bagi Katrin sendiri sebagian besar sastrawan pada rejim itu bersikap kritis, apalagi tahun-tahun terakhir rejim. Sastrawan pada masa itu justru mencari gaya dan cara penyampaian kritik yang berbeda (karena kebebasan berpendapat sangat terbatas) sehingga tidak menyampaikan protes dengan lantang. 

Lebih jauh Katrin juga mengkritik soal GM yang menghubungkan persoalan perlawan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan.

Katrin mempertanyakan seperti apa bahasa terobosan baru yang khas? Yang begitu feminis? Yang menghadirkan tubuh dalam bahasa? Maka bagi Katrin sendiri semua itu hanya klaim yang cukup luar biasa. Yang sulit dipahami karena memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan atau bahkan tidak pernah digunakan dalam bahasa Indonesia.

Maka, bagi Katrin, GM dalam tulisannya hanya menuliskan asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat argumentasi dan bukti. 

Rekomendasi

Nah, itu sedikit bocoran dalam buku ini hehe. Masih buanyak hal seru lainnya yang kawan-kawan pasti dapat lewat buku ini. Saya merekomendasikan buku ini bagi kawan-kawan yang tertarik untuk tahu beberapa esai kritik sastra Katrin Bandel pra dan pascakolonial.

Buku ini juga mengajak kita untuk melihat celah-celah kecil gagasan yang diusung oleh beberapa karya sastra agar tak terbawa oleh arus sastra yang dipolitisi. Ya selain sebagai bacaan latihan belajar berpikir kritis kawan-kawan semua. Belajar sepanjang hayat toh? 

Sering-sering buka tatkala.co, di kolom RAK BUKU nanti kita bicara buku lebih lanjut, jika ada waktu hahaa. Paling tidak, sebulan sekali ya. Komen jika ada judul buku seru, siapa tau nanti ulasannya di Rak Buku. 

Dua tiga anjing menggonggong, share yang rajin dong. Terima kasih. [T]

Tags: BukukritiksastraSastra Indonesiatoko buku
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Porno – Bacaan Orang Dewasa

Next Post

Semua Adalah Rumah

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Semua Adalah Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co