5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Ikhlas dari Pertiwi

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
March 6, 2019
in Esai
Belajar Ikhlas dari Pertiwi

JIKA alam semesta ini adalah ruang perenungan, sungguh melimpah sumber renungan yang tersaji apik – menampakkan dirinya. Sumber itu tidak jauh dari diri kita, keberadaan kita, keseharian kita, dekat sekali – nenten doh, paek sajan – kata tetua Bali.

Alam senantiasa menyiratkan pesan purba nun filosofis, membabarkan di depan mata kita semesta makna, yang tidak hanya bisa dilihat, diraba, dirasa, dicium baunya, tetapi juga dibaca, dipikirkan, direnungkan, dimaknai, dibathinkan dalam hening.

Kadang kita alpa belajar dari alam, sesuatu yang paling dekat. Terlalu jumawa manusia ini, menggurui alam, memunggungi alam, mengubah alam, hanya karena merasa punya pikiran yang canggih.

Kita juga bangga, belajar pikiran-pikiran besar para filsuf nun jauh di sana. Kita mencari ‘air spiritual’ pelega dahaga bathin nun jauh di sana. “Yang jauh di sana selalu lebih megah dari yang disini”. Begitu kebiasaan kita. Saya tidak belajar dari yang jauh di sana, tetapi yang dekat di sini. Sangat dekat, bahkan ia adalah aku!

Mari kita renungkan, adakah yang lebih ikhlas dari pertiwi – tanah? Adakah yang lebih nrimo daripada tanah? Pesan filosofis purba apa yang bisa kita singkap dari tanah? Bukankah kita menyebut ‘rumah’ bangsa kita ini tanah air?
Ada apa dengan tanah? Cukupkah tanah dibaca sebatas menghasilkan rupiah dengan cepat? Bukankah tanah memicu sumber konflik? Bukankah tanah dipergunjingkan oleh para pencari kuasa bangsa ini? Sudahkah mereka belajar dari tanah? Ada pertanyaan lagi? Cukup sampai di sini dulu.

Peradaban bathin dan spiritual Bali, sangat dekat dengan tanah sebagai sumber kehidupan. Tanah seolah menjadi guru spiritual mereka yang ‘diam’. Mereka selalu menyisakan kesadaran untuk menjaga keseimbangan, siklus alam, dengan sangat apik.

Cobalah simak ritual-ritual mereka, mantra-mantra mereka, seha-seha mereka, tidak jauh-jauh dari rasa syukur kepada semesta: ibu purba kita.

Bathin spiritual mereka, diperkaya kosa kata-kosa kata kosmik. Mereka tidak memperlakukan alam sebagai obyek, melainkan sebagai subyek. Mereka membiarkan alam hening sejenak – dalam waktu sehari (Nyepi) – memperbaiki raganya yang tercemar.

Tetua kita belajar, betapa alam punya cara sendiri menyembuhkan diri. Tak perlu dokter pikiran. Cukup jeda, di titik hening, nol, kosong, sipeng!

Begitu pula tanah – pertiwi, mengajarkan kita apa itu ikhlas – filsafat keikhlasan. Ada keikhlasan dalam unsur yang kasar. Bukan hanya di unsur yang halus. Kekasaran dan keikhlasan berhubungan sangat dekat.

Tanah tak pernah meminta jenis akar yang tumbuh, tanah tak pernah meminta jenis air yang meresap, tak pernah meminta jenis manusia yang dikubur, tak pernah jua meminta jenis makhluk renik yang berumah di dalamnya.

Coba kita buka lagi lembar-lembar teks Jawa Kuna khususnya bergenre tutur atau tatwa, di sana tanah dikisahkan sebagai unsur paling kasar dalam lingkar panca maha bhuta. Sebut saja yang paling halus adalah ether. Karakternya berada di puncak, meresapi semuanya, namun ia tidak diresapi apapun itu. Ether hanya punya satu kualitas halus: bunyi. Unsur yang halus, memiliki kualitas yang halus pula.

Memang teori-teori penciptaan dalam teks Jawa Kuna yang dipengaruhi filsafat Nyaya, Waisesika dan Sankhya, ada penjenjangan vertikal unsur-unsur materiil dari yang halus sampai kasar dengan kulitas masing-masing. Di sana disebutkan yang halus selalu meresap ke dalam yang kasar.

Menariknya, semakin kasar, justru memiliki kualitas yang lebih komplit. Sebagai unsur kasar, tanah disebut tidak meresapi apapun, tapi ia diresapi oleh apapun: air, udara, api, gas. Ia berada di dasar. Tidak seperti ether, air, dan api, tanah memiliki lima kualitas sekaligus: bunyi, sentuhan, bentuk, bau, dan rasa. Berbeda dengan ether yang hanya memiliki satu kualitas.

Di titik ini, tanah ibarat “rumah” segala asas, istana segala kualitas unsur-unsur halus. Tanah adalah ruang keragaman, kebhinekaan, keanekaan, tempat segala sesuatu yang plural. Tanah menerima segala unsur halus di dalamnya dengan sangat ikhlas. Di dalam dan di atas tanahlah segala sesuatu tumbuh, menumpuk.

Patimbhunan tatwa kabeh – begitu teks Dharma Patanjala. Ikang prthivitattva ya patimbunan ing tattwa kabeh”, begitu teks tutur lain menyebutnya. Tanah adalah tempat sarwa tatwa tumbuh sangat subur.

Meski ia disebut asas atau unsur yang paling kasar, tetapi tanah punya sifat menerima peresapan-peresapan unsur yang lebih halus darinya. Ia seolah tidak ‘punya sifat’ meresapi, tetapi ditakdirkan untuk menerima peresapan. Sifat menerima inilah yang bisa kita berikan kepada tanah.

Justru di dalam sifat menerima itulah, ia memiliki kualitas yang jamak – sarwa tatwa. Jika dibaca dengan perenungan, sebenarnya dari tanahlah kita bisa belajar banyak tentang kebhinekaan, keragaman, menumbuhkan sikap nrimo, ikhlas atas apapun yang meresapinya.

Jika memang di dalam raga sarira ini memiliki unsur pertiwi atau tanah di dalamnya, bukankah teks filosofis berjudul tanah itu sangat dekat dengan diri kita? Bahkan diri kita itu sendiri?

Mengapa kita lupa membaca dan memaknainya, atau belajar ikhlas darinya? Atau memang kesadaran kita cenderung ke puncak, ke atas, ke yang sangat halus dari yang halus? Ke yang jauh di sana? Padahal yang halus dari yang halus, ikut berumah di tanah.

Sekian, hormat dan pujaku pada pertiwi………..

Tags: filosofiHari Raya Nyepihindurenungan
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Next Post

Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co