5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Putu Lilik Surya Ariani by Putu Lilik Surya Ariani
March 3, 2019
in Khas
Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Melasti Desa Pakraman Buleleng, Minggu 3/3/2019 (Foto: Rika/Koran Buleleng)

Saat melintas di Jalan Gajah Mada, Delod Peken, Kelurahan Kendran, Singaraja, Minggu (3/4/2019) sore, tak  sengaja berpapasan dengan rombongan krama Desa Pakraman Buleleng yang sedang melakukan upacara melasti serangkaian Perayaan Hari Raya Nyepi.

Karena malas menunggu krama yang mengular berakhir, saya memilih mengambil jalan alternative sedikit memutra lewat Banjar Jawa agar sampai ke Banyuning, karena sudah ditunggu ibu-ibu arisan.

Tapi yang mau saya bahas bukan soal arisan atau macet, melainkan tradisi Melasti di Buleleng yang mengalami ‘pergeseran tampilan’. Sebenarnya tulisan ini adalah kerinduan saya ikut upacara melasti. Saya yang lahir dan hingga kini berstatus anak dua di Buleleng, masih ingat betul bagaimana tradisi Melasti di Buleleng dari era sembilan puluhan.

Pergeseran tampilan yang saya maksudkan bukan soal esensi upacara, tatanan upacara, bebantenan atau menyoal ritual lainnya. Namun lebih ke tampilan fashion krama pemedek yang mengikuti upacara Melasti. Menurut saya, tampilan fashion krama saat melasti saat ini lebih ramah, simpel dan saling mengerti sesama. Untuk ikut ritual Melasti, krama desa terutama krama istri (anak-anak putri, remaja putri, ibu-ibu dan nenek-nenek) kini tak usah mengeluarkan kamen (kain) songket kebanggaannya yang disimpan di lemari. Tak perlu juga ke salon untuk sekedar memasang make up dan sanggul.

Kenapa demikian?

Mari kita kenang ritual Melasti sebelum tahun 2000-an. Dulu krama desa di Buleleng khususnya terutama krama istri sangat menanti-nanti ritual Melasti. Ibu-ibu dan remaja putri biasanya menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum melasti. Terutama persiapan baju kebaya, kamen songket yang akan digunakan lengkap dengan sandal dan booking salon untuk berhias.

Dulu upacara Melasti boleh dikatakan sebagai kesempatan krama istri untuk bersolek. Berbeda dengan saat ini, remaja dan ibu-ibu bisa pasnag alis sendiri setiap saat di rumah lengkap dengan blush on, eyeshadow dan gincu sesuai selera. Dulu mah ibu-ibu jarang bisa berias, sehingga saat odalan dan Melasti harus booking salon kecantikan dulu.

Melasti juga pada masa itu dijadikan ajang untuk unjuk diri, menunjukkan status sosial masyarakat. Dadya saya yang kebetulan ada di Banjar Tegal, masuk wilayah Desa Pakraman Buleleng. Jadi saat upacara Melasti yang ikut bareng nyuciang bhatara meliputi wilayah wewengkon Desa Pakraman Buleleng yang diempon oleh 14 Banjar Adat. Bisa dibayangkan berapa jumlah krama yang terlibat tumpah ruah ke jalan.

Yang menjadi pemandangan dan dinanti-nanti adalah pertunjukaan krama istri yang saling pajegegin (beradu cantik) dengan kain songket, perhiasan emas dan riasan make up dan kepala lengkap dengan bunga emas dari salon terbaik. Keluarga yang lebih berada biasanya memiliki kesempatan untuk menunjukkan diri melalui anak gadis dan istri mereka dari pakaian yang dikenakan. Maklum saja kain songket dan perhiasan emas harganya cukup mahal, keluarga yang kurang mampu jelas tak bisa membelinya.

Remaja putri dan ibu-ibu pun rela kaki mereka lecet datang dari Melasti karena menggunakan kain songket dengan benang emas yang keras. Selain itu ritual melasti ini juga dilakukan dengan berjalan kaki cukup jauh dari Pura Desa Pakraman Buleleng menuju Pura Segara di kawasan eks Pelabuhan Buleleng.

Namun apalah arti lecet yang bisa sembuh dibandingkan dengan kepuasan melasti menggunakan songket. Tak jarang, karena dilakukan pada Purnama Kadasa, ritual Melasti di Desa Pakraman Buleleng diiringi hujan deras. Hal itu pun dulu tak jarang membuat kain songket dan riasan make up blobor (luntur) karena tak boleh kena air.

Namun tontonan yang dapat mendatangkan wisatawan itu belakangan setelah tahun millennium semakin jarang terlihat dan kini bahkan tak ada sama sekali. Dari ribuan krama yang mengular ikut Melasti, Redite Paing Matal, Minggu (3/3) hampir tak ada krama yang ngiringan Ida Bhatara menggunakan kain songket.

Krama terlihat tampil sangat sederhana, dengan balutan kebaya mendominasi warna putih dan kuning dipadukan dnegan kain endek di bagian bawah. Meskipun saya yakin ada beberapa harga kain kebaya yang dikenakan krama harganya mahal hingga jutaan. Tak ada riasan wajah dan kepala yang mencolok. Meskipun ada paling mereka berias sendiri di rumah atau minta bantuan salon untuk riasan sederhana.

Pergeseran tampilan ini bagi saya berimplikasi pada beberapa hal, ada sisi positif dan juga negatifnya. Pergeseran tampilan yang bermula dari edaran PHDI yang mengatur tata busana persembahyangan bagi ternyata sangat efektif menghilangkan kesenjangan sosial. Dengan berpakaian warna senada dan tak berlebihan, mengaburkan strata masyarakat dari sei ekonomi.

Dengan begini tidak ada lagi krama yang merasa malu, minder dan berkecil hati, karena tak memiliki songket, perhiasan emas dan kebaya bagus saat Melasti. Hal itu juga membuat pikiran krama terfokus mengikuti ritual keagaman yang jauh dari pengaruh material. Ya lebih meminimalisir percakapan ibu-ibu dan remaja putri menyoal kebaya, songket dan perhiasan emas yang mereka pakai, beli dimana dan harga berapa.

Namun dampak negatifnya mungkin ada pengaruhnya terhadap pengerajin tenun songket yang ada di Kabupaten Buleleng. Dengan perkembangan mode dan fashion saat ini, hasil kerajinan tenun yang dikerjakan berbulan-bulan untuk menghasilkan kain songket minim pembeli. Kain songket yang terkesan barang mewah dan mahal hanya digunakan di waktu tertentu semakin tergerus dengan batasan penggunaan busana ke pura saat ini.

Meski begitu, tantangan itu bisa dijadikan pelecut pengerajin untuk mengupdate karyanya dengan model dna motif yang mengesuaikan dengan trend terkini. Seperti inovasi kain songket yang mulai merambah dunia fashion dan kerajinan tangan lainnya, justru peluangnya juga sangat luas. [T]

Tags: Hari Raya Nyepikain tradisionalMelastiPerempuan
Share182TweetSendShareSend
Previous Post

Menulislah Sebelum Kamu Ditulis di Batu Nisan

Next Post

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Putu Lilik Surya Ariani

Putu Lilik Surya Ariani

Wartawan, ibu dua anak, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Buku “Merayakan Ingatan”: Belajar Menjadi Manusia dari Seorang Dokter

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co