25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Lontar “Lelanang” & “Pangrapet”, Memperbesar & Mempersempit – Catatan Penyuluh Bahasa Bali 2017

Suka Ardiyasa by Suka Ardiyasa
February 2, 2018
in Feature

Bagian dari lontar "Lelanang"

 

JIKA tidak ada Penyuluh Bahasa Bali di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, mungkin banyak “masa lalu” yang terkubur begitu saja tanpa kita sempat mempelajarinya. Sebab, sejak ditugaskan tahun 2017 ini, mereka melakukan tugas-tugas yang sebelumnya hanya diomongkan banyak orang di Bali, tapi sedikit orang yang mengerjakannya.

Selain melakukan penyuluhan Bahasa Bali ke desa-desa, para penyuluh yang tak kenal lelah itu juga melakukan tugas mulia yang memang jarang dilakukan secara massal dan bersama-sama, yakni “menggali masa lalu” dengan mengumpulkan cerita-cerita rakyat dari desa-desa di Bali, mendokumensikan dalang dan melakukan identifikasi sekaligus konservasi lontar.

Apa saja yang mereka dapatkan? Wah, sangat mengejutkan.

531 Legenda/Cerita Rakyat

Hingga penghujung tahun 2017 Penyuluh Bahasa Bali berhasil mendokumentasikan 531 legenda di Bali.Legenda dan cerita rakyat itu digali dari desa-desa di Bali, baik desa yang sudah terkenal maupun desa yang terpencil.  Itu hasil yang cukup mengejutkan.

Keberadaan sebuah tempat atau pun desa di Bali memang selalu dikemas menjadi cerita rakyat yang memiliki nilai sejarah. Kemasan cerita rakyat ini dirasa baik untuk perkembangan generasi berikutnya, karena cerita rakyat dituturkan secara turun menurun.

“Cerita rakyat itu penting untuk membentuk karakter generasi berikutnya,” kata I Made Taro.

Pakar cerita rakyat dan permainan tradisional Bali itu memang berkali mengatakan bahwa nilai-nilai dalam cerita rakyat itu sangat membantu orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Contohnya di dalam cerita rakyat setiap hal dituturkan dengan detail, misal menceritakan karakter seseorang yang kurang baik atau pun menggambarkan karakter orang yang bijak. Alur dalam cerita rakyat dikemas dalam bentuk legenda, sehingga tempat-tempat di Bali memiliki sejarah terjadinya.

Dokumentasi legenda dan cerita rakyat dari desa-desa di Bali

Rencananya, dalam program jangka panjang, Penyuluh Bahasa Bali akan mengumpulkan cerita rakyat itu untuk dibukukan. Jika ada dana akan dicetak dan disebarluaskan.

Terkumpulnya cerita rakyat ini merupakan kerja keras dari masing-masing penyuluh yang bertugas di seluruh pelosok desa di Bali.

“Lelanang” dan “Pangrapet”

Waktu mencatat semua peristiwa, waktu pula yang membiarkan dirinya untuk menceritakan apa yang diinginkannya. Seperti halnya lontar Usana Bali dan Babad Gumi, keduanya menceritakan Bali pada kurun waktu 10 masehi ke atas. Bahkan catatan-catatan gempa, erupsi Gunung Agung, juga ditulis dalam Usana Bali.

Lontar-lontar semacam itu berhasil dikonservasi oleh para Penyuluh Bahasa Bali yang biasa dijuluki “tukang gebeg lontar” ke rumah-rumah warga. Selain lontar Usana Bali dan Babad Gumi, poara penyuluh juga menemukan sejumlah lontar yang tak mereka duga.

Seperti penjelasan Koordinator Bidang Lontar Penyuluh Bahasa Bali Ida Bagus Ari Wijaya, lontar-lontar yang berhasil diidentifikasi di tahun 2017 sebanyak 7 ribuan, sementara yang sudah dikonservasi sekitar 5 ribuan.

Rinciannya, lontar-lontar yang telah diidentifikasi di Kabupaten Buleleng sebanyak 819 Cakep, Kabupaten Gianyar 2.412 cakep, Kabupaten  Karangasem 1218 cakep, Kabupaten Klungkung sebanyak 270 cakep, Kabupaten Jembrana sebanyak 159 cakep, Kabupaten Tabanan sebanyak 901 cakep, dan Kabupaten Bangli Sebanyak 110 cakep.

Jadi, jumlah keseluruhan lontar milik masyarakat yang telah teridentifikasi sebanyak 7021 cakep. Semua lontar itu sudah tersusun dalam Katalog Lontar.

Banyak hal menarik dan cukup mengejutkan yang ditemukan saat penyuluh melakukan konservasi, selain lontar tentang membaca Bali dalam kurun waktu ribuan tahun silam.

Misalnya ditemukan lontar yang membahasa khusus tentang “lelanang” yang isinya tentang memperbesar, memperpanjang alat vital dan mengobati penyakit laki-laki lainnya.

Ada juga lontar “pangrapet” yang isinya tentang cara membuat organ intim perempuan agar terasa seperti perawan kembali.

Bagian dari lontar “Lelanang”

Menurut Ida Bagus Ari Wijaya, selain lelanang dan pengrapet juga banyak ditemukan tentang kesehatan organ intim dan resep-resep kecantikan.  “Resep-resep kesehatan dan kecantikan juga banyak,” katanya.

Ditemukannya lontar yang membahas masalah-masalah “kelelakian” dan “keperempuan” itu membuktikan bahwa para orang-orang tua kita sesungguhnya sudah terbuka terhadap masalah-masalah seksual, terutama mengenai kesehatan organ intim.

Hanya mungkin karena khawatir lontar-lontar semacam itu dipelajari oleh anak yang belum cukup umur, atau khawatir diterapkan dengan cara yang salah, lontar-lontar semacam itu “dismpang” di tempat yang “sangat aman” sehingga tidak begitu populer di Bali.

Artinya, resep-resep dalam lontar itu kalah populer dengan obat-obatan modern yang kini banyak diiklankan secara vulgar di media massa. Padahal, jika dikembangkan secara benar, mungkin kita di Bali punya ramuan organik yang lebih aman untuk kesehatan organ-organ seksual.

Rencannya, untuk program ditahun 2018, disamping masih terus melakukan identifikasi dan konservasi lontar miliki masyarakat juga akan dilanjutkan dengan program menerjemah berbagai lontar yang penting hasil temuan di masyarakat. Lontar-lontar yang diterjemahkan adalah lontar-lontar miliki masyarakat yang isinya penting bagi masyarakat Bali.

Jika ditanyakan kepada warga: apakah lontar “lelalang” dan “pengrapet” itu penting untuk diterjemahkan? Yakin, jawabannya pastinya banyak yang mengangkat tangan setuju lalu bilang “Itu pentiiiiiing!”

“Out Bon Mabasa Bali”

Menurunnya minat generasi muda dalam menggunakan bahasa Bali merupakan tantangan tersendiri bagi Penyuluh Bahasa Bali. Dibutuhkan berbagai strategi dalam upaya pengajaran bahasa Bali kepada anak-anak agar mereka mau tertarik mempelajari dan menggunakan bahasa Bali.

Salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah konsep “malajah sambil maplalian” atau dalam era kekinian mungkin bisa disebut sebagai Out Bon Mabasa Bali agar terdengar keren oleh anak anak. Kegiatan belajar ini dilakukan di lapangan secara bersama-sama.

Sambil bermain mereka sambil belajar cara mengeja kata dengan  aksara Bali dengan cara menempelkan berbagai aksara Bali dipapan yang sudah di buat khsusus, mengenal istilah-istilah dalam bahasa Bali hingga upaya mengasah keterampilan berbicara dengan menggunakan bahasa Bali.

Kegiatan Out Bon Bahasa Bali

Hal ini dirasa sangat efektif dan mampu menjawab tantangan akan susahnya mengajar bahasa Bali pada generasi muda. Karena dalam proses pembelajaran, disamping mereka harus menguasai bahasa Bali mereka juga dituntut untuk konsentrasi agar tidak kalah dalam melakukan permainan yang sudah dikemas oleh Penyuluh Bahasa Bali.

Di seluruh Bali telah terbentuk 1.846 kelompok belajar dengan jumlah peserta sebanyak 64.915 Orang. Jika semua kelompok belajar tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan standar dan silabus yang telah tersusun maka  dapat dipastikan anak-anak yang tergabung dalam kelompok-kelompok belajar tersebut  telah mendapatkan pelajaran bahasa Bali dengan intensif.

  • Kegiatan Out Bon Bahasa Bali bisa ditonton selengkapnya di Kompas TV

Di samping tiga program unggulan tersebut, Penyuluh Bahasa Bali juga sudah merampungkan program lainnya seperti pembinaan kepada semua lapisan masyarakat mulai dari krama istri (ibu ibu PKK), Sekaa Truna-Truni hingga anak-anak yang dilakukan secara rutin.  Disamping itu penyuluh Bahasa Bali juga memetakan penggunaan aksara Bali  di dalam ranah publik seperti penggunaan aksara Bali dalam plang papan nama.

Dari hasil pemetaan  plang  papan nama yang ada di seluruh Bali  tercatat jumlah plang papan nama yang masih beraksara Bali sejumlah  5.348 buah sedangkan yang tidak beraksara Bali  sejumlah 5.093 buah.  Hasil pemetaan tersebut menggambarkan  belum adanya kesadaran dan militasi masyarakat Bali dalam penggunaan aksara Bali di ranah publik, di samping itu tidak adanya aturan  (Perda) yang  pasti mengatur tentang penggunaan aksara Bali ranah publik membuat adanya kelonggaran masyarakat untuk tidak memakai Aksara Bali di ranah-ranah publik.

Seharusnya kita berkaca dari negara negara maju seperti Jepang, Tahiland yang masih menggunakan aksaranya sendiri dalam tulisan tulisan yang digunakan dipublik. Mudah mudahan hasil pemetaan ini bisa dijadikan rujukan untuk pemerintah Daerah dalam membuat regulasi yang dapat mengatur penggunaan aksara Bali di ranah Publik.

Dokumnetasi Dalang

Tahun 2017 Penyuluh Bahasa Bali juga mendokumentasikan Dalang yang ada seluruh Bali dengan membuat biografi singkat tentang keberadaan para Dalang tersebut. Dipilihnya Dalang sebagai salah satu objek yang didokumentasikan sangat beralasan sebab, Dalang merupakan orang yang secara konsisten melestarikan bahasa Bali di masyarakat melalui pementasan wayang yang dibawakannya. Sangat tidak mungkin  jika seorang Dalang tidak menguasai Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

Kumpulan dokumentasi dalang dari desa-desa di Bali

Dari hasil dokumentasi yang dilakukan oleh Penyuluh Bahasa Bali terdapat 320 orang Dalang  diseluruh Bali yang sudah dibuatkan biografi singkatnya. (T)

Tags: Aliansi Peduli Bahasa BaliBahasa BaliBudayakebudayaanSeksualitas
Share3706TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Tunjung Tutur Danau Tamblingan

Next Post

Kaleidoskop Mahasiswa “Pejuang Taliban”: Akhirnya Lulus Juga!

Suka Ardiyasa

Suka Ardiyasa

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, dosen, pecinta lingkungan. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails
Next Post

Kaleidoskop Mahasiswa “Pejuang Taliban”: Akhirnya Lulus Juga!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co