23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Feature

Foto-foto: Eka Prasetya

KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk lesehan di anak tangga. Tak sedikit yang memilih berdiri, atau bersandar di tembok pembatas jika sudah terlalu lelah berdiri.

Sekaa Topeng Tugek Carangsari_1Malam itu, Jumat 19 Agustus 2016, ratusan penonton rela berdesak-desakan untuk menyaksikan pementasan dari Komunitas Seni Tugek, yang bermarkas di Desa Carangsari, Kecamatan Petang. Malam itu begitu istimewa, karena para pemain yang naik panggung adalah para sesepuh di Sekaa Topeng Tugek. Mereka adalah Gusti Ngurah Windia (pemeran topeng tugek), Dayu Sugi, Nyoman Kanda, dan Gusti Made Gempur.

Komunitas Seni Tugek sebenarnya sudah kenyang dengan pengalaman jam terbang. Mereka pernah tampil pada Pesta Kesenian Bali 2015 dalam parade topeng panca, dan kembali hadir saat Pesta Kesenian Bali 2016 dalam lomba bondres. Namun kala itu para pemainnya adalah generasi muda, pewaris topeng tugek.

Malam itu pada acara Bali Mandara Mahalango III Tahun 2016, Komunitas Seni Tugek sengaja kembali diberikan tempat. Namun dengan catatan, pemainnya adalah para sepuh. Legenda hidup yang masih bertahan dan berkesenian di komunitas tersebut. Mereka menepati janjinya. Gusti Ngurah Windia, Dayu Sugi, Nyoman Kanda, dan Gusti Made Kempur, kembali naik panggung.

Tampil di hadapan ratusan penonton selama 2,5 jam penuh. Kebanyakan adalah masyarakat paruh baya yang juga fans setia topeng tugak. Mereka begitu rindu menyaksikan the living legend kembali tampil di atas panggung. Citra lucu dari para pemain masih melekat. Tawa terus muncul selama mereka tampil. Wibawa para pragina masih begitu kuat. Penonton dibuat bertahan menyaksikan pertunjukan. Waktu 2,5 jam pun terasa begitu singkat.

Topeng Tugek memang begitu legendaris. Tokoh topeng perempuan (yang ditarikan laki-laki) diperkirakan lahir pada tahun 1965 silam. Itu berarti usia topeng itu kini telah menginjak usia 51 tahun. Tatkala tokoh topeng tugek diciptakan, Gusti Ngurah Windia sang penari topeng tugek, baru berusia 20 tahun. Itu artinya sang penari sekarang sudah berusia 71 tahun.

Walau baru diciptakan pada tahun 1965, topeng tugek langsung melesat ketenarannya pada tahun 1970. Topeng ini menjadi pembicaraan di desa-desa. Bukan hanya di wilayah Badung Utara, namun di saentero Bali. Selama satu dasa warsa, sejak era 1970-an hingga era 1980-an, Topeng Tugek terus berkeliling Bali, bahkan hingga ke Los Angeles, Amerika Serikat.

Memainkan Beragam Topeng

Satu hal patut dicatat dari Topeng Tugek Carangsari adalah kepiawian mereka memainkan banyak peran dan karakter. Topeng Tugek-lah yang memperkenalkan sejumlah karakter unik dalam seni petopengan dan bebondresan yang kini terus berkembang.

Antara lain, Topeng Tugek memperkenalkan sekaligus menghidupkan karakter perempuan (yang terkenal dengan nama Tugek atau Luh Manik), karakter orang tuli yang mengundang kelucuan dengan segala bentuk miskomunikasinya, dan karakter orang dengan anatomi wajah berantakan serta artikulasi yang juga berantakan. Dalam seni pertunjukkan di Bali, karakter itu biasa disebut karakter kerakyatan.

Karakter-karakter itu biasanya dimainkan oleh satu pemain.  Mereka – karakter rakyat dengan berbagai keunikan itu, muncul ketika cerita masuk pada babak di mana sebuah kerajaan menyelenggarakan upacara keagamaan. Rakyat satu persatu keluar untuk ngayah ke puri (istana).

Sebelum masuk puri, terjadi dialog antara punakawan Punta-Wijil dan rakyat dengan beragam karakter. Di situ terjadi dialog lucu. Bukan sekadar lucu, karena di dalam dialog itu kerap terkandung falsafah hidup bermasyarakat sekaligus otokritik dan kritik terhadap berbagai hal termasuk kritik terhadap kekuasaan. Bagian itulah yang disebut bebondresan. Dalam seni pertunjukkan di Jawa, bagian itu biasa juga disebut goro-goro.

Yang menarik, sekali lagi, peran rakyat dengan berbagai karakter itu biasanya diborong oleh satu pemain dengan berganti-ganti topeng. Beda dengan sekarang, seni pertunjukkan yang disebut bondres dimainkan oleh banyak pemain dan setiap pemain hanya memegang satu karkater atau hanya memainkan satu topeng.

Meski tak sebanyak peran yang dimainkan sekitar tahun 1970-an, saat acara Bali Mandara Mahalango di Taman Budaya, Sekaa Topeng Tugek ini juga menerapkan hal yang sama. Dengan empat orang personil saja, mereka harus bisa memainkan enam peran sekaligus. Meski rata-rata sudah berusia lanjut, keempatnya masih bisa membagi peran dengan apik. Mereka berhasil menjaga kekuatan fisik, sehingga bisa tampil secara bergantian dalam durasi yang cukup panjang.

“Beliau-beliau ini masih kuat menari, seperti dulu waktu tahun 1970-an waktu topeng tugek sedang tenar-tenarnya. Suaranya masih sama, taksunya juga terjaga. Memang kalah di fisik. Tapi saya juga nggak nyangka bisa sampai selama ini pentasnya,” ucap Gusti Ngurah Artawan, sang pewaris kesenian, sekaligus Koordinator Komunitas Seni Tugek.

Mempertahankan Gaya Carangsari

Artawan yang lebih akrab disapa Gung Tut mengaku sengaja meminta agar Komunitas Topeng Tugek kembali mendapat tempat malam itu. Permintaan itu disampaikan langsung kepada Dinas Kebudayaan Bali. Alasannya banyak penggemar-penggemar dari generasi 80-an hingga 90-an yang berharap bisa kembali menyaksikan penampilan penari-penari sepuh. Harapan itu acap disampaikan kala Komunitas Topeng Tugek tampil saat Pesta Kesenian Bali.

Sekaa Topeng Tugek Carangsari_4Dengan semangat nostalgia kembali, sekaligus mengobati kerinduan para penggemar, Gustut akhirnya memohon agar para penari sepuh bisa kembali pentas. Tak perlu waktu lama untuk mempersiapkan pementasan malam itu. Cukup dua kali pertemuan saja. Keahlian dalam memainkan seni pertunjukan klasik mereka tunjukkan kepada khalayak. Meski berusia sepuh, mereka ingin menunjukkan bahwa legenda topeng tugek tidak akan pernah mati, dan harus terus teringat.

Malam itu, mereka menutup pementasan dengan standing aplause dari penonton. Malam itu, kisah penampilan topeng tugek yang begitu melegenda seperti yang terjadi 20 tahun silam, kembali terulang. (T)

Tags: baliSeniseni pertunjukantopeng
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Buang Bukumu Ambil “Gadget”-mu

Next Post

Idealisme, Politik dan Lain-lain – Obrolan Mewah di Warung Desa

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
0
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
0
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

Read moreDetails

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
0
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails
Next Post

Idealisme, Politik dan Lain-lain - Obrolan Mewah di Warung Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co