2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Kebersamaan Lewat Tradisi Perang

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: koleksi penulis

TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magibung, mebat, perang tipat, dan lain-lain. Tanpa keterpaksaan, masyarakat Bali masih tetap gencar menggelar tradisi-tradisi itu dengan riang gembira.

Salah satunya, tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem. Tradisi Perang Pandan tentu saja bukan perang sesungguhnya, melainkan lebih sebagai sebuah ritual dari masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. Tradisi itu senantiasa menyedot perhatian masyarakat pengusungnya serta mendapat perhatian besar dari pengunjung luar daerah. Mereka tidak hanya sedang menjaga tradisi, melainkan juga sedang memupuk rasa kebersamaan antarwarga. Kebersamaan di dunia nyata — di dunia nyata yang sedang gaduh oleh media sosial dunia maya.

Menjaga kebersamaan melalui tradisi perang tentu saja unik. Keunikan memang jadi ciri khas masyarakat di Desa Tenganan Pegringsingan. Meski disebut perang, tapi tak ada pedang, tak ada pisau belati. Apalagi bedil. Senjata yang digunakan hanya pandan berduri. Makanya disebut Perang Pandan atau biasa juga disebut Makare-kare. Mereka berperang dengan pandan, tanpa rasa marah, tanpa permusuhan. Mereka bermain, bercanda, lebih banyak saling rangkul, saling peluk.

Tidak mudah menjaga tradisi itu. Diperlukan kesadaran dan ketekunan agar tradisi itu terus bisa terlaksana. Terlebih di era digital, kehadiran tradisi bisa dengan mudah tenggelam. Namun, tidak begitu dengan masyarakat Tenganan.  Tradisi Perang Pandan selalu digelar, selalu jadi perhatin. Apalagi acara itu dianggap juga sebagai persembahan bagi Dewa Indra.

Deretan Pandan Berduri

Saat Hari Saraswati, Sabtu, 25 Juni 2016, merupakan hari kedua Perang Pandan di Tenganan. Di sekitar panggung yang menghadap ke bale pemujaan tampak sudah tersedia ikatan-ikatan pandan duri. Pandan duri itu berjejer, disusun sedemikian rupa. Pengunjung mencari tempat nyaman dan tepat untuk menyaksikan ritual adat itu. Sejumlah pengunjung menyiapkan alat rekam gambar. Sejumlah yang lain mencari tempat teduh. Ada pula pengunjung yang sudah siap ikut berpartisipasi sebagai peserta perang.

Deretan Pandan Duri
Deretan Pandan Duri

Di bale penyambutan, beberapa daha mempersiapkan kudapan untuk tamu undangan dari desa tetangga. Tepat pukul 13.00 Wita, tamu datang. Dengan menggunakan kain tenun khas Tenganan, para daha menyambut para tamu. Ada yang menyajikan kopi, ada yang menyajikan kudapan berupa tipat, jaja uli, pisang, ketela rebus, dan sejenisnya.

Perang pandan dimulai dengan acara ngelawang. Acara ini diikut oleh daha dan truna.  Mereka beiring-iringan mengitari desa dengan iringan tetabuhan. Mengitari desa adalah simbol kehidupan yang terus berputar. Setelah dua kali mengitari desa, mereka siap menggelar acara. Tabuh khas Tenganan mengalun pelan dan khusuk. Para daha dengan riasan sederhana memadati bale pemujaan. Para truna dari Desa Tenganan sudah bersiap di sekitar panggung untuk “berperang”. Mereka menggunakan udeng kombinasi merah, hitam, dan putih.

Aksi Perang Pandan diawali para truna asli Tenganan. Mereka berhadap-hadapan, satu lawan satu. Mereka saling memukul dengan pandan duri. Mereka saling melindungi diri dengan perisai anyaman. Yang lengah, badannya terpukul ikatan pandan. Ada yang taka pa-apa, ada juga yang berdarah. Begitu seterusnya secara bergilir. Acara dilanjutkan oleh truna dari desa tetangga. Setelah itu, barulah diundang pengunjung yang ingin ngayah sebagai peserta.

Selama acara berlangsung peserta yang tampil tidak terlihat mengumbar marah, dendam, atau pun kesal. Sebelum mereka tampil, senyum tawa bahagia selalu ada. Saling merangkul, saling memeluk, dan menyapa. Beberapa dari mereka saling memberi dukungan. Beberapa dari mereka saling membantu menyiapkan kostum perang. Saat “perang” berlangsung mereka menebar tawa dan bahagia. Mereka bahagia dan bangga. Pengunjung tertawa dan terhibur. Pengunjung ikut larut dalam semangat ketika peserta tampil dengan penuh garang, tetapi tidak sembarang serang. Terlihat juga peserta yang tampil menari sebelum perang, ada pula mereka yang menyerah sebelum perang. Ada juga peserta yang terlalu bersemangat menyerang, sehingga harus dilerai.

Saling Pukul, Saling Rangkul
Saling Pukul, Saling Rangkul

Yang kalah atau menyerah tidak menyimpan amarah. Mereka tertawa dan duduk bersama. Setelah ritual selesai, mereka saling berpeluk dan berjabat tangan. Tidak ada dendam. Ini semua hanya bentuk persembahan ikhlas. Mereka juga makan bersama dan saling menggosokkan semacam ramuan ke peserta lain agar luka cepat pulih.

Peserta Perang Pandan kini tak hanya dilakukan masyarakat asli. Pengunjung yang berani dan berminat juga boleh mengikuti. Seperti Hare Yashuananda yang sudah berkali-kali mengikuti acara ini. “Modalnya hanya berani. Tidak saja itu, saya merasa terdorong untuk berpatisipasi. Walaupun saya bukan asli Tenganan, tetapi saya bersedia ngayah,” tuturnya.

Warisan Leluhur

Perang Pandan memang dilakukan para truna. Namun para daha sesungguhnya juga punya peran sangat penting. Para daha punya peran penting dalam mempersiapkan acara. Yang menarik, para daha keluar dengan pakaian khas, seperti memakai kemben khas Tenganan. “Ini merupakan cara kami untuk melestarikan warisan leluhur. Kami juga mempersiapkan sesajen dan kudapan untuk tamu undangan,” ujar Yuyun kepala seka daha.

Untuk peserta ritual Perang Pandan memang diperuntukan bagi truna yang sudah siap secara batin maupun fisik. Namun orang tua juga boleh ikut. Tidak ada batasan umur untuk acara ini. “Peserta tidak dibatasi usia, atau pun jumlah. Mereka yang ikut tentu harus matang secara fisik dan mental, serta niat berani untuk ngayah. Jika sudah terpenuhi, maka mereka boleh ikut,” ujar Wayan Arsana, pemuka adat Tenganan.

Penulis bersama para daha Tenganan
Penulis bersama para daha Tenganan

Pandan berduri digunakan sebagai alat ganti senjata perang atau pedang. “Kami berusaha agar tradisi ini akan tetap ajeg, karena penghormatan dan bakti kepada Dewa Indra didasari keyakinan yang ikhlas. Mereka yang ikut ngayah juga yakin, bahwa darah yang keluar merupakan wujud persembahan pada dewa. Terbukti, peserta semakin banyak, bahkan mencapai 160-an. Kami tentu berharap, tradisi seperti ini terus dilaksanakan. Siapa lagi yang akan menjaga tradisi ini kalau bukan kita? Banyaknya pengunjung yang datang dan peserta yang bertambah tentu menunjukkan bahwa tradisi Perang Pandan masih mendapat perhatian,” ujar Wayan Arsana. (T)

Tags: baliTradisi
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Ramadhan Nusantara – Geliat Pecinta Seni Arosbaya

Next Post

Bangun Literasi, Demi Bangsa Berbudaya

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post

Bangun Literasi, Demi Bangsa Berbudaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co