9 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Kebersamaan Lewat Tradisi Perang

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: koleksi penulis

TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magibung, mebat, perang tipat, dan lain-lain. Tanpa keterpaksaan, masyarakat Bali masih tetap gencar menggelar tradisi-tradisi itu dengan riang gembira.

Salah satunya, tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem. Tradisi Perang Pandan tentu saja bukan perang sesungguhnya, melainkan lebih sebagai sebuah ritual dari masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. Tradisi itu senantiasa menyedot perhatian masyarakat pengusungnya serta mendapat perhatian besar dari pengunjung luar daerah. Mereka tidak hanya sedang menjaga tradisi, melainkan juga sedang memupuk rasa kebersamaan antarwarga. Kebersamaan di dunia nyata — di dunia nyata yang sedang gaduh oleh media sosial dunia maya.

Menjaga kebersamaan melalui tradisi perang tentu saja unik. Keunikan memang jadi ciri khas masyarakat di Desa Tenganan Pegringsingan. Meski disebut perang, tapi tak ada pedang, tak ada pisau belati. Apalagi bedil. Senjata yang digunakan hanya pandan berduri. Makanya disebut Perang Pandan atau biasa juga disebut Makare-kare. Mereka berperang dengan pandan, tanpa rasa marah, tanpa permusuhan. Mereka bermain, bercanda, lebih banyak saling rangkul, saling peluk.

Tidak mudah menjaga tradisi itu. Diperlukan kesadaran dan ketekunan agar tradisi itu terus bisa terlaksana. Terlebih di era digital, kehadiran tradisi bisa dengan mudah tenggelam. Namun, tidak begitu dengan masyarakat Tenganan.  Tradisi Perang Pandan selalu digelar, selalu jadi perhatin. Apalagi acara itu dianggap juga sebagai persembahan bagi Dewa Indra.

Deretan Pandan Berduri

Saat Hari Saraswati, Sabtu, 25 Juni 2016, merupakan hari kedua Perang Pandan di Tenganan. Di sekitar panggung yang menghadap ke bale pemujaan tampak sudah tersedia ikatan-ikatan pandan duri. Pandan duri itu berjejer, disusun sedemikian rupa. Pengunjung mencari tempat nyaman dan tepat untuk menyaksikan ritual adat itu. Sejumlah pengunjung menyiapkan alat rekam gambar. Sejumlah yang lain mencari tempat teduh. Ada pula pengunjung yang sudah siap ikut berpartisipasi sebagai peserta perang.

Deretan Pandan Duri
Deretan Pandan Duri

Di bale penyambutan, beberapa daha mempersiapkan kudapan untuk tamu undangan dari desa tetangga. Tepat pukul 13.00 Wita, tamu datang. Dengan menggunakan kain tenun khas Tenganan, para daha menyambut para tamu. Ada yang menyajikan kopi, ada yang menyajikan kudapan berupa tipat, jaja uli, pisang, ketela rebus, dan sejenisnya.

Perang pandan dimulai dengan acara ngelawang. Acara ini diikut oleh daha dan truna.  Mereka beiring-iringan mengitari desa dengan iringan tetabuhan. Mengitari desa adalah simbol kehidupan yang terus berputar. Setelah dua kali mengitari desa, mereka siap menggelar acara. Tabuh khas Tenganan mengalun pelan dan khusuk. Para daha dengan riasan sederhana memadati bale pemujaan. Para truna dari Desa Tenganan sudah bersiap di sekitar panggung untuk “berperang”. Mereka menggunakan udeng kombinasi merah, hitam, dan putih.

Aksi Perang Pandan diawali para truna asli Tenganan. Mereka berhadap-hadapan, satu lawan satu. Mereka saling memukul dengan pandan duri. Mereka saling melindungi diri dengan perisai anyaman. Yang lengah, badannya terpukul ikatan pandan. Ada yang taka pa-apa, ada juga yang berdarah. Begitu seterusnya secara bergilir. Acara dilanjutkan oleh truna dari desa tetangga. Setelah itu, barulah diundang pengunjung yang ingin ngayah sebagai peserta.

Selama acara berlangsung peserta yang tampil tidak terlihat mengumbar marah, dendam, atau pun kesal. Sebelum mereka tampil, senyum tawa bahagia selalu ada. Saling merangkul, saling memeluk, dan menyapa. Beberapa dari mereka saling memberi dukungan. Beberapa dari mereka saling membantu menyiapkan kostum perang. Saat “perang” berlangsung mereka menebar tawa dan bahagia. Mereka bahagia dan bangga. Pengunjung tertawa dan terhibur. Pengunjung ikut larut dalam semangat ketika peserta tampil dengan penuh garang, tetapi tidak sembarang serang. Terlihat juga peserta yang tampil menari sebelum perang, ada pula mereka yang menyerah sebelum perang. Ada juga peserta yang terlalu bersemangat menyerang, sehingga harus dilerai.

Saling Pukul, Saling Rangkul
Saling Pukul, Saling Rangkul

Yang kalah atau menyerah tidak menyimpan amarah. Mereka tertawa dan duduk bersama. Setelah ritual selesai, mereka saling berpeluk dan berjabat tangan. Tidak ada dendam. Ini semua hanya bentuk persembahan ikhlas. Mereka juga makan bersama dan saling menggosokkan semacam ramuan ke peserta lain agar luka cepat pulih.

Peserta Perang Pandan kini tak hanya dilakukan masyarakat asli. Pengunjung yang berani dan berminat juga boleh mengikuti. Seperti Hare Yashuananda yang sudah berkali-kali mengikuti acara ini. “Modalnya hanya berani. Tidak saja itu, saya merasa terdorong untuk berpatisipasi. Walaupun saya bukan asli Tenganan, tetapi saya bersedia ngayah,” tuturnya.

Warisan Leluhur

Perang Pandan memang dilakukan para truna. Namun para daha sesungguhnya juga punya peran sangat penting. Para daha punya peran penting dalam mempersiapkan acara. Yang menarik, para daha keluar dengan pakaian khas, seperti memakai kemben khas Tenganan. “Ini merupakan cara kami untuk melestarikan warisan leluhur. Kami juga mempersiapkan sesajen dan kudapan untuk tamu undangan,” ujar Yuyun kepala seka daha.

Untuk peserta ritual Perang Pandan memang diperuntukan bagi truna yang sudah siap secara batin maupun fisik. Namun orang tua juga boleh ikut. Tidak ada batasan umur untuk acara ini. “Peserta tidak dibatasi usia, atau pun jumlah. Mereka yang ikut tentu harus matang secara fisik dan mental, serta niat berani untuk ngayah. Jika sudah terpenuhi, maka mereka boleh ikut,” ujar Wayan Arsana, pemuka adat Tenganan.

Penulis bersama para daha Tenganan
Penulis bersama para daha Tenganan

Pandan berduri digunakan sebagai alat ganti senjata perang atau pedang. “Kami berusaha agar tradisi ini akan tetap ajeg, karena penghormatan dan bakti kepada Dewa Indra didasari keyakinan yang ikhlas. Mereka yang ikut ngayah juga yakin, bahwa darah yang keluar merupakan wujud persembahan pada dewa. Terbukti, peserta semakin banyak, bahkan mencapai 160-an. Kami tentu berharap, tradisi seperti ini terus dilaksanakan. Siapa lagi yang akan menjaga tradisi ini kalau bukan kita? Banyaknya pengunjung yang datang dan peserta yang bertambah tentu menunjukkan bahwa tradisi Perang Pandan masih mendapat perhatian,” ujar Wayan Arsana. (T)

Tags: baliTradisi
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Ramadhan Nusantara – Geliat Pecinta Seni Arosbaya

Next Post

Bangun Literasi, Demi Bangsa Berbudaya

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails
Next Post

Bangun Literasi, Demi Bangsa Berbudaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co